Cakndjojo: MEMOTRET TRANFORMASI SONGGORITI
Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Tulisan Cakndjojo yang berjudul “SONGGORITI” ini adalah sebuah catatan memori kolektif (memoar) yang sangat hangat dan kaya akan nilai sosiologis. Penulis berhasil memotret transformasi Songgoriti dari sebuah tempat bermain masa kecil yang lugu hingga menjadi kawasan wisata yang kompleks.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai tulisan tersebut:
*1. Kekuatan Narasi Nostalgia*
Cakndjojo sangat piawai dalam membangun suasana. Deskripsi tentang tradisi “jalan-jalan subuh” di bulan Ramadhan tahun 1960-an dari Masjid An Nuur ke Songgoriti bukan sekadar cerita perjalanan, tapi gambaran kebahagiaan sederhana masa lalu.
* Detail Ikonik: Penggunaan properti seperti “bundelan sarung” untuk pukul-pukulan dan “papan laker” (skuter tradisional) memberikan tekstur sejarah yang kuat pada tulisan ini. Ini adalah elemen yang akan membuat pembaca angkatan tersebut merasa terwakili.
*2. Perspektif Geografis dan Sosial*
Penulis secara jeli membedakan Songgoriti dalam dua wajah:
* Sisi Komersial: Hotel, homestay, dan pemandian resmi.
* Sisi Kerakyatan: Pancuran air panas tersembunyi yang gratis, tempat para “bocil” mandi telanjang bulat. Bagian ini menarik karena menyentuh aspek kesehatan masyarakat zaman dulu, di mana air belerang menjadi solusi murah untuk penyakit kulit (gudig).
*3. Jembatan Waktu (Sejarah dan Modernitas)*
Tulisan ini berhasil menghubungkan tiga lapisan waktu:
* Masa Klasik (Abad 9-10 M): Penyebutan Candi Songgoriti, Mpu Sindok, dan Mpu Supo memberikan bobot historis bahwa Songgoriti bukan sekadar tempat wisata, melainkan “titik mula” peradaban di Batu.
* Masa Kecil Penulis (1960-an): Masa keemasan bermain tanpa beban.
* Masa Kini: Penulis tidak menutup mata pada realita modern, termasuk isu keamanan di Jalur Klemuk yang sempat viral. Ini menunjukkan bahwa penulis adalah pengamat yang kritis terhadap perkembangan kotanya.
*4. Gaya Bahasa dan Estetika*
Gaya bahasa yang digunakan adalah kromo madyo yang santai, khas Malangan/Baturan.
* Diksi Local Genius: Penggunaan istilah seperti gemberudug, ndrawasi, dan bubuk memberikan rasa otentik yang tidak bisa didapatkan dari tulisan bahasa Indonesia formal.
* Rima yang Mengalir: Penulis sering menggunakan rima akhir (seperti pada paragraf tentang jalur Klemuk: remuk, melenggang, penghalang), yang membuat tulisan ini terasa seperti “prosa liris” yang enak dibaca lantang.
*Catatan Tambahan*
Sedikit masukan, transisi antara cerita masa kecil yang ceria menuju cerita kecelakaan di Jalur Klemuk terasa agak tajam (kontras).
Namun, hal ini bisa dimaknai sebagai cara penulis menunjukkan bahwa “Songgoriti yang dulu tenang kini telah berubah menjadi kawasan yang sibuk dan penuh risiko.”
*Kesimpulan:*
Tulisan ini adalah dokumen penting bagi literasi lokal Kota Batu. Cakndjojo berhasil mengemas sejarah, trauma (wabah penyakit), kebahagiaan, dan kritik sosial ke dalam satu narasi yang renyah dan jujur.
Sabtu Wage 17 Januari 2026
Akaha Taufan Aminudin
*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*
























