Hari ini, langit kembali mengumandangkan takbir.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah…hu Allahu Akbar,”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suara itu bukan sekadar gema. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mengingat kembali kisah paling agung tentang cinta, kepercayaan, dan kepasrahan.
Idul Adha membawa kita pada kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan putranya, Ismail Alaihis Salam Bukan kisah tentang kehilangan, tapi tentang keyakinan. Tentang bagaimana cinta kepada Sang Pencipta diletakkan di atas segalanya—bahkan di atas cinta seorang ayah kepada anak semata wayangnya.
Dan ketika pisau itu diturunkan, yang disembelih sebenarnya bukan hanya seekor domba. Yang dipotong adalah keraguan, ego, dan keterikatan berlebihan pada dunia. Yang tersisa adalah hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.
Hari ini kita mungkin tidak diminta menyembelih anak kita. Tapi hidup setiap hari meminta kita untuk berkurban.
Kita berkurban waktu untuk keluarga di tengah kesibukan kerja.
Kita berkurban ego untuk meminta maaf lebih dulu.
Kita berkurban harta untuk berbagi dengan tetangga yang belum tentu bisa makan daging hari ini.
Kita berkurban amarah untuk menjaga lisan dan hubungan.
Itulah makna kurban yang sebenarnya: bukan sekadar menyembelih hewan, tapi menyembelih bagian diri kita yang keras, kikir, dan sombong.
Di Hari Raya Idul Adha ini, mari kita jadikan momentum untuk saling memaafkan.
Mungkin ada kata yang menyakitkan, janji yang belum ditepati, atau jarak yang terlalu lama tercipta. Tidak ada hari yang lebih baik untuk mengulurkan tangan selain hari ini.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga setiap tetes darah kurban yang mengalir diterima sebagai bukti ketaatan kita.
Semoga setiap daging yang dibagikan menjadi wasilah rezeki dan keberkahan bagi yang menerima.
Semoga setiap takbir yang kita ucapkan menguatkan hati untuk terus berserah dan berharap hanya kepada Allah SWT.
“Selamat hari raya idul Adha 1447 Hijriyah/27 Mei 2026, mohon maaf lahir dan batin,” pungkas kepala KSOP Kelas III Pare – pare, Shaiful Horry, SH, MH.






















