Suarautara.com,POHUWATO – Dugaan Skandal penggelapan dana atensi tambang ilegal di Kabupaten Pohuwato kini benar-benar memasuki titik didih.
Setelah dua episode sebelumnya hanya mengandalkan kesaksian sumber-sumber anonim, kini bukti percakapan WhatsApp yang selama ini disebut-sebut beredar akhirnya terkonfirmasi keberadaannya dan isinya lebih mengejutkan dari yang dibayangkan.
Tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diperoleh redaksi memperlihatkan secara gamblang luapan kemarahan yang ditujukan langsung kepada sosok berinisial “R” yang diduga kuat adalah orang kepercayaan yang selama ini dipercaya mengelola dan mendistribusikan dana “gotong royong” dari para pelaku tambang ilegal di Pohuwato.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang sumber yang mengaku menyaksikan langsung peredaran tangkapan layar tersebut di kalangan internal jaringan tambang mengaku terkejut dengan isi percakapan itu.
“Saya tidak menyangka sampai separah ini. Orang yang selama ini dianggap paling bisa dipercaya, justru yang paling dalam menghianati. Isi chatnya jelas sekali, tidak ada yang bisa dibantah,” ujarnya kepada redaksi, Minggu (10/5), seraya meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Kalimat yang Mengguncang: “Lebih Parah dari yang AR Lakukan”
Dalam percakapan yang tertera dengan timestamp pagi hari itu, pesan pembuka langsung menyentakkan siapa pun yang membacanya:
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, tdk blh kt cerna nga pe cara ba pikir dgn sikap yg nga ambe ini R. Naudzubillah…”
Kalimat itu saja sudah mencerminkan betapa dalamnya rasa kecewa dan amarah terhadap sosok “R”. Namun yang lebih mengejutkan adalah kalimat berikutnya:
“Lebe parah dri yg AR lakukan pa kt ini uti.”
Sebuah perbandingan yang berat. Secara terang-terangan disebutkan bahwa apa yang dilakukan “R” bahkan lebih parah dari perbuatan seseorang berinisial “AR” yang diduga juga memiliki catatan kelam tersendiri dalam jaringan ini.
Seorang sumber kedua yang mengaku mengenal baik kedua sosok berinisial tersebut di lingkungan tambang Pohuwato turut buka suara, meski dengan syarat namanya dirahasiakan.
“Nama ‘AR’ itu bukan nama baru di sini. Dia punya masalahnya sendiri sebelumnya. Tapi waktu ‘R’ disebut lebih parah dari ‘AR’, itu yang bikin semua orang kaget. Karena kalau sudah lebih parah dari ‘AR’, berarti ini sudah keterlaluan sekali,” ungkapnya dengan nada serius.
Siapa “AR” ? Pertanyaan ini kini menjadi teka-teki baru yang ikut membayangi skandal ini. Bahwa nama “AR” dijadikan tolok ukur sebuah pengkhianatan namun perbuatan “R” disebut masih lebih parah, menunjukkan betapa dalamnya luka kepercayaan yang telah terjadi di dalam jaringan ini.
“Di jaringan seperti ini, nama baik dan kepercayaan itu modalnya. Sekali dikhianati, tidak mudah dipulihkan. Dan ‘R’ sudah melakukan sesuatu yang rupanya melampaui batas yang pernah dilakukan ‘AR’ sebelumnya,” tambah sumber kedua itu.
Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada satu pun pihak baik yang berinisial “R” maupun “AR” yang memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi kepada media.
Media ini tetapkan akan memberikan ruang Hak Jawab kepada kedua inisaial yang disebutkan di atas.
Apa dosa “R” yang disebut lebih parah dari “A”? Ke mana uang gotong royong itu mengalir?.
Red






















