Selamat Hardiknas 2 Mei : SEKOLAH DAN “CACAT” SASTRA

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aguk Irawan MN

 

Tahun 1964, Jacques Ellul meramalkan sebuah zaman dalam The Technological Society. Empat tahun kemudian, Erich Fromm menyusulnya dengan The Revolution of Hope. Keduanya mencium bau yang sama: sebuah masa depan yang tak hanya digital, tapi juga berbahaya. Sebuah era di mana manusia, mungkin tanpa sadar, melucuti kemanusiaannya sendiri demi efisiensi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, di tengah hingar-bingar layar sentuh, kita mendapati ramalan itu bukan lagi fiksi. Kita sedang tergagap, menyapa krisis moral yang merambat lambat, namun pasti, seperti menjalar dalam cermin retak bangsa ini.

Melihat Indonesia hari ini, kita seperti menatap sebuah sandiwara absurd. Fiksi tak lagi butuh imajinasi, karena korupsi dan mafia hukum telah menyuguhkan alurnya setiap hari. Sebuah perselingkuhan kasat mata antara penguasa, pengusaha plat merah, hingga aparat hukum yang mestinya menegakkan keadilan, namun justru diadili oleh kenyataan.

Mirisnya, adegan-adegan “culas” ini berakar pada sebuah tempat yang mestinya suci: sekolah. Ingatan kita masih basah pada kisah seorang guru dan kepala sekolah yang justru menjadi sutradara kecurangan ujian nasional.

Saat kebenaran disuarakan, justru massa yang meradang. Inikah buah panjang perjalanan pendidikan kita? Sebuah warisan mentalitas “menerabas” yang dipupuk sejak dini.Renungan di Hari Pendidikan Nasional ini membawa kita pada satu dugaan—atau mungkin kesimpulan: kita telah mengasingkan sastra dari bangku sekolah.

Sastra, seringkali dianggap sekadar bunga-bunga bahasa, padahal ia adalah pengasah rasa dan pemekat budi. Saat orang tua lebih bangga anaknya mahir berhitung ketimbang membaca dongeng, dan sekolah-sekolah berlabel internasional mengabaikan kemanusiaan demi otak kiri, di situlah kita mulai kehilangan orientasi.

Data Taufik Ismail terdahulu menyentak kita: sebagian besar siswa kita lulus dengan nol karya sastra. Bandingkan dengan Malaysia yang mewajibkan 6 karya, atau Jepang yang mengakar pada sastra klasik sejak SMP.

Bahkan Max Lane pernah berujar, Indonesia adalah negara yang hampir meniadakan sastra sebagai mata pelajaran wajib. Apa akibatnya? Kita melahirkan generasi yang kering. Generasi yang kehilangan cermin jujur untuk melihat dirinya.

Umar ibn Khattab pernah berpesan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.” Sastra adalah kebenaran yang menyamar, sebuah dialog yang menolak ketidakjujuran.

Bahkan Thaha Husain dalam Fi Syiir al-Jahili menyebutkan, keindahan bahasa dan kisah (sastra) adalah pengantar nilai-nilai luhur moralitas.Jika sastra adalah pintu masuk penanaman budi, maka mengabaikannya adalah sebuah pembiaran.

Apakah kita akan terus membiarkan generasi ini tumbuh menjadi koruptor yang gagap rasa, hanya karena kita alpa mendekatkan mereka pada buku-buku cerita? Di Hari Pendidikan ini, menolak sastra di sekolah adalah bentuk nyata dari dehumanisasi, sebuah kegagalan merawat Indonesia. Wallahu’alam. (Aguk Irawan MN/SATU PENA WhatsApp Grup)

Berita Terkait

Menyongsong Muktamar Nahdhlatul Ulama KE-35: Membincang Peluang, Menghitung Suara
Pemcam Toili Barat Bersama Aparat Tertibkan Kafe Camat Bambang Tegaskan Tak Ada TPPO serta Kritik Pemberitaan Tanpa Verifikasi
Jabatan Adalah Amanah Jangan Jadi Alat Tentukan Nasib Orang lain, Tegas Advokat Rikha Permatasari
Membaca Kekuatan Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35 
Pemuda Tanjung Indra(42) Ajak Warga Banggai Bersinergi Kawal Pembangunan dan Jaga Kamtibmas
Ketua DPRD Balut Patwan Kuba Hadiri Upacara Otda ke 30 Kritik Kewenangan Daerah Kian Terbatas akibat Kontrol Fiskal Pusat
Wakili Bupati Banggai Laut Sekda Saiful Pimpin Upacara Otda ke 30 Sinergi Jadi Kunci Kesejahteraan
Sinergi Pengusaha dan UMKM Menguat, GAPEMBI Nilai Program Makan Bergizi Dongkrak Ekonomi dan Stabilkan Harga Pangan di Malang Raya 

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:08 WITA

Selamat Hardiknas 2 Mei : SEKOLAH DAN “CACAT” SASTRA

Kamis, 30 April 2026 - 11:13 WITA

Menyongsong Muktamar Nahdhlatul Ulama KE-35: Membincang Peluang, Menghitung Suara

Rabu, 29 April 2026 - 23:59 WITA

Pemcam Toili Barat Bersama Aparat Tertibkan Kafe Camat Bambang Tegaskan Tak Ada TPPO serta Kritik Pemberitaan Tanpa Verifikasi

Rabu, 29 April 2026 - 11:32 WITA

Jabatan Adalah Amanah Jangan Jadi Alat Tentukan Nasib Orang lain, Tegas Advokat Rikha Permatasari

Selasa, 28 April 2026 - 18:46 WITA

Membaca Kekuatan Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35 

Berita Terbaru

Daerah

Pemerintah Kabupaten Buol Gelar Upacara Hardiknas 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:39 WITA

Nasional

Selamat Hardiknas 2 Mei : SEKOLAH DAN “CACAT” SASTRA

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:08 WITA