Di tengah derasnya arus badai globalisasi, kesenian tradisional dituntut bukan hanya bertahan, tetapi juga menemukan caranya untuk tetap berdiri.
Ketoprak Madura adalah salah satunya. Ia tidak tunduk pada gemerlap budaya yang datang dari luar, karena di dadanya masih berdenyut nadi Jawa Timur. Ia hidup dan tumbuh di tanah Madura, Bondowoso, dan Situbondo, meresap bersama angin pesisir dan debu jalanan desa.
Peminatnya belum pernah benar-benar sepi. Ketoprak Madura tetap dicari, karena ia lebih dari sekadar tontonan. Ia menghibur, iya. Tapi di balik tawa, gerak, dan lagu, tersimpan makna. Terselip pesan yang bisa dipetik dan direnungkan lama setelah tirai ditutup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Itulah sebabnya, ia masih menjadi pilihan utama di hajatan, pernikahan, dan sunatan. Kehadirannya membuat acara terasa utuh, seperti pulang ke rumah sendiri.
Bentuk dan konsepnya sederhana namun memikat. Panggungnya mungkin tidak mewah, tetapi ceritanya luas. Ada kisah raja, rakyat, cinta, pengkhianatan, dan kebijaksanaan masa silam. Anak muda yang duduk menonton, pelan-pelan diajak merenung. Tanpa menggurui, ketoprak menyelipkan sejarah ke dalam hati penontonnya.
Lebih dari itu, ketoprak Madura adalah ajakan. Ajakan agar kita tidak melupakan siapa kita. Ia menjaga kearifan lokal agar tidak hanyut, agar akar budaya tidak tercabut hanya karena zaman berubah.
Di Bondowoso, nama-nama itu masih disebut dengan bangga: Warga Sampurna, Bintang Sampurna, dan Sekar Tanjung.
Sementara di Madura, panggung dijaga oleh Rukun Karya dan Rukun Famili. Mereka adalah penjaga api, yang memastikan obor ketoprak tetap menyala di tengah malam modern.
Ketoprak Madura tidak melawan zaman dengan marah. Ia hanya berdiri kokoh, bercerita, dan mengingatkan: bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan jati diri.
Reporter: SURYADI

























