Perjalanan Pulang dari Pulau Berunjung : Dua Jam Gelap, Ombak, dan Doa

Rabu, 10 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Oechan

Sabtu, 6 Desember 2025

Sore itu, jam di HP saya menunjukkan 17.11 WITA ketika kami meninggalkan Pulau Berunjung. Pulau yang elok dan menawan itu meninggalkan jejak di mata dan hati setiap penumpang. Beberapa tersenyum, senang karena kabar baik yang mereka terima; beberapa tampak sedih, merasa belum sempat menikmati seluruh keindahan pulau, namun kondisi memaksa mengakhiri keindahan itu.

Perjalanan satu jam pertama terasa seperti hadiah. Mata kami menjangkau segala arah: air jernih, pepohonan hijau, tumbuhan bakal laut dan langit sore keemasan yang perlahan menyiapkan diri untuk matahari terbenam. Semua seakan sepakat pulau ini luar biasa, tak ada tandingannya.

Namun, di balik keindahan itu, ada peringatan dari sang Nahkoda muda sejak awal:
“Ayo naik cepat… hari sudah sore. Cuaca kayaknya tidak bersahabat.”
Tapi semua penumpang sibuk merekam video, berselfie, menikmati sisa sinyal di pesisir pulau. Detik itu, saya mendapat firasat buruk jika kebersamaan itu akan segera menghadapi ujian.

Perjalanan kami sempat terhenti oleh satu kapal rombongan kami yang sengaja mematikan mesin dan memberikan perintah untuk Kembali, karena satu kapalnya lagi tidak bisa jalan karena ada gangguan dan kelebihan muatan. Namun sontak sang Nahkoda tidak menggubrisnya dan membalas “ muatan saya sudah full ditambah penumpang sudah over,” usai berteriak ke kapal itu, sang Nahkoda langsung tancap gas dan bergegas melaju seakan menerawan kondisi cuaca yang ia hadapi.

Begitu kapal meninggalkan pantai, suasana masih hangat. Namun setengah jam kemudian, langit mulai menggelap, angin berbisik lebih kencang, dan ombak meninggi. Lampu kapal padam, gelap total menyelimuti kami.

Sebagian besar penumpang adalah kaum wanita, dengan beberapa pria muda dan paruh baya. Beberapa pria menyalakan rokok untuk menenangkan diri, namun tangan mereka tetap tegang memegang kursi di depan. Asap rokok tipis naik ke udara, tak mampu menyingkirkan rasa takut yang mencekam.

Di sudut, seorang ibu menangis tanpa henti. Tangisannya lebih dari sekadar takut ombak; suaminya telah tiada, dan anak yang kini dititipkan pada keluarga adalah satu-satunya harapan hidupnya. Air matanya jatuh deras, seakan ingin memeluk anaknya di tengah laut yang gelap dan ganas. Beberapa penumpang mencoba menenangkannya, namun kesedihan itu tetap tak terbendung.

Selain saya, ternyata mayoritas penumpang itu baru sekali ke pulai berunjung dengan menggunakan kapal kecil dan belum memahami cuaca dan perjalanan jalur laut.

Saya sendiri merasakan tubuh hampir menyerah. Asam lambung naik, asam urat kambuh, dada sesak, dan beban hidup terasa semakin berat. Semua masalah, tanggung jawab, dan rasa takut bercampur menjadi satu. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah bertahan: duduk, menahan sakit, menahan panik, dan berdoa dalam hati.

Sang nahkoda berdiri di kemudi, tubuh kaku, tangan mencengkeram erat. Cahaya bantuan dari lampu kecil hanya cukup untuk menerangi arah kapal tidak lebih. Ia mengikuti GPS di layar, menavigasi gelombang dan angin menuju pelabuhan darat. Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap penumpangnya satu per satu memastikan semuanya aman. Matanya menunjukkan ketegangan yang sama seperti yang kami rasakan, namun ia tetap tegar, menahan kapal di tengah gelombang tinggi.

Hampir satu jam penuh kami berada di antara gelap, angin yang menderu, ombak yang menghantam, doa dan zikir yang terus bergema, dan tangisan ibu yang tak berhenti. Setiap gelombang terasa seperti ujian, setiap hembusan angin membawa rasa takut yang lebih dalam.

Meski daratan sudah terlihat dan lampu pelabuhan mulai berkilau di kejauhan, ombak tetap ada, meski tak setinggi sebelumnya. Hati semua orang masih waspada, napas terasa berat, namun cahaya itu memberi harapan, beberapa penumpang menghibur Nahkoda dengan memberikan sebatang rokok yang sudah terpasang. Ketegangan Nahkoda mulai redah, namun tetap fokus menyelamatkan kapal dan penumpangnya.

Jika dilihat dari gelombang, kegelapan, zikir dan tangisan, Nahkoda sudah biasa. Namun ketegangan dimulai saat suasana dalam kapal hening dan seluruh penumpang berteriak histeris menutupi telingga sang Nahkoda.

Dua kapal rombongan kami akhirnya selamat. Alhamdulillah, semua penumpang selamat sampai ke pelabuhan, meski perjalanan itu menegangkan, penuh air mata, dan hampir membuat tubuh saya menyerah karena sakit dan beban hidup.

Kami menjejak tanah pelabuhan dengan lega. Napas panjang mengalir, hati penuh syukur. Laut telah menuntut keberanian, kesabaran, dan doa kami. Kami pulang membawa pelajaran: keindahan pulau tidak selalu tentang mata yang melihat, tapi tentang hati yang bertahan menghadapi gelap, ombak, dan ketakutan.[penulis adalah penumpang gratisan]

Berita Terkait

TNI Hadir di Tengah Masyarakat, Sertu Yusup Maly Ajak Warga Benahi Jembatan di Dusun Krajan
Cegah Demam Berdarah, Babinsa Koramil 0823/05 Panarukan Bersama PKM dan Perangkat Desa Gelar Fogging  
Menakar Kompetensi Insan Pers Wartawan Banggai hingga Jambi Berkumpul di UKW PWI Parimo
Edukasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Polsek Lamala  Wayan Sukarman Jalankan Program Polisi Peduli Pendidikan
Kapolresta Banggai Sambangi Pura Agung Padma Buana Warga Keluhkan Solar hingga Narkoba
Hariadi Bola Gerakkan Tim Dinsos Yudi Serahkan  Bantuan Bupati Banggai Langsung pada Korban Kebakaran Paisubuloli
Dukung Ketahanan Energi Nasional DSLNG Sabet Penghargaan Komersialisasi Gas Domestik dari SKK Migas
Menembus Keterisolasian Dinsos Banggai Bawa Bantuan Layanan Kesehatan hingga Pendataan Warga
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 13:54 WITA

TNI Hadir di Tengah Masyarakat, Sertu Yusup Maly Ajak Warga Benahi Jembatan di Dusun Krajan

Rabu, 4 November 2026 - 11:15 WITA

Cegah Demam Berdarah, Babinsa Koramil 0823/05 Panarukan Bersama PKM dan Perangkat Desa Gelar Fogging  

Selasa, 3 November 2026 - 23:37 WITA

Menakar Kompetensi Insan Pers Wartawan Banggai hingga Jambi Berkumpul di UKW PWI Parimo

Senin, 2 November 2026 - 15:22 WITA

Edukasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Polsek Lamala  Wayan Sukarman Jalankan Program Polisi Peduli Pendidikan

Senin, 2 November 2026 - 13:59 WITA

Kapolresta Banggai Sambangi Pura Agung Padma Buana Warga Keluhkan Solar hingga Narkoba

Berita Terbaru