Oleh: AKAHA TAUFAN AMINUDIN
Identitas Buku
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Judul: Mengikhlaskan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dengan Banyak Catatan
Pengantar: Denny JA
Penyunting: Jonminofri Nazir
Penerbit: SATUPENA bekerja sama dengan Cerah Budaya International
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-1-966391-78-4
*Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Usai*
Buku ini hadir bukan sebagai kitab pembelaan terhadap Soeharto, juga bukan palu penghakiman terhadapnya. Ia lebih menyerupai ruang sidang batin bangsa Indonesia—tempat suara pujian, luka, nostalgia, kemarahan, dan kerinduan pada stabilitas bertemu dalam satu meja panjang bernama sejarah.
Melalui kumpulan esai, puisi, puisi esai, dan cerpen, buku ini mencoba menjawab pertanyaan yang sejak Reformasi belum pernah benar-benar selesai:
Layakkah Soeharto menjadi Pahlawan Nasional?
*Jawaban dalam buku ini tidak tunggal. Dan justru di situlah kekuatannya.*
*Buku yang Membiarkan Perbedaan Tetap Hidup*
Salah satu kelebihan utama buku ini adalah keberaniannya menghadirkan banyak perspektif tanpa dipaksa menjadi satu kesimpulan. Penulis yang pro dan kontra memperoleh ruang yang sama.
*Ada yang mengingat:*
jalan raya,
bendungan,
swasembada pangan,
stabilitas ekonomi,
dan pembangunan desa.
Namun ada pula yang mengingat:
penghilangan paksa,
pembungkaman kritik,
penjara politik,
Talangsari,
hingga luka Papua.
Dalam pengantar yang kuat dan reflektif, Denny JA menggunakan metafora dua perempuan: Dewi dan Ratih. Yang satu menabur bunga di depan patung Soeharto, yang lain menggenggam arang. Keduanya sama-sama jujur terhadap pengalaman hidupnya.
*Metafora itu menjadi jiwa seluruh buku ini.*
Tidak Sekadar Politik, tetapi Juga Sastra
*Buku ini menarik karena tidak hanya berbicara melalui bahasa akademik. Banyak tulisan justru memiliki kekuatan emosional melalui puisi dan puisi esai.*
*Salah satu karya yang mencuri perhatian ialah:*
“PAHLAWAN DI RUANG SUNYI: Menimbang Jejak Bayangan & Cahaya”
karya Akaha Taufan Aminudin
Puisi esai tersebut menghadirkan pergulatan batin antara jasa pembangunan dan luka sejarah secara puitik, sunyi, dan reflektif. Tidak menghakimi, tetapi juga tidak memutihkan.
Selain itu, hadir pula tulisan-tulisan penting dari:
*Berthold Damshäuser yang pernah dekat dengan Soeharto,*
*Isti Nugroho yang pernah dipenjara delapan tahun pada masa Orde Baru,*
hingga berbagai akademisi, penyair, wartawan, dan aktivis lintas generasi.
*Kekuatan Buku*
1. Berani Memelihara Kompleksitas
Buku ini tidak jatuh pada propaganda maupun demonisasi. Ia mengajak pembaca menerima bahwa sejarah manusia memang tidak sesederhana hitam-putih.
2. Kaya Genre dan Perspektif
Perpaduan esai politik dengan puisi dan cerpen membuat pembacaan terasa hidup dan tidak monoton.
3. Relevan dengan Situasi Indonesia Hari Ini
Di tengah menguatnya nostalgia Orde Baru di sebagian masyarakat, buku ini menjadi penting sebagai pengingat bahwa stabilitas dan pembangunan memiliki harga sosial-politik yang besar.
*Kekurangan Buku*
Karena memuat sangat banyak penulis, kualitas tulisan menjadi tidak selalu merata. Ada esai yang sangat kuat secara argumentatif, tetapi ada pula yang terasa terlalu emosional atau repetitif.
Selain itu, sebagian tulisan cenderung lebih berupa opini personal daripada kajian sejarah mendalam. Namun justru sisi personal itu pula yang memperlihatkan bagaimana sejarah bekerja dalam ingatan manusia.
*Penilaian Akhir*
Buku ini penting bukan karena berhasil menjawab apakah Soeharto layak menjadi pahlawan nasional atau tidak. Buku ini penting karena berani membuka ruang dialog di tengah bangsa yang sering ingin menyederhanakan sejarah.
*Ia mengingatkan bahwa:*
pembangunan tidak menghapus luka,
luka tidak otomatis menghapus jasa,
dan sejarah yang sehat adalah sejarah yang berani mendengar semua suara.
Pada akhirnya, Mengikhlaskan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dengan Banyak Catatan adalah buku tentang Indonesia sendiri: bangsa yang masih terus bernegosiasi dengan masa lalunya.
*Nilai: 8,5/10*
*Layak dibaca oleh:*
pegiat sejarah,
penikmat sastra,
mahasiswa,
aktivis,
dan siapa saja yang ingin memahami Indonesia secara lebih dewasa.
Kota Batu 19 Mei 2026
*Akaha Taufan Aminudin*
SATUPENA JAWA TIMUR
*BUKUKITA SATUPENA JAWA TIMUR* Akan mencetak terbatas Buku Fisik Judul: Mengikhlaskan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dengan Banyak Catatan
Sebagai dokumen penting yang minat koleksi Buku Fisik di Cetak Hardcover pembatas pita silahkan hubungi 08123366563. (**)






















