Oleh: AKAHA TAUFAN AMINUDIN
Karya: K.H. Ubaidillah Ahror
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penerbit: Temboro
Cetakan Pertama: Mei 2022
Tebal: 204 halaman
Buku Memoar Gus Bed merupakan catatan kenangan dan perjalanan hidup yang dituturkan oleh K.H. Ubaidillah Ahror atau yang akrab dikenal sebagai Gus Bed. Buku ini bukan sekadar autobiografi, melainkan rekaman sejarah kecil yang memperlihatkan denyut kehidupan keluarga besar kyai di Temboro, Magetan, Jawa Timur.
Melalui gaya bertutur yang sederhana, hangat, dan penuh penghormatan kepada orang tua serta guru-guru agama, pembaca diajak masuk ke ruang kehidupan pesantren yang tumbuh dari mushola kecil hingga menjadi pusat pendidikan Islam yang dikenal luas sampai mancanegara.
*Isi dan Kekuatan Buku*
Kekuatan utama buku ini terletak pada kesederhanaan tuturannya. Gus Bed tidak berusaha tampil sebagai tokoh besar, melainkan sebagai saksi hidup dari perjuangan keluarga dan masyarakat Temboro. Ia menghadirkan kisah tentang:
*Romo Kyai Mahmud*
Ibu Nyai Maslikhah
Kyai Uzairon
*Tradisi keluarga pesantren*
Perjuangan dakwah dan pendidikan agama
Perkembangan Pondok Al-Fatah Temboro
Narasi dalam buku ini terasa jujur dan membumi. Pembaca dapat merasakan bagaimana hubungan antara masyarakat dengan keluarga kyai dibangun melalui pengabdian, keteladanan, dan keikhlasan.
Selain itu, pengantar buku menjelaskan transformasi Desa Temboro dari sebuah kawasan biasa menjadi pusat pendidikan Islam besar yang dihormati banyak kalangan. Kisah tersebut menjadi nilai sejarah tersendiri.
*Nilai Spiritual dan Sosial*
Buku ini memiliki nuansa spiritual yang kuat tanpa terasa menggurui. Pembaca diajak memahami bahwa kebesaran sebuah pesantren lahir dari proses panjang, pengorbanan, dan kesinambungan perjuangan generasi sebelumnya.
*Memoar ini juga memperlihatkan pentingnya:*
menjaga tradisi ilmu,
menghormati orang tua dan guru,
merawat hubungan sosial,
serta menjaga amanah dakwah.
Di sisi lain, buku ini menjadi dokumentasi budaya pesantren yang penting bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
*Kelebihan Buku*
Bahasa ringan dan mudah dipahami
Sarat nilai religius dan keteladanan
Memuat sejarah lokal yang menarik
Memberikan gambaran kehidupan pesantren secara dekat
Cocok untuk pembaca umum maupun kalangan santri
*Kekurangan Buku*
Beberapa bagian terasa lebih berupa catatan kenangan personal sehingga alurnya tidak selalu runtut seperti buku sejarah akademik. Namun justru di situlah letak keaslian memoar ini: hangat, personal, dan apa adanya.
*Penutup*
Memoar Gus Bed adalah buku yang bukan hanya menyimpan kisah pribadi, tetapi juga memotret perjalanan sebuah keluarga ulama dan perkembangan masyarakat Temboro. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami kehidupan pesantren dari sudut pandang yang intim dan manusiawi.
Di tengah arus modernitas, memoar ini menjadi pengingat bahwa sejarah besar sering lahir dari ketekunan, kesederhanaan, dan pengabdian yang dilakukan secara istiqamah dari generasi ke generasi.
Kota Batu 18 Mei 2026
Akaha Taufan Aminudin
Koordinator Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara HP3N KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR. (**)






















