Suarautara.com,Pohuwato – Dugaan Skandal penggelapan dana atensi tambang ilegal di Kabupaten Pohuwato memasuki babak yang semakin panas. Kini, isi percakapan WhatsApp yang selama ini hanya beredar bisik-bisik di kalangan terbatas, mulai terkuak ke permukaan dan isinya mengejutkan.
Bukan sekadar soal uang yang tidak sampai. Percakapan itu memperlihatkan betapa seorang figur yang disebut-sebut sebagai “penerima atensi” yakni pihak yang selama ini menjadi tujuan akhir aliran dana dari para pelaku tambang ilegal meluapkan kemarahan dan kekecewaannya secara gamblang kepada seseorang yang ia percaya sepenuhnya untuk mengumpulkan setoran tersebut. Kepercayaan itu, diduga kuat, telah dikhianati.
Banyak Post yang Harus Dibayar, Tapi Uangnya Entah ke Mana
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam potongan percakapan WhatsApp yang kini telah menyebar luas di kalangan aktivis dan warga Pohuwato, sang penerima atensi disebut secara eksplisit menyinggung bahwa dana gotong royong yang terkumpul seharusnya digunakan untuk “membayar banyak post” istilah yang oleh kalangan internal tambang ilegal merujuk pada sejumlah titik atau pihak yang secara rutin menerima jatah dari aliran uang tersebut.
Namun dana itu tak pernah sampai. Dan sang penerima atensi tahu persis ke mana seharusnya uang itu mengalir.
“Dari isi chat itu, jelas sekali nada marahnya. Dia merasa dikhianati oleh orang yang paling dia percaya. Bukan orang luar, bukan musuh, tapi orang kepercayaannya sendiri yang justru menjadi pengkhianat,” ungkap seorang sumber yang mengaku melihat langsung tangkapan layar percakapan tersebut, Sabtu (09/05).
Sumber yang menolak disebutkan identitasnya itu menambahkan bahwa nada percakapan dalam chat tersebut bukan sekadar keluhan biasa.
“Itu bukan chat orang yang sekadar kecewa. Itu chat orang yang merasa dipermalukan, sekaligus panik karena kalau uang itu tidak sampai ke tujuan, konsekuensinya bisa lebih besar dari yang kita bayangkan,” tambahnya dengan nada serius.
Orang Kepercayaan yang Jadi Tersangka Moral
Sosok yang kini menjadi pusat sorotan adalah seseorang yang sebelumnya dikenal sebagai tangan kanan sang penerima atensi dalam urusan pengumpulan dana dari para pelaku usaha tambang ilegal di berbagai titik di wilayah Pohuwato.
Ia bukan orang sembarangan. Menurut sejumlah sumber, sosok ini dikenal luas di lingkaran tambang, dipercaya karena kedekatan personalnya dengan sang penerima atensi, dan selama ini dianggap sebagai perantara yang “aman”.
“Justru karena dia terlalu dipercaya, tidak ada yang curiga. Dia bisa masuk ke semua kelompok tambang, semua kenal dia, semua mau setor ke dia. Dan memang itu yang dimanfaatkan,” kata sumber kedua, seorang pelaku usaha di sekitar kawasan pertambangan yang juga enggan disebut namanya.
Hingga kini, identitas lengkap sosok tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Namun berbagai kalangan yang ditemui media ini mengisyaratkan bahwa nama sang pengkhianat sudah menjadi rahasia umum di lingkaran dalam jaringan tersebut.
Post-nya Banyak, Semua Nunggu Jatah
Salah satu detail paling mengejutkan yang mencuat dari perkembangan terbaru ini adalah pernyataan sang penerima atensi yang menyebut bahwa dana “gotong royong” itu sesungguhnya bukan hanya miliknya semata melainkan harus didistribusikan ke berbagai “post” yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem operasional tambang ilegal di Pohuwato.
Dengan kata lain ada banyak pihak yang selama ini juga menunggu bagian mereka. Dan ketika uang itu raib, bukan hanya satu pihak yang dirugikan.
“Yang bikin ini bahaya adalah efek dominonya. Kalau satu mata rantai diputus, semua yang ada di bawah dan di atas rantai itu terguncang. Ini bukan perkara kecil,” ujar sumber ketiga, seorang tokoh yang mengaku mengenal beberapa pihak yang terlibat dalam jaringan tersebut.
Ia menolak memberikan rincian lebih lanjut soal siapa saja “post” yang dimaksud, namun mengakui bahwa jumlah pihak yang merasa dirugikan dari kejadian ini lebih banyak dari yang terlihat di permukaan.
Tangkapan Layar: Bukti yang Bicara Sendiri
Yang membuat kasus ini semakin sulit untuk dikubur adalah keberadaan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang kini sudah terlanjur menyebar. Menurut sumber yang mengaku telah melihat isinya secara langsung, percakapan itu memuat.
“Siapa pun yang baca chat itu, langsung paham siapa yang dimaksud. Tidak perlu pintar-pintar menebak. Nama-nama itu sudah cukup bicara bagi yang tahu medan di sini,” kata sumber pertama.
Warga: Ini Harus Jadi Pintu Masuk Pengusutan Menyeluruh
Meluasnya perbincangan soal skandal ini di kalangan masyarakat Pohuwato memunculkan harapan baru bahwa kasus ini bisa menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas ekosistem tambang ilegal yang selama ini beroperasi secara sistematis di balik tirai kegelapan.
“Kalau dulu susah membuktikan ada aliran uang di balik tambang ilegal ini, sekarang buktinya sudah ada di genggaman orang banyak. Chat itu tersebar. Yang perlu dilakukan tinggal menindaklanjuti,” desak seorang warga yang aktif memantau isu pertambangan di Pohuwato.
Sementara itu, sumber lain yang mengaku dekat dengan lingkaran pemerintahan daerah menyampaikan kekhawatirannya bahwa kasus ini bisa saja kembali tenggelam jika tidak ada tekanan publik yang cukup.
“Sudah terlalu sering begini. Ramai sebentar, lalu diam. Kita lihat saja apakah kali ini berbeda,” pungkasnya dengan nada pesimis namun menantang.
Penelusuran terhadap identitas lengkap sang “orang kepercayaan” yang diduga menggelapkan dana, serta peta lengkap jaringan distribusi atensi di wilayah Pohuwato, masih terus berlanjut.
Siapa sebenarnya sosok di balik pengkhianatan ini? Ke mana mengalirnya uang yang raib itu? Dan siapa saja “post” yang selama ini menjadi tujuan dana haram tersebut?
Red






















