Setiap kali melihat keberhasilan orang lain, ada getar halus di dada. Kadang samar, kadang menghentak. Tanpa kita sadari, di sanalah benih-benih iri mulai tumbuh—merambat diam-diam di sela-sela rasa syukur yang mulai menipis.
Pernahkah Anda merasa risi melihat teman sekantor mendapatkan promosi? Atau sedikit tidak nyaman saat tetangga memamerkan barang baru? Jika ya, Anda tidak sendiri. Hampir setiap manusia pernah merasakannya. Pertanyaannya: apakah kita biarkan perasaan itu berlalu, atau justru kita pupuk hingga berakar menjadi dengki?
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sibuk menjaga kesehatan fisik dan mental, tapi sering lupa bahwa ada ruang paling halus dalam diri yang perlu dirawat: hati. Dan di sanalah, iri dan ego bersemayam, diam-diam menggerogoti kebahagiaan kita sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Iri: Racun yang Tak Pernah Menguntungkan
Dalam psikologi Islam, iri atau hasad bukan sekadar emosi biasa. Ia adalah kondisi batin di mana seseorang tidak rela melihat orang lain mendapat nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang. Ironisnya, ketika nikmat orang lain benar-benar hilang, pelaku iri tidak otomatis mendapatkannya. Yang ia peroleh hanyalah kelelahan batin dan dosa yang menggunung.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 54, “Atau hasadkah mereka kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya?” Ayat ini mengingatkan bahwa iri sejatinya adalah protes halus terhadap pembagian rezeki Allah.
Psikologi modern menyebut iri sebagai emosi sosial yang lahir dari perbandingan. Namun psikologi Islam melihat lebih dalam: iri adalah cermin lemahnya keyakinan bahwa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki.
Lalu, Apa Bedanya dengan Ghibthah?
Islam mengajarkan perbedaan halus namun fundamental. Ghibthah adalah keinginan memiliki kebaikan seperti orang lain, tanpa berharap nikmat itu hilang darinya. Dalam urusan dunia, ghibthah diperbolehkan. Dalam urusan akhirat, ia bahkan dianjurkan. “Hasad” iri yang tercela adalah yang disertai ketidaksukaan atas nikmat Allah pada saudaranya.
Mengapa Hati Mudah Iri?
Psikologi Islam mengidentifikasi beberapa akar penyakit ini:
- Kurangnya rasa syukur
Hati yang tidak terlatih bersyukur akan selalu merasa lapar. Berapa pun yang dimiliki, ia tetap melihat ke piring orang lain. Rasa syukur bukan berarti merasa cukup, tapi merasa bahwa apa yang Allah beri adalah yang terbaik untuk kita. - Lemahnya tawakal
Saat keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana mulai goyah, kita mudah cemas melihat keberhasilan orang lain. Kita lupa bahwa rezeki, jodoh, dan kebahagiaan sudah diatur dengan presisi Ilahi. - Ego yang tak terkendali
Inilah inti dari segalanya. Ego yang liar (ananiyah) membuat seseorang merasa paling pantas, paling berhak, dan paling layak. Ketika orang lain mendapatkan apa yang ia inginkan, egonya merasa terhina.
Ego: Akar Segala Penyakit Hati
Dalam keseharian, kita menyebut seseorang “egois” saat mereka hanya memikirkan diri sendiri. Tapi sesungguhnya, ego yang tak terkendali adalah penjara mental. Ia memenjarakan pemiliknya dalam ilusi bahwa dirinya pusat segalanya.
Dalam psikologi modern, ego yang terlalu dominan melahirkan narsisme dan superioritas palsu. Di balik topeng percaya diri yang tebal, tersimpan kerapuhan luar biasa. Orang dengan ego tak terkendali akan menolak kritik, menyalahkan orang lain, dan sulit mengakui kesalahan.
Dalam psikologi Islam, ego yang liar adalah tiruan sifat Iblis saat berkata “Ana khairun minhu” (Aku lebih baik darinya). Nafsu ammarah (yang mengajak pada keburukan) mengambil alih kendali, membuat hati keras dan sulit menerima nasihat.
Lingkaran Setan yang Merusak
Iri dan ego bekerja sama dalam lingkaran setan yang merusak:
- Egomembuat kita merasa paling berhak atas pengakuan dan keberhasilan
- Saat orang lain sukses, iri muncul karena ego terluka
- Iri memicu perilaku buruk: gunjing, fitnah, atau diam-diam bahagia melihat orang lain susah
- Perilaku ini membuat orang lain menjauh, memperkuat keyakinan ego bahwa “dunia tidak adil”
- Keterasingan sosial membuat hati semakin keras, dan lingkaran terus berputar
Dampaknya nyata: kecemasan berlebih karena takut gagal, hubungan sosial yang renggang, dan hilangnya ketenangan batin. Yang paling tragis, pelaku iri menyiksa dirinya sendiri—sementara orang yang diirinya mungkin tak peduli atau bahkan tak tahu.
Mengobati Luka Hati: Antara Jiwa dan Iman
Kabar baiknya, iri dan ego bisa disembuhkan. Psikologi Islam menawarkan pendekatan holistik yang menyentuh akal, jiwa, dan iman sekaligus.
- Muhasabah: Jujur pada Diri Sendiri
Langkah pertama adalah mengakui: “Ya, aku sedang iri.” Banyak orang menolak mengakui perasaan ini karena malu. Padahal, mengakui kelemahan adalah awal perbaikan. Renungkan: mengapa aku iri? Apa yang sebenarnya aku cari? Apakah dengan iri, masalahku selesai?
- Latihan Syukur Aktif
Syukur bukan sekadar ucapan, tapi latihan harian. Cobalah setiap malam menulis tiga hal yang patut disyukuri. Saat iri muncul, sebut nikmat yang kita miliki saat itu juga. Otak kita perlu dilatih untuk fokus pada kecukupan, bukan kekurangan.
- Doa untuk Orang yang Diiri
Ini terapi paling berat sekaligus paling manjur. Rasulullah mengajarkan, jika kita melihat sesuatu yang mengagumkan pada saudara kita, doakan keberkahan untuknya. “Allahumma barik lahu fihi” (Ya Allah, berkahilah ia padanya). Mendoakan kebaikan orang lain adalah anti-iri yang dahsyat.
- Perkuat Tawakal
Yakinlah bahwa Allah tidak pernah salah memberi. Rezeki orang lain tidak akan mengurangi rezeki kita. Justru dengan bahagia atas keberhasilan saudara, pintu rezeki bisa terbuka dari arah tak terduga.
- Latih Empati
Ego menciut saat kita mampu melihat dari sudut pandang orang lain. Cobalah mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa membandingkan. Latihan kecil ini efektif mengecilkan dominasi diri.
- Ingat Kematian
Tak ada yang lebih ampuh menghancurkan ego selain mengingat bahwa semua yang kita banggakan—harta, jabatan, popularitas—akan ditinggalkan. Di alam kubur, hanya amal yang menemani. Apakah iri dan dengki termasuk bekal yang kita bawa?
Kesimpulan: Hati Bersih, Jiwa Tenang
Dalam psikologi Islam, kesehatan jiwa tak terpisahkan dari kebersihan hati. Iri dan ego mungkin manusiawi, tapi membiarkannya tumbuh adalah pilihan keliru. Dengan iman, syukur, dan kesadaran diri, penyakit hati ini bisa disembuhkan.
Orang yang hatinya bersih tidak akan terganggu dengan keberhasilan orang lain. Ia tahu bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki lebih dari orang lain, tapi tentang merasa cukup dengan apa yang Allah beri.
Hati yang bersih melahirkan jiwa yang tenang. Dan ketenangan, sungguh, adalah nikmat yang tak ternilai.
Renungan:
Cobalah hari ini, saat melihat keberhasilan orang lain, ucapkan dalam hati: “Semoga berkah untukmu, dan cukupkanlah aku dengan bagianku.” Rasakan bedanya. Mungkin di situlah pintu kebahagiaan sejati mulai terbuka.
Penulis : Rastono Sumardi
Ketua Pergunu Kabupaten Banggai






















