Kisah Erik Andesra dalam Banjir Bandang Sumatra 2025 (1)
Oleh Rastono Sumardi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada 3 Desember 2025, pukul 15.23 WIB,
BNPB merilis data yang tak lagi terasa seperti statistik,
melainkan seperti dentuman yang meretakkan dada:
804 jiwa meninggal,
2.600 terluka,
657 hilang.
Di balik angka-angka itu,
ada wajah-wajah yang tak sempat diselamatkan;
ada doa yang terputus oleh arus.
Banjir dan longsor melanda Agam, Pasaman, Tapanuli Tengah, Aceh—
seperti satu barisan luka yang saling menyambung.
Pakar ITB berkata:
“Curah hujan ekstrem… sirkulasi siklonik…
daerah resapan hilang setelah hutan menjadi perkebunan.”
Data berbicara.
Tapi hari itu, seorang anak bernama Erik Andesra
tidak peduli pada grafik curah hujan.
Ia hanya ingin satu hal:
mendapatkan ibunya kembali.
000
Banjir bandang menghantam Palembayan, Agam.
Erik yang sedang berada di daerah lain,
mendapat telepon dari tetangga:
“Rumah ibumu tak terlihat lagi, Rik… hanyut atau tertimbun… kami tak tahu.”
Langkahnya pulang adalah langkah seorang anak
yang tak lagi bisa membedakan antara takut
dan kebutuhan untuk segera tiba.
Ketika ia sampai,
yang ada hanya puing, lumpur, batu-batu besar
yang seperti dilempar langit dengan murka.
Erik berdiri lama.
Bibirnya bergetar:
“Bu… aku pulang.”
Tak ada jawaban.
Hanya gemuruh air yang membawa
bau tanah dan kehilangan.
000
Hari pertama, relawan belum datang.
Hari kedua, alat berat belum muncul.
Hari ketiga, hanya hujan deras
yang terus menguji keteguhan hati.
Erik menggali dengan tangan kosong,
dibantu beberapa warga.
Tangannya berdarah—ia tak peduli.
Seorang tetangga menegurnya:
“Rik, berhenti dulu… kau bisa mati tertimbun.”
Erik menggeleng.
Suaranya retak namun tegas:
“Kalau saya berhenti, siapa lagi yang cari ibu saya?”
Karena bantuan tak kunjung datang,
ia menyewa alat berat sendiri.
Menggadaikan apa yang ia punya,
demi membuka jalan menuju kepastian.
Operator alat berat sempat ragu:
“Bang… lokasi ini bahaya. Tanah masih labil.”
Erik menjawab:
“Kalau Abang takut, biar saya saja yang berdiri dekat situ.
Saya cuma mau ketemu ibu saya. Hidup atau mati.”
Dialog itu menjadi saksi
betapa cinta bisa melampaui logika keselamatan.
000
Mesin mengeruk tanah.
Setiap cangkul besi yang masuk ke lumpur
menghadirkan kembali ingatan Erik:
ibunya menjemur pakaian,
ibunya menunggu di dapur,
ibunya memintanya pulang lebih sering.
Beberapa relawan datang membantu.
Salah satu berkata pelan:
“Erik, kalau tak kuat lihatnya, pergi dulu, ya?”
Erik menjawab lirih,
seperti bukan kepada mereka:
“Saya kuat. Yang saya tidak kuat adalah…
kalau Ibu hilang tanpa jejak.”
Di tenda pengungsian,
data kesehatan menunjukkan 376 kasus demam,
201 myalgia, 120 gatal, 116 ISPA—
para pengungsi semakin lemah.
Namun Erik masih berdiri di lubang itu,
seperti akar pohon yang menolak tercerabut.
000
Pada sore yang muram,
operator berteriak:
“Bang, sini cepat! Ada kain putih!”
Erik berlari.
Langkahnya kacau, dadanya pecah.
Lumpur perlahan disingkirkan.
Dan di sana…
mukena putih yang pernah ia lihat
setiap subuh ketika ibunya berdoa.
Seorang relawan menutup mulut, menangis.
Yang lain menunduk.
Erik mendekat perlahan,
tangannya gemetar,
lalu ia berbisik pada tubuh yang terbaring tenang itu:
“Bu… aku datang.
Maaf terlambat.”
Ia menangis tanpa suara.
Seakan dunia sedang memberi ruang
bagi duka yang terlalu suci
untuk dipertontonkan.
Tetapi ia tahu satu hal:
ibunya ditemukan dalam keadaan salat.
Dalam sujud.
Dalam ketenangan yang air bah tidak mampu merenggut.
000
Di berita, anggota DPR menyoroti
lambatnya koordinasi dan golden time yang terlewat.
Dana BNPB Rp500 miliar masih tersedia.
Presiden telah memerintahkan percepatan respon.
Namun bagi Erik,
instruksi itu datang terlambat
sehari setelah ia menemukan ibunya.
Seorang relawan berkata kepadanya:
“Negara seharusnya membantumu dari awal, Rik.”
Erik menghela napas,
mata tetap tertuju pada jenazah ibunya:
“Negara besar, Bang…
Tapi kadang seorang anak lebih cepat
daripada seluruh lembaganya.”
Kalimat itu menyebar pelan,
menjadi gema yang memalukan
bagi mereka yang datang terlambat.
000
Jenazah ibunya disalatkan
dengan lumpur yang masih menempel di mukena.
Erik memegang tangan ibunya untuk terakhir kalinya.
Seorang ustaz mendekat dan bertanya,
“Rik, apa pesan terakhir Ibumu?”
Erik tersenyum kecil, pahit:
“Beliau cuma bilang…
‘Pulanglah kalau hujan deras.’
Kali ini aku pulang,
tapi rumahnya sudah tak ada.”
Langit ikut merunduk.
Seakan tahu bahwa hari itu
bukan hanya seorang ibu dimakamkan,
tetapi juga masa depan yang berubah selamanya.
000
Di balik tragedi Sumatra 2025,
kisah Erik menjadi cermin yang memaksa kita menatap:
apa arti keluarga,
apa arti negara,
apa arti tanggung jawab.
Ia bukan pejabat,
bukan relawan,
bukan ahli mitigasi bencana.
Ia hanya seorang anak
yang mencari ibunya dengan cara paling manusiawi:
tak menyerah.
Dan pada malam setelah pemakaman,
ketika tenda mulai sunyi
dan banjir masih menyisakan aroma getir,
Erik duduk sendiri dan berbisik:
“Bu…
aku tidak bisa menyelamatkan Ibu.
Tapi aku bisa memastikan Ibu pulang.”
Di Palembayan,
sujud terakhir itu
menjadi monumen
yang tak dibuat dari batu,
melainkan dari cinta seorang anak
yang menolak menyerah pada air bah.
Luwuk, 11/12/2025
Catatan Kaki






















