Puisi Esai
———-
“GADEN: SAHABAT JELATA DAN JEJAK YANG TERHIMPIT”
Karya: Akaha Taufan Aminudin
Berdasarkan ulasan Cakndjojo yang kaya akan kenangan tentang Pegadaian (Gaden) dan dinamika Kota Batu, saya susun sebuah Puisi Esai yang memadukan romansa masa kecil dengan realitas perubahan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*I. Rumah Pak Beder di Jalan Kartini*
Bagi kaum jelata
di lorong-lorong sempit,
kata “Gaden” bukan sekadar papan nama
yang dipaku ke langit.
Ia adalah tumpuan, ketika dapur
mulai mendingin,
tempat perhiasan atau kain batik
bertukar menjadi harapan hidup yang dingin. [1]
Di sana, Pak Beder berdiri
dengan wibawa seorang priyayi,
di gedung kokoh peninggalan zaman,
tempat utang diramu menjadi janji.
Dulu, Pegadaian hanya satu
di Jalan Kartini yang asri,
berdampingan dengan SD Ngaglik,
tempat ilmu kami cari.
Bagi para bocil, ia bukan tempat
menggadai barang berharga,
tapi wahana bermain “plorotan” di jalan berundak yang halus tertata.
Kami antri dengan sabar, meluncur
menuju pemukiman Kauman,
tanpa tahu bahwa di sana, orang tua kami sedang bertaruh dengan zaman. [2]
*II. Ketika Taman Berubah Jadi Deretan Beton*
Kini, “plorotan” itu telah dibenteng
oleh deretan toko,
taman bunga yang dulu hijau,
kini telah menjadi ruko.
Kanal-kanal lebar yang dulu mengalirkan
jernih air pegunungan,
kini dibeton, menyempit, terhimpit
oleh nafsu pembangunan.
Maka jangan heran jika langit
mulai murung dan hujan jatuh,
air merendam kota seolah sedang melampiaskan dendam yang penuh. [3]
SD Batu pun seolah lenyap ditelan bumi
yang kian padat,
meninggalkan tanya “Quo Vadis” di tengah
kota yang kian pesat.
Gedung Ganesa berdiri megah,
tempat raga ditempa menjadi atlet,
seiring pidato Presiden tentang bangsa
yang tak boleh lagi seret. [4]
Namun di sudut lain, markas Damkar kini menempati bekas kelas,
tempat dulu kami mengeja abjad di bawah langit yang masih luas.
*III. Siasat Pak Bagong dan Kelereng yang Dikopyok*
Ingatkah kau pada Pak Bagong, penjual brem yang setia memikul beban?
Ia datang membawa mesin putar mirip jam dinding di atas harapan.
Bocil-bocil berkumpul, mempertaruhkan koin demi selembar brem,
atau kelereng dalam kantong kain yang dikopyok layaknya ekstrem.
Meski selalu “penyok” dan kalah oleh siasat yang lihai,
bocil-bocil itu tak pernah menyerah, tak pernah mau berhenti lihai. [5]
Gaden dan Pak Bagong adalah dua sisi dari koin yang sama,
tentang bagaimana manusia bertahan di tengah nasib yang tak berirama.
Sejarah Kota Batu kini terkunci dalam gedung-gedung baru,
namun ingatan Cakndjojo adalah saksi yang menolak untuk membatu.
Sebab kota bukan sekadar aspal dan beton yang kaku,
ia adalah jiwa-jiwa yang tak pernah menyerah pada waktu yang memaku. [6]
CATATAN KAKI
[1] Pegadaian (Gaden) pertama kali didirikan di Sukabumi pada 1901. Sejak saat itu, lembaga ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat menengah ke bawah untuk mendapatkan pinjaman mikro dengan sistem gadai.
[2] Pada dasawarsa 1960-an, Pegadaian Kota Batu yang berlokasi di Jl. Kartini dikenal sebagai institusi yang berwibawa. Kepala kantornya sering dipanggil dengan sebutan “Pak Beder” (berasal dari kata Beheerder/Pengelola).
[3] Perubahan tata guna lahan di kawasan Jalan Gajahmada Kota Batu, yang semula berupa ruang terbuka hijau dan kanal air lebar, kini banyak berubah menjadi kawasan komersial (toko-toko). Hal ini berdampak pada berkurangnya daya tampung air saat musim hujan.
[4] Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya tanggal 8 Januari 2026 di Istana Negara menekankan bahwa prestasi olahraga adalah cerminan kekuatan dan keberhasilan suatu negeri, sebagaimana direfleksikan melalui pembangunan fasilitas olahraga seperti Gedung Ganesa.
[5] Permainan ketangkasan sederhana yang dijajakan pedagang kaki lima seperti Pak Bagong merupakan memori kolektif anak sekolah tahun 60-70an di Batu. Meskipun peluang menang kecil, permainan ini menjadi hiburan sosial yang melekat.
[6] Tulisan ini diadaptasi dari ulasan Cakndjojo mengenai sejarah lokal dan transformasi sosial-fisik di sekitar area Pegadaian dan sekolah-sekolah tua di Kota Batu.
Rabu 14 Januari 2026
Akaha Taufan Aminudin
*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*

























