Misteri Hilal: Indonesia dan Arab Saudi

Selasa, 17 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi By Rastono Sumardi

Gambar Ilustrasi By Rastono Sumardi

Oleh Rastono Sumardi (Ketua Pergunu Kabupaten Banggai)

Setiap menjelang bulan suci, umat Islam di Indonesia biasanya berkumpul di depan televisi atau gawai masing-masing, menantikan pengumuman resmi dari pemerintah melalui Sidang Isbat. Namun, sering kali muncul pertanyaan mengapa Arab Saudi terkadang sudah mulai berpuasa lebih awal, sementara kita di Indonesia baru memulainya keesokan harinya. Fenomena ini bukan sekadar masalah perbedaan waktu, melainkan hasil dari perpaduan unik antara letak geografis bumi, kecanggihan teknologi astronomi, hingga otoritas hukum yang berlaku di sebuah negara.

Salah satu faktor utama yang menjelaskan perbedaan ini adalah posisi geografis. Secara logika, banyak yang mengira karena Indonesia berada empat jam lebih awal dalam waktu matahari, maka kita seharusnya melihat bulan lebih dulu. Namun, dalam astronomi, yang terjadi justru sebaliknya. Bulan bergerak mengelilingi bumi dari arah barat ke timur. Saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, hilal—yaitu bulan sabit pertama yang sangat tipis—mungkin baru saja lahir atau posisinya masih sangat rendah di cakrawala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Empat jam kemudian, ketika matahari terbenam di wilayah Arab Saudi yang terletak jauh di sebelah barat, posisi bulan telah bergeser lebih tinggi dan menjauh dari matahari. Hal ini membuat hilal di Arab Saudi memiliki usia yang lebih tua, bentuk yang lebih tebal, dan ketinggian yang lebih mudah untuk diamati secara visual dibandingkan di Indonesia. Inilah sebabnya wilayah yang berada lebih ke barat secara teoretis memiliki peluang melihat hilal yang jauh lebih besar pada hari yang sama.

Di Indonesia, pemerintah tidak sendirian dalam menentukan awal bulan. Kita tergabung dalam wadah kerja sama menteri agama regional yang disebut MABIMS, bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Sejak tahun 2022, negara-negara ini sepakat menggunakan kriteria baru yang lebih ketat untuk memastikan bahwa hilal yang dilaporkan benar-benar bisa dilihat secara ilmiah. Kriteria tersebut mensyaratkan hilal harus mencapai ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk dan memiliki sudut elongasi, atau jarak sudut antara bulan dan matahari, minimal 6,4 derajat.

Angka-angka tersebut sangat krusial karena jika hilal berada di bawah 3 derajat, cahaya senja yang masih sangat terang di ufuk barat akan menenggelamkan cahaya tipis dari hilal tersebut. Di Indonesia, keputusan final diambil melalui mekanisme Sidang Isbat yang menggabungkan hasil perhitungan matematika atau hisab dengan laporan pengamatan langsung atau rukyat dari sekitar 133 titik observasi di seluruh nusantara.

Sementara itu, sistem di Arab Saudi bersifat sangat sentralistik di bawah kendali Mahkamah Agung. Meskipun mereka memiliki Kalender Ummul Qura untuk keperluan administratif, penetapan bulan-bulan ibadah tetap didasarkan pada metode pengamatan langsung atau rukyatul hilal. Proses di Saudi menyerupai sidang pengadilan, di mana warga yang mengklaim melihat hilal harus melaporkan kesaksiannya ke pengadilan terdekat untuk didaftarkan secara resmi.

Keunikan sistem Saudi juga terletak pada standar verifikasi saksi yang sangat ketat, termasuk penggunaan kriteria medis. Para saksi penglihatan hilal harus menjalani pemeriksaan medis untuk menguji ketajaman visual mereka guna memastikan laporan tersebut akurat. Selain itu, Kerajaan Saudi mengoperasikan jaringan observatori canggih di lokasi-lokasi strategis seperti Sudayr dan Tumair, yang berada di dataran tinggi antara 780 hingga 930 meter di atas permukaan laut. Lokasi-lokasi ini dipilih karena udaranya kering dan jauh dari polusi, sehingga langitnya sangat jernih untuk pengamatan.

Zaman sekarang, melihat hilal juga melibatkan teknologi mutakhir seperti kamera Charge-Coupled Device (CCD) yang jauh lebih sensitif dibandingkan mata manusia dalam menangkap partikel cahaya redup. Di Indonesia, para astronom sering menggunakan teknik stacking, yaitu menumpuk ribuan gambar hasil rekaman video untuk memunculkan citra hilal yang sangat tipis dari balik cahaya senja. Teknologi ini berfungsi sebagai alat verifikasi untuk membedakan hilal asli dari objek langit lain seperti planet Venus yang sering kali tampak sangat terang dan bisa mengecoh pengamat sebagai “hilal palsu”.

Keberagaman di Indonesia semakin kaya karena organisasi kemasyarakatan Islam memiliki kriteria masing-masing. Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, tetap setia pada metode rukyat fisik, di mana jika hitungan sains menunjukkan bulan sudah tinggi namun tidak terlihat karena faktor cuaca, maka jumlah hari dalam bulan tersebut akan digenapkan menjadi 30 hari. Sebaliknya, Muhammadiyah kini beralih menggunakan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pandangan ini menganggap seluruh bumi sebagai satu kesatuan, sehingga jika kriteria visibilitas global sudah terpenuhi di belahan bumi mana pun, maka seluruh dunia dianggap sudah memasuki bulan baru.

Pada akhirnya, perbedaan penetapan awal Ramadan bukanlah tanda perpecahan, melainkan bukti kekayaan ijtihad dalam menjalankan syariat Islam. Baik metode yang menekankan pengamatan langsung maupun perhitungan matematika yang akurat, keduanya memiliki landasan teologis dan ilmiah yang kuat. Memahami bahwa perbedaan ini berakar pada posisi geografis dan keragaman kriteria teknis adalah kunci bagi umat untuk saling menghargai dan tetap menjaga persatuan dalam menjalankan ibadah di bulan yang suci.

Luwuk, 17/02/2026

 

Berita Terkait

HUT ke-22 OKU Timur, Bupati Lanosin Ajak Warga Perkuat Persatuan Lewat Hiburan Rakyat
HUT ke-116 Kotamobagu: Menjadikan Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dan Identitas Daerah
SEJARAH NAHDLATUL ULAMA MENCATAT: DARI KEPRIHATINAN MENUJU ISLAH, PIMPINAN PBNU SEPAKAT GELAR MUKTAMAR BERSAMA
Pemda Banggai Apresiasi BPJS Kesehatan Gelar Gathering Badan Usaha dan Agyakari Award 2025
Gelar Pelatihan Kewirausahaan Pemda Banggai Dorong UMKM Kuliner Tingkatkan Daya Saing
Inspektorat Provinsi Sulteng Melakukan Evaluasi Kinerja di Banggai Dorong Penguatan Zona Integritas dan WBK – WBBM
Bupati Banggai Amirudin Terima Piala dan Penghargaan Perai Predikat Kabupaten Sangat Inovatif pada IGA 2025 Satu-Satunya dari Sulteng
Sejalan Program Gerbang Timur Sulteng Bupati Amirudin Bangga Perpustakaan Baru Siap Jadi Rumah Belajar Anak Cerdas

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:24 WITA

Misteri Hilal: Indonesia dan Arab Saudi

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:30 WITA

HUT ke-22 OKU Timur, Bupati Lanosin Ajak Warga Perkuat Persatuan Lewat Hiburan Rakyat

Senin, 19 Januari 2026 - 18:26 WITA

HUT ke-116 Kotamobagu: Menjadikan Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dan Identitas Daerah

Kamis, 25 Desember 2025 - 16:09 WITA

SEJARAH NAHDLATUL ULAMA MENCATAT: DARI KEPRIHATINAN MENUJU ISLAH, PIMPINAN PBNU SEPAKAT GELAR MUKTAMAR BERSAMA

Sabtu, 13 Desember 2025 - 00:10 WITA

Pemda Banggai Apresiasi BPJS Kesehatan Gelar Gathering Badan Usaha dan Agyakari Award 2025

Berita Terbaru