Oleh: Temu Sutrisno
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang merasa dirinya paling kuat, paling tinggi kedudukannya, atau paling pintar di antara yang lain. Di media sosial, di kantor, bahkan di lingkaran pertemanan, perilaku seperti ini sering muncul dalam berbagai bentuk, dari komentar merendahkan, pamer pencapaian, merasa paling tahu, hingga merasa paling di antara semua hal. Kearifan budaya Jawa, mengingatkan sifat-sifat seperti itu lewat sebuah peribahasa kuno: adigang, adigung, adiguna.
Tiga kata sederhana ini mengandung pesan mendalam tentang bahaya kesombongan manusia. “Adi” berarti unggul, “gang” berarti kekuatan, “gung” berarti kebesaran atau kekuasaan, dan “guna” berarti kecerdasan atau kemampuan berpikir. Maka, adigang, adigung, adiguna berarti orang yang menyombongkan diri karena merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, kedudukan tinggi, atau ilmu yang luar biasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun bagi orang Jawa, pepatah ini bukan sekadar larangan untuk tidak sombong, namun pengingat tentang hakikat kehidupan bahwa sehebat apa pun manusia, semua itu hanya sementara dan bisa hilang kapan saja.
Secara filosofis, adigang, adigung, adiguna menuntun manusia untuk hidup seimbang antara keunggulan dan kebijaksanaan. Orang yang kuat belum tentu bijak, dan orang yang pintar belum tentu arif. Dalam pandangan hidup Jawa, ukuran kehebatan seseorang bukan pada seberapa besar kekuasaannya, tapi pada kemampuannya mengendalikan diri dan memelihara harmoni.
Sikap rendah hati atau andhap asor adalah inti dari kebijaksanaan Jawa. Sebab, kesombongan adalah bentuk ketidakseimbangan batin yang akan menjerumuskan seseorang ke arah kehancuran. Kekuatan tanpa welas asih akan menjadi kekerasan; kekuasaan tanpa tanggung jawab akan berubah menjadi penindasan; dan kecerdasan tanpa moral akan melahirkan keculasan.
Pepatah ini juga menunjukkan pandangan eksistensial Jawa: manusia bukan pusat dari segala sesuatu. Ia hanya bagian kecil dari jagad raya yang tunduk pada hukum Tuhan. Karena itu, siapa pun yang merasa dirinya paling berkuasa atau paling tahu sejatinya sedang lupa akan posisi dirinya sebagai makhluk yang terbatas.
Dalam laku spiritual Jawa, adigang, adigung, adiguna dianggap sebagai bentuk kesombongan yang menghapus keberkahan. Manusia yang mengandalkan kekuatan dan kecerdasannya sendiri tanpa menyadari campur tangan Gusti Allah, sama saja dengan menutup pintu rahmat.
Orang Jawa diajarkan untuk eling lawan waspada – selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap hawa nafsu. Kesombongan dianggap sebagai racun batin yang membuat manusia buta terhadap kebenaran. Dalam Islam pun ditegaskan, tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.
Maka, adigang (menyombongkan kekuatan), adigung (menyombongkan jabatan), dan adiguna (menyombongkan kepintaran) adalah tiga bentuk penyakit batin yang harus dihindari. Sebaliknya, manusia diajak untuk bersyukur dan menggunakan kelebihannya sebagai amanah, bukan alat untuk meninggikan diri.
Dalam tradisi budaya Jawa, banyak kisah yang mencerminkan pesan ini. Dalam dunia pewayangan, tokoh seperti Rahwana, Duryudana, dan Sangkuni adalah simbol adigang, adigung, adiguna. Mereka kuat, berkuasa, dan cerdas, tapi akhirnya binasa karena kesombongan. Sebaliknya, tokoh seperti Hanuman, Puntadewa, dan Semar menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah puncak dari kekuatan sejati.
Budaya Jawa menilai bahwa kewibawaan seseorang lahir dari budi pekerti, bukan gengsi. Seorang pemimpin yang berwibawa bukan yang ditakuti rakyatnya, tetapi yang dihormati karena keluhuran sikapnya. Karena itu, nilai-nilai seperti tepa slira (empati), ngajeni (menghormati), dan andhap asor (rendah hati) menjadi pedoman utama dalam membangun hubungan sosial.
Menjadi orang berbudaya, bagi orang Jawa berarti mampu menyelaraskan kekuasaan lahir dan ketenangan batin. Orang yang kasar, sombong, dan mudah menghina dianggap ora duwe tata– tak memiliki adab. Sebaliknya, orang yang halus, sabar, dan rendah hati dipandang duwe rasa, yakni memiliki kepekaan terhadap sesama.
Dari sudut pandang sosiologis, pepatah ini menyoroti fenomena yang masih sangat aktual, ketimpangan moral dalam struktur sosial. Dalam masyarakat modern, kekuatan bisa berupa modal ekonomi, jabatan politik, popularitas digital, atau bahkan kecerdasan akademik. Ketika salah satu unsur ini disalahgunakan, terjadilah ketidakadilan dan kesenjangan sosial.
Orang yang merasa dirinya paling hebat cenderung menindas yang lemah, menutup ruang dialog, dan menciptakan ketakutan. Fenomena adigang, adigung, adiguna bisa kita temui dalam bentuk arogansi penguasa, kepongahan intelektual, atau intimidasi sosial. Semua itu menandakan hilangnya rasa kemanusiaan dan empati.
Masyarakat Jawa memandang hal ini sebagai tanda runtuhnya rukun – keseimbangan sosial yang menjadi dasar hidup bersama. Oleh karena itu, kearifan ini mengingatkan bahwa kekuasaan dan kepandaian sejatinya harus digunakan untuk ngayomi atau melindungi dan ngayahi kanthi welas asih – memimpin dengan kasih.
Meski lahir ratusan tahun lalu, pesan adigang, adigung, adiguna terasa sangat relevan di era digital. Kini, “kekuatan” bisa berupa jumlah pengikut di media sosial, “kekuasaan” bisa tampil dalam bentuk jabatan virtual, dan “kepandaian” sering diwujudkan dalam debat daring yang tak berujung pangkal.
Pepatah Jawa ini seolah mengingatkan kita: jangan terjebak pada ilusi kebesaran diri. Dunia digital memberi ruang untuk menonjol, tapi juga menuntut kedewasaan untuk menahan diri. Kerendahan hati, empati, dan kesadaran spiritual tetap menjadi fondasi agar teknologi tidak membuat manusia kehilangan arah.
Sekali lagi menegaskan, bahwa adigang, adigung, adiguna bukan sekadar nasihat kuno. Pitutur luhur ini merupakan cermin abadi tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan dirinya di tengah kehidupan.
Kekuatan, kekuasaan, dan kecerdasan memang anugerah, tapi ketika digunakan tanpa kebijaksanaan, semuanya bisa berubah menjadi senjata yang menghancurkan diri sendiri.
Dalam dunia yang terus berubah ini, pesan Jawa itu tetap bergaung pelan namun tegas: Aja gumunggung, elinga sira dudu sapa-sapa – Jangan sombong, ingatlah bahwa dirimu hanyalah manusia biasa.
Karena pada akhirnya, kehebatan sejati bukan tentang siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang paling mampu merunduk dengan kerendahan hati. Wallahualam bishawab. ***















