Wajah Lucu Susi yang Penuh Tawa dan Beratnya Wajah Guru kini

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subagio Manggopa, S.Pd

Subagio Manggopa, S.Pd

Penulis : Subagio Manggopa, S.Pd

(Kabid Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kab. Bolaang Mongondow)

Suarautara.com, Buol – Baru-baru ini, pengguna jejaring sosial Facebook dibuat heboh. Salah satu konten kreator asal Bolaang Mongondow, Susi Mokodompit, mendadak viral. Dalam video yang diunggahnya, Susi terlihat sedang mengajar anaknya di rumah dengan gaya khas: ekspresi wajahnya jenaka, nadanya tegas tapi lucu, dan sesekali diselingi tawa kecil yang justru membuat para penonton ikut tertawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada sesuatu yang menular dari wajah Susi — bukan sekadar tawa, tapi semangat kecil yang mengajarkan bahwa mendidik anak bukan soal kesempurnaan, melainkan kesabaran yang tak pernah selesai. Ia bisa terlihat marah, lalu tertawa di detik berikutnya. Bisa jengkel, tapi tetap menatap anaknya dengan kasih. Gaya jenakanya itu justru menjadi pengingat bagi banyak orang tua: bahwa mendidik bukan sekadar menyuruh, tapi juga memahami.

Video Susi itu tak hanya ramai dibagikan di Facebook, tapi juga sempat menarik perhatian Trans7, menandakan bahwa ekspresi sederhana seorang ibu bisa punya makna yang besar. Dalam setiap rekaman, ada pesan tersembunyi: mendidik itu melelahkan, tapi juga menyembuhkan; melelahkan karena tak ada jaminan hasil, menyembuhkan karena setiap prosesnya adalah bentuk cinta yang nyata.

Namun, kalau di rumah seorang ibu seperti Susi saja bisa kehilangan kata menghadapi anaknya sendiri, bagaimana dengan guru yang setiap hari berhadapan dengan puluhan, bahkan ratusan anak dengan karakter berbeda?

Guru tidak hanya bertugas mengajar di depan kelas dengan papan tulis dan spidol. Mereka juga menjadi penenang bagi siswa yang sedang murung, menjadi penengah bagi siswa yang berselisih, bahkan menjadi pengganti orang tua bagi mereka yang kehilangan arah.

Di balik senyum para guru di sekolah, sering tersembunyi kelelahan yang tak terlihat: menahan amarah, menelan kekecewaan, tetap tampil sabar meski di dalam hati berkecamuk rasa letih. Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga membentuk watak, membimbing moral, menanamkan sopan santun, dan menjaga anak-anak agar tetap berada di jalur yang benar.

Tugas guru kini menjadi semakin berat — dan kadang terasa tidak adil. Di satu sisi, mereka diminta menanamkan disiplin dan karakter. Tapi di sisi lain, setiap langkahnya diawasi oleh mata kamera dan jari-jari netizen. Di era digital, batas antara mendidik dan “melanggar” menjadi begitu tipis. Sebuah teguran bisa disalahartikan, sebuah tindakan bisa menjadi viral, dan dalam sekejap, guru bisa berubah dari pendidik menjadi terdakwa di ruang publik.

Lihat saja kasus yang sempat viral belum lama ini: seorang siswa di sebuah sekolah di Banten tertangkap merokok di lingkungan sekolah. Kepala sekolah yang menegurnya, menampar ringan sebagai bentuk disiplin sesuatu yang dulu dianggap lumrah kini justru berujung pada laporan polisi dan badai kecaman di media sosial.

Ratusan siswa mogok sekolah, masyarakat terbelah antara yang membela guru dan yang menuntutnya. Dalam hitungan jam, nama sekolah itu jadi berita nasional.

Padahal, kasus itu bukan hanya tentang rokok. Itu tentang beban moral seorang guru yang semakin berat. Tentang bagaimana guru kini harus mendidik tanpa bisa terlalu keras, menegur tanpa bisa meninggikan suara, bahkan mendisiplinkan tanpa boleh menyentuh. Satu langkah keliru saja bisa mengubah seluruh hidupnya. Guru yang dulu disegani, kini harus berjalan di atas garis tipis antara ketegasan dan kesalahan.

Dan di tengah semua itu, sosok seperti Susi Mokodompit hadir sebagai cermin kecil — bahwa mendidik sejatinya bukan soal kekuasaan, tapi soal hati. Dalam setiap tawa dan tegurannya kepada sang anak, ada pelajaran besar: emosi adalah bagian dari proses belajar. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku dan papan tulis, tapi juga dari ekspresi, kehangatan, dan kesungguhan orang dewasa di sekitarnya.

Bedanya, di rumah Susi bisa tertawa setelah anaknya ngambek. Sementara di sekolah, seorang guru bisa dilaporkan hanya karena salah intonasi ketika menegur muridnya. Itulah kenyataan berat dunia pendidikan kita hari ini.

Pendidikan seharusnya tidak menempatkan guru sebagai pihak yang selalu salah, atau orang tua sebagai pihak yang selalu benar. Keduanya sejatinya adalah dua sisi dari satu peran: pendidik. Jika seorang ibu seperti Susi bisa menertawakan kekacauan kecil di rumahnya dengan sabar dan kasih, maka seharusnya kita semua masyarakat, orang tua, bahkan pemerintah belajar untuk melihat pendidikan dengan cara yang lebih manusiawi.

Karena mendidik bukanlah pekerjaan yang bisa diukur dengan gaji atau aturan semata. Mendidik adalah pekerjaan hati, yang kadang dipenuhi tawa seperti Susi, tapi juga diiringi air mata seperti banyak guru di luar sana yang tetap berdiri tegak meski disalahpahami.

Mungkin, jika semua pihak mau sedikit meniru kesabaran dan keikhlasan dari wajah lucu Susi Mokodompit, dunia pendidikan kita akan terasa lebih hangat dan para guru tak lagi harus menanggung beratnya wajah dunia sendirian. ***

Berita Terkait

Pemdes Tadoy I Siap Gelar Hari Raya Ketupat, Terbuka untuk Umum
DP3A Bolmong Gencarkan Sosialisasi Perlindungan Anak dan Literasi Digital
Bachrudin Martho Sampaikan Ucapan Selamat Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H
Rakor FORKOPIMDA Bolmong Fokus Penanganan Isu Keamanan dan Sosial
Pemkab Gelar Rakor Kabupaten Layak Anak 2026, Bupati Tekankan Tanggung Jawab Bersama
Apel Gelar Pasukan Operasi Ketuapat Samrat 2026, Bupati Yusra dan Kapolres Bolmong Tegaskan Kesiapan Pengamanan Idul Fitri
Safari Ramadhan di Tudu Aog, Bupati Yusra Alhabsyi Ajak Warga Kolaborasi Bangun Daerah
Hadir Syukuran 1 Tahun Kepemimpinan Gubernur Sulut, Pemkab Bolmong Dapat Bantuan Cetak Sawah Rakyat dan Cadangan Pangan

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 07:33 WITA

Pemdes Tadoy I Siap Gelar Hari Raya Ketupat, Terbuka untuk Umum

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:43 WITA

DP3A Bolmong Gencarkan Sosialisasi Perlindungan Anak dan Literasi Digital

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:51 WITA

Bachrudin Martho Sampaikan Ucapan Selamat Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:22 WITA

Rakor FORKOPIMDA Bolmong Fokus Penanganan Isu Keamanan dan Sosial

Kamis, 12 Maret 2026 - 22:26 WITA

Pemkab Gelar Rakor Kabupaten Layak Anak 2026, Bupati Tekankan Tanggung Jawab Bersama

Berita Terbaru