SUARAUTARA.COM|SATUPENA JAWA TIMUR, Kota Batu – Bukan Sekadar Panggung Musik, Batu Jadi Titik Temu Silaturahmi Seni Lintas Kota
Pentas Silaturahmi Musik Literasi mempertemukan musisi, penyair, komunitas, seni instalasi, dan tradisi dari Batu, Malang, Batang, Yogyakarta, khazanah Dayak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kecenderungan ruang kebudayaan yang berjalan sendiri-sendiri, sebuah peristiwa seni mencoba melakukan hal sebaliknya: mempertemukan pengalaman, latar, pengetahuan, dan disiplin kesenian yang beragam dalam satu ruang.
Itulah yang hendak dilakukan Pentas Silaturahmi Musik Literasi, yang akan berlangsung di Zync Space and Cafe, Kota Batu, 12 September 2026, pukul 19.30–22.30 WIB.
Batu menjadi kota kelima dalam perjalanan Pentas Silaturahmi Musik Literasi setelah sebelumnya kegiatan ini menyambangi Blora, Pati, Rembang, dan Batang. Namun, menyebutnya sekadar sebagai pentas musik tentu terlalu menyederhanakan peristiwa ini. Yang sedang dibangun adalah ruang srawung kebudayaan.
Musik puisi bertemu folk, blues, dan soundscape. Puisi berhadapan dengan bunyi. Musik tradisi Dayak masuk ke dalam ruang perjumpaan lintas daerah. Seni pertunjukan berkelindan dengan seni instalasi. Seniman dari kota yang berbeda tidak datang semata-mata untuk “mengisi acara”, tetapi membawa pengalaman dan pengetahuan masing-masing untuk dipertemukan dalam sebuah panggung bersama.
Ketika Kota Tidak Hanya Menjadi Lokasi
Selama ini sebuah kota kerap diperlakukan hanya sebagai tempat berlangsungnya acara. Dalam Pentas Silaturahmi Musik Literasi, Batu mengambil posisi yang berbeda: bukan sekadar lokasi, melainkan simpul pergaulan kesenian.
Hubungan antara seniman Batu dan Yogyakarta sendiri bukan sesuatu yang baru. Sejumlah seniman dan pegiat seni di Batu telah lama menjalin hubungan kreatif dengan seniman yang bermukim di Yogyakarta. Pentas kali ini menjadi kelanjutan dari jejaring persahabatan dan pergaulan kesenian tersebut.
Di sinilah gagasan silaturahmi menjadi penting. Ia bukan basa-basi sosial, melainkan metode kebudayaan: datang, bertemu, mendengar, berbagi pengalaman, dan membuka kemungkinan untuk bekerja bersama.
Peran tersebut antara lain diperkuat oleh Herman Aga, pegiat budaya Kota Batu, yang memperluas ruang perjumpaan dengan mempertemukan komunitas-komunitas dengan latar dan cara berkesenian yang berbeda dalam semangat saling mengenal, berbagi pengalaman, dan berkarya bersama dalam satu panggung.
Panggung di Batu akan menghadirkan nama-nama dengan latar perjalanan artistik yang beragam.
Dari Yogyakarta, Untung Basuki akan tampil membawa apa yang ia sebut sebagai Lagu Puisi. Musisi yang dikenal sebagai salah satu pelopor musikalisasi puisi Indonesia ini akan membawakan nomor-nomor secara tunggal maupun bersama vokalis lokal Aisyka Ayudia Inaradinata. Perjalanan artistiknya bersinggungan panjang dengan Bengkel Teater Rendra dan dunia musik puisi sejak dekade 1970-an.
Ada pula DS Priyadi, yang akan hadir melalui pembacaan puisi, serta Abror Y Prabowo dengan soundscape poetry. Keduanya membawa pengalaman panjang dalam dunia sastra dan teater Yogyakarta.
Sementara Institut Sape Dayak Yogyakarta membawa dimensi lain: sape sebagai pintu masuk untuk mengenal musik, kebudayaan, dan pengetahuan masyarakat Dayak. Sape tidak diperlakukan sekadar sebagai instrumen, tetapi sebagai bagian dari pengetahuan budaya yang terus dipelajari dan dikembangkan dalam konteks kehidupan masa kini.
Perjumpaan itu juga melibatkan Raudal Tanjung Banua, yang akan mengampu sesi diskusi setelah pertunjukan. Penyair, cerpenis, dan esais ini akan berbagi pengalaman dan pandangan mengenai sastra, seni, dan musik literasi.
Dari Batu dan Malang, hadir Joel Tampeng, Ben Lazuardi, Senja Kala, Barasua, Fitri Watoni, Herman Aga, serta Sugeng Klemin Pribadi yang akan merespons ruang melalui poetry art installation. Dari Batang hadir Punden Musikpuisi pimpinan MJA Nashir.
Spektrum tersebut memperlihatkan bagaimana satu ruang dapat menjadi tempat pertemuan antara musik, puisi, tradisi, pengalaman lokal, seni instalasi, dan berbagai bentuk eksperimentasi artistik.
“Prasmanan” Kebudayaan: Tidak Ada Satu Menu Tunggal
Jika ada satu metafora yang tepat untuk menggambarkan peristiwa ini, mungkin prasmanan kebudayaan.
Setiap seniman dan kelompok datang membawa “menu”-nya sendiri.
Ada yang membawa lagu, ada yang membawa puisi. Ada yang membawa gitar, ada yang membawa sape. Ada yang bekerja dengan teks, ada yang bekerja dengan bunyi. Ada yang tumbuh dari tradisi, ada yang bergerak dalam musik independen. Ada pula yang merespons ruang melalui karya seni instalasi.
Semuanya hadir tanpa harus dilebur menjadi satu bentuk yang seragam. Justru dari perbedaan itulah interaksi dimungkinkan.
Pentas ini mencoba membangun kebudayaan sebagai ruang yang kontributif antar-lini seni, berbasis interaksi dan sinergi kolektif yang saling menghormati. Kolaborasi tidak dipahami sebagai kewajiban untuk menyeragamkan, melainkan sebagai kesempatan untuk saling memperkaya.
Maka, yang dipertaruhkan dalam pentas ini bukan semata kualitas pertunjukan selama tiga jam. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah lampu panggung dimatikan.
Apakah perjumpaan tersebut melahirkan persahabatan baru?
Apakah muncul gagasan kolaborasi?
Apakah komunitas dari kota yang berbeda menemukan alasan untuk saling berkunjung dan bekerja bersama kembali?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi bagian dari semangat kegiatan ini.
Jejaring tersebut bahkan dirancang tidak berhenti di Batu. Setelah rangkaian di Jawa, Pentas Silaturahmi Musik Literasi direncanakan bergerak ke luar Jawa, menuju Samarinda, Tenggarong, dan Bontang.
Yogyakarta direncanakan menjadi titik puncak rangkaian Musik Literasi pada akhir 2026.
Dengan demikian, perjalanan ini dapat dibaca sebagai upaya membangun jalur pergaulan kebudayaan lintas kota: dari Jawa, menyeberang menuju Kalimantan, lalu kembali ke Yogyakarta sebagai titik temu.
Batu menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan tersebut.
Dan pada 12 September nanti, yang hadir di Zync Space and Cafe bukan hanya sebuah pertunjukan. Ia adalah sebuah perjamuan kebudayaan—tempat musik, sastra, tradisi, komunitas, seni rupa, dan manusia duduk dalam satu meja yang sama.
Bukan untuk menentukan siapa yang paling penting. Melainkan untuk menemukan apa yang mungkin lahir ketika semua bersedia saling mendengar.
PENTAS SILATURAHMI MUSIK LITERASI
12 September 2026
19.30–22.30 WIB
Zync Space and Cafe, Kota Batu
Jl Patimura Gg VI Temas- Batu
Batu — Malang — Batang — Yogyakarta — Jejaring Dayak
Musik • Puisi • Sastra • Tradisi • Seni Instalasi • Srawung Kebudayaan
Penyelenggara: Batuversity, Kamar Budaya Yogyakarta, dan jejaring komunitas budaya Batu.
CP: 081334968657 (Herman Aga)
Kota Batu, 7 September 2026
*Akaha Taufan Aminudin*
*SATUPENA JAWA TIMUR*

























