Puisi: Leni Marlina
Langit belum sempat menutup matanya
ketika bumi terperosok ke dalam jeritan anak-anak.
Udara bergetar—seperti rahim yang kehilangan denyutnya.
Debu memikul nama-nama yang hangus
dan melafalkannya sebagai azan terakhir hari itu.
Gaza, engkau bukan kota,
melainkan urat nadi Tuhan yang berdenyut di tubuh manusia.
Angin yang lewat di ubun-ubunmu
bagaikan ayat yang menggigil mencari maknanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami mendengar batu berbicara
dengan lidah yang terbuat dari bara,
menyebut nama ibu-ibu yang menatap langit
tanpa suara,
tanpa matahari.
Matahari pun jatuh berlutut
di bawah kaki malam,
matanya sembab menatap bumi yang berdarah.
Di sana, kata kehilangan arti,
doa kehilangan alamat,
dan Tuhan—
membiarkan sebutir zarah cahaya
mengembara di dada waktu,
mengobati luka menjadi bentuk baru dari harapan.
Dan kami tahu—
ketika Gaza bernafas di bawah reruntuhan,
bumi sedang menulis ulang arti kemanusiaan.
Padang, Sumbar, 2025
Creator Musik : Rastono Sumardi
Luwuk, 11/12/2025
Antologi puisi selengkapnya dipublikasikan di link berikut ini:
RATAP ANGIN DI ATAS GAZA: Antologi Puisi – Editor Leni Marlina – Suarautara.com
Lagu ini diadaptasi dari puisi di atas. Dengarkan lagunya:
























