Jarak yang Tak Terjembatani (cerpen)

Kamis, 11 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rastono Sumardi

Aku tidak ingat kapan terakhir kali memeluk Ibu tanpa harus menahan napas. Sejak air bah melanda, bau lumpur dan ketakutan telah menjadi selimut kami. Kami terdampar di sisa gubuk tetangga, sebuah ruang seukuran peti yang ditinggalkan setelah jembatan besi di hulu patah bunyinya, menyerupai tulang yang remuk.

“Bu, minumlah ini,” bisikku, mengulurkan botol air mineral bekas yang hanya berisi seperempatnya. Airnya keruh, air sisa yang kususutkan dari genangan yang lebih bersih. Namun, di mata Ibu yang cekung, air itu berpendar seperti lentera terakhir yang menolak padam di ujung malam.

“Terima kasih, Nak,” balasnya, suaranya parau, seolah setiap kata harus berjuang melewati tenggorokannya yang kering.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kami bukan pengungsi yang tercatat di tenda-tenda besar. Kami hanyalah dua titik kecil di desa terpencil, dua tanda yang terlipat di peta besar bencana. Dunia luar mungkin mengira air sudah surut dan bahaya telah berlalu. Tapi yang paling membunuh kami justru sunyi setelahnya.

Jalan desa telah menjelma sungai yang tak mau berhenti bercerita. Reruntuhan rumah dan batang kayu hanyutan menjadi dinding yang mengisolasi kami dari segala pertolongan. Kami terperangkap, bukan oleh arus, melainkan oleh jarak yang tak sempat dijembatani siapa pun.

Ibu mulai rebah di pangkuanku. Napasnya tersengal, pendek-pendek, seperti lampu minyak yang sedang mencari alasan untuk tetap menyala. Ia demam. Persediaan obat sudah lama habis. Yang tersisa hanyalah keputusasaan dan rasa sesal yang menggumpal.

Aku menunduk. Di sela-sela jemariku, tanah yang dulu kuhirup baunya, yang dulu hijau subur, kini menggumpal pekat. Tiba-tiba, ingatan itu menyeruak, menyesakkan. Aku ingat bertahun-tahun yang lalu, bagaimana aku dengan bangga pulang membawa uang hasil upahku memotong hutan. Setiap batang yang rubuh, aku menganggapnya koin-koin kehidupan.

Kini, setiap napas tersendat Ibu, aku seperti mendengar bunyi gergaji masa lalu.

“Kami tumbang—dan kalian ikut tenggelam,” bisik pohon-pohon itu dalam kepalaku, suara yang menyatu dengan erangan pelan Ibu. Aku bukan hanya dihukum oleh bencana alam, tapi oleh karma yang basah.

Malam itu, dingin menyelimuti kami. Ibu menggigil. Aku memeluknya erat, mencoba menyalurkan sisa kehangatanku. Angin menyapu wajah Ibu dengan lembut, seperti tangan tak terlihat yang hendak menutup cerita. Aku memanggilnya berulang-ulang.

“Ibu… Ibu… Ibu….!”

Tetapi yang kembali hanyalah diam, diam yang turun perlahan menjadi hujan yang kehilangan alamat.

Jeda itu terasa abadi. Napasnya berhenti.

Ibu pergi bukan karena dihanyutkan arus banjir. Ibu pergi karena dunia tak tiba tepat waktu. Tidak ada sinyal yang menembus isolasi kami, tidak ada perahu yang mampu menyeberangi reruntuhan.

Kini, hanya jejak kaki kami yang tertinggal di lumpur halaman, perlahan dihapus air seperti nama yang tak sempat tercatat. Di tepi sungai yang mengangkut reruntuhan rumah kami, aku memanggil Ibu dalam hati, seperti orang memanggil nomor darurat yang tak lagi aktif.

Air banjir di desa ini akan surut suatu hari nanti. Tetapi di dalam diriku, banjir tak pernah surut. Airnya menjalar pelan di lorong ingatan, menyisakan satu ruang kosong yang selamanya akan kupanggil: tempat dunia terlambat tiba.

Catatan :

Cerpen ini diadaptasi dari Puisi Esai Karya Denny JA yang berjudul AKU DAN IBUKU TERISOLASI

sumber : https://www.facebook.com/share/p/1BU35FaBiw/

 

Berita Terkait

PWI Pusat dan Provinsi Sulteng  Nyatakan 18 Wartawan Kompeten Sekaligus UKW di Banggai Resmi Berakhir
Putusan MA Telah Inkracht Ahli Waris Salim Albakar Siapkan Laporan ke PTUN hingga Bareskrim soal Sengketa Lahan Tanjung Sari
Bupati Banggai Amirudin Resmikan Kantor Desa Singkoyo Guna Peningkatan Kualitas Layanan Publik
Pentas Silaturahmi Musik Literasi Kota Batu Wisata Sastra Budaya 
62 Personel Polresta Banggai serta Polsek Kota  Amankan Aksi Seribu Lilin Aliansi Untika Melawan
Ketoprak Madura di Tengah Badai Globalisasi
Untuk yang ke Sekian Kalinya, Hosnatun Diundang Menjadi Juri Pada “Festival Musik Tong-tong” se-Madura
Pastikan Pendidikan Anak Berkualitas Bunda PAUD Banggai Syamsuarni Amirudin Monitoring Sekolah di Batui

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:56 WITA

PWI Pusat dan Provinsi Sulteng  Nyatakan 18 Wartawan Kompeten Sekaligus UKW di Banggai Resmi Berakhir

Rabu, 9 September 2026 - 10:04 WITA

Putusan MA Telah Inkracht Ahli Waris Salim Albakar Siapkan Laporan ke PTUN hingga Bareskrim soal Sengketa Lahan Tanjung Sari

Rabu, 9 September 2026 - 08:28 WITA

Bupati Banggai Amirudin Resmikan Kantor Desa Singkoyo Guna Peningkatan Kualitas Layanan Publik

Selasa, 8 September 2026 - 05:17 WITA

Pentas Silaturahmi Musik Literasi Kota Batu Wisata Sastra Budaya 

Senin, 7 September 2026 - 21:33 WITA

62 Personel Polresta Banggai serta Polsek Kota  Amankan Aksi Seribu Lilin Aliansi Untika Melawan

Berita Terbaru