SUARAUTARA.COM,Minahasa – Suasana berbeda terlihat di Balai Desa Paslaten, Kecamatan Kakas, Jumat pagi (11/4/2025).
Ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat desa itu mendadak ramai oleh kehadiran berbagai tokoh – dari pejabat kepolisian hingga tokoh agama dan masyarakat. Semua datang dengan satu tujuan: berdiskusi, mendengar, dan mencari solusi bersama dalam kegiatan Jumat Curhat yang digagas oleh Polres Minahasa.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kapolres Minahasa, AKBP Stevent J.R. Simbar, S.I.K., yang datang bersama jajaran pejabat utama Polres, termasuk Kasat Binmas AKP W. Carlos, S.Th., dan Kapolsek Kakas IPDA Fegy Lumantow, S.H. Hadir pula Danramil Kakas Letu Inf. Jantje Wulur, Camat Kakas Rita Maindoka, S.H., serta para Hukum Tua dari desa-desa sekitar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara dibuka secara sederhana namun hangat dengan lagu Indonesia Raya dan doa bersama. Camat Kakas dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Polres Minahasa untuk membuka ruang dialog yang terbuka dengan masyarakat.
“Jumat Curhat bukan hanya program, ini adalah wadah aspirasi. Kami hadir untuk mendengar suara masyarakat,” tegas Kapolres dalam sambutannya. Ia menyampaikan bahwa salah satu misi utama Polri adalah membangun kepercayaan publik dan mewujudkan keamanan yang partisipatif.
Diskusi pun berlangsung dinamis. Para Hukum Tua mengangkat sejumlah isu krusial: dari maraknya peredaran miras, kendaraan operasional polisi yang sudah tua, hingga pentingnya pelibatan masyarakat dalam kegiatan publik.
Kapolres menjawab dengan lugas namun empatik. “Kami memahami kendala yang ada. Untuk miras, ini masuk dalam kategori barang pengawasan, dan kami harap ada dukungan regulasi dari pemerintah daerah. Soal kendaraan dinas, kami tetap upayakan pemeliharaan secara maksimal sambil menunggu pengadaan baru.”
Dialog hangat ini kemudian ditutup dengan doa oleh Pdt. Magritje Lantang, M.Th., serta ucapan terima kasih dari Ketua BPD Desa Paslaten, Richard Lambey. Wajah-wajah yang tadinya serius berubah menjadi senyum dalam sesi foto bersama.
Lebih dari sekadar temu wicara, Jumat Curhat menjadi ruang perjumpaan yang memanusiakan—di mana polisi dan warga tidak berdiri berseberangan, tetapi duduk sejajar, mendengarkan dan mencari solusi bersama demi menciptakan lingkungan yang aman dan damai.(ara)






















