Suarautara. com, Situbondo – Perhelatan bergengsi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Kabupaten Situbondo akhirnya digelar. Seminar dan Workshop Fiqih Kebudayaan bertema “Meningkatkan Kompetensi Guru Seni Budaya” ini diselenggarakan oleh LSBO (Lembaga Seni Budaya dan Olahraga) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Situbondo, Minggu (7/12/2025) di Gedung Graha Cendekia PGRI Situbondo.
Kegiatan tersebut mendapatkan perhatian khusus dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, birokrasi pemerintahan, Ketua DPRD, pemerhati budaya hingga insan pers.
Acara ini menjadi salah satu kegiatan mandiri yang fokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM) Situbondo, khususnya bagi pendidik, guru, dan akademisi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Harapannya, Situbondo mampu naik kelas dalam pengembangan kebudayaan maupun pendidikan walaupun dilakukan secara mandiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seminar menghadirkan narasumber tingkat nasional, yakni Kyai Cepu dan Juri Nasional KEN Sumenep Hosnatun (atau yang akrab disapa Pak Tutun), sehingga menambah bobot kualitas kegiatan.
Sekitar 100 peserta mengikuti seminar dan mendapatkan pemahaman mengenai kaidah fiqih dalam kesenian dan kebudayaan. Para peserta juga dibuat takjub saat ditampilkan fragmen sendratari Topeng Beranyak Pesisiran yang mengisahkan perjalanan sejarah pada tahun 1359 M, ketika Raja Majapahit Hayam Wuruk bersama para raja dari Jawa, Bali, dan Madura melakukan kunjungan ke wilayah Patukangan (Situbondo).
Menurut Pak Tutun, Tari Topeng Beranyak Pesisiran merupakan jejak peradaban kejayaan Majapahit di Patukangan. “Kesenian ini adalah peninggalan sejarah yang terus kami lestarikan. Setelah lebih 40 tahun tenggelam, kami kembali menampilkannya pada kegiatan ini,” kata Pak Tutun, generasi kelima pelestari Topeng Beranyak Pesisiran.
(ANIES)
























