Buku Melukis Pelangi di Bumi Banggai merupakan antologi puisi yang lahir dari hati para guru, penulis lokal, dan pegiat literasi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Diterbitkan oleh Satupena Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai (2025), karya ini menjadi wadah ekspresi dan refleksi atas kehidupan, alam, budaya, serta perjuangan kemanusiaan di Tanah Banggai.
Kata pengantar dalam buku ini ditulis oleh Ketua Umum Satupena, Bapak Denny JA, dan Penulis Tamu, Bapak Hamri Manoppo.
Puisi-puisi di dalamnya menyajikan enam tema besar:
Alam dan lingkungan, seperti “Air”, “Hutan, Mahkota Bumi yang Terlupakan”, dan “Paisupok, Cermin Surgawi”, yang mengingatkan manusia akan tanggung jawab menjaga bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendidikan dan perjuangan guru, terutama dalam puisi “Nasib Guru Honorer”, yang menggambarkan pengabdian tulus para pendidik di pelosok negeri.
Budaya dan kearifan lokal, yang terekam dalam “Onyop”, “Umapos”, dan “Maleo, Simfoni Alam dan Adat Banggai”.
Cinta keluarga dan kemanusiaan, seperti “Ridho Ibu, Lentera Masa Depan” dan “Rindu untuk Ayah di Surga”.
Religiusitas dan spiritualitas, yang menyentuh sisi batin pembaca melalui doa dan refleksi keimanan.
Cinta tanah air dan identitas bangsa, dalam karya seperti “Doa untukmu, Banggai” dan “Pelita Merah Putih”.
Setiap bait dalam buku ini adalah kilasan jiwa dan doa untuk tanah Banggai — tentang alam yang perlu dijaga, pendidikan yang mesti diperjuangkan, dan kasih sayang yang tak lekang oleh waktu.
Seperti judulnya, Melukis Pelangi di Bumi Banggai menghadirkan warna-warni kehidupan: ada rindu, luka, cinta, dan harapan yang berpadu menjadi satu lengkung cahaya — simbol semangat dan ketulusan insan Banggai dalam menjaga warisan budaya serta masa depan bangsanya.
Baca selengkapnya dibawah ini :

























