llustrasi Kumpulan Puisi “RATAP ANGIN DI ATAS GAZA”: Editor – Leni Marlina. Sumber Gambar: SuaraUtara.com untuk Puisi LM No. 01_05112025
/1/
DI UJUNG NAFAS LANGIT
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Puisi: Leni Marlina
Langit belum sempat menutup matanya
ketika bumi terperosok ke dalam jeritan anak-anak.
Udara bergetar—seperti rahim yang kehilangan denyutnya.
Debu memikul nama-nama yang hangus
dan melafalkannya sebagai azan terakhir hari itu.
Gaza, engkau bukan kota,
melainkan urat nadi Tuhan yang berdenyut di tubuh manusia.
Angin yang lewat di ubun-ubunmu
bagaikan ayat yang menggigil mencari maknanya.
Kami mendengar batu berbicara
dengan lidah yang terbuat dari bara,
menyebut nama ibu-ibu yang menatap langit
tanpa suara,
tanpa matahari.
Matahari pun jatuh berlutut
di bawah kaki malam,
matanya sembab menatap bumi yang berdarah.
Di sana, kata kehilangan arti,
doa kehilangan alamat,
dan Tuhan—
membiarkan sebutir zarah cahaya
mengembara di dada waktu,
mengobati luka menjadi bentuk baru dari harapan.
Dan kami tahu—
ketika Gaza bernafas di bawah reruntuhan,
bumi sedang menulis ulang arti kemanusiaan.
Padang, Sumbar, 2025
/2/
RATAP ANGIN DI ATAS GAZA
Puisi: Leni Marlina
Apakah kau mendengar,
ratap angin di atas Gaza—
suaranya seperti sengal napas bumi
yang hampir putus di rusuk langit.
Apakah kau melihat,
langit memerah seperti luka purba,
awan meneteskan darah cahaya,
dan matahari, dengan mata sembab,
menatap bumi seperti ibu kehilangan anaknya.
Doa-doa pun berhamburan
dari rahim reruntuhan,
mencari jalan pulang ke langit,
mengadukan nasib dan kehilangan kepada Tuhan.
Gaza bernafas lirih,
seperti jarum cahaya menjahit dada waktu;
hela napasnya menulis kembali
arti keberanian di antara abu.
Tanah pun bersuara
dengan lidah bara dan nisan,
menyebut nama anak-anak tak berdosa—
tewas begitu saja,
karena angkara berwujud genosida.
Bulan memar di pelipis malam,
meneteskan sinar seperti air mata besi.
Dan matahari—yang dahulu penghangat dunia—
kini terkurung dalam sangkar asap,
menyala samar, menatap nanar.
Di antara reruntuhan,
sebuah tubuh kecil menggenggam udara—
mencari ibunya di antara gema.
Debu di pipinya menjelma aksara kesedihan
yang tak sempat seutuhnya dibaca dunia.
Pohon-pohon zaitun menangis tanpa air mata,
rantingnya memeluk angin berlumur arang,
daun-daunnya jatuh seperti surat tak terkirim ke langit yang bijaksana.
Waktu retak seperti kaca,
detiknya jatuh ke dada bumi yang menganga.
Dan dentingnya—
seperti doa yang terhenti di tenggorokan langit.
Namun di tengah ledakan,
ada sesuatu yang tak dapat dimusnahkan—
sebuah cahaya sekecil zarah
berteriak: “Aku masih ada.”
Dan dunia pun menoleh sebentar,
lalu kembali tenggelam
dalam layar berita yang memandulkan empati.
Gaza,
engkau bukan sekadar tanah—
engkau adalah nadi bumi,
ayat yang ditulis dengan darah bintang,
saksi bahwa luka pun bisa menjadi
bahasa suci untuk memanggil Tuhan.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/3/
SAJAK-SAJAK DI LANGIT GAZA
Puisi: Anies Septivirawan
Segetir apapun
Sepahit apapun
Sekelam apapun hidupmu
Puisi mesti tetap ditulis
Di lembar waktu
yang membekas nafas
Sepedih apapun
Luka yang kau rasa
Sajak-sajak mesti bersuara
Sebab ia seperti udara di langit Gaza, begitulah ketika kubaca tulisanmu
Di lembar hati yang rusuh
Namun masih ada banyak cahaya
Dari berbagai belahan dunia
Ada jutaan tangan yang selalu mencoba
Menyambung retaknya hati mereka
Menyulam robeknya harapan di tanah Palestina
Aku yang bukan siapa – siapa
Berdiri di antara ujung masyrik dan magrib
Menyaksikan ribuan kata di atas kapal – kapal kebenaran bergerak
Mendobrak sebuah pintu negeri kesabaran yang dihuni segerombolan hewan berkaki dua
Aku bersaksi bahwa
Gaza adalah negeri doa
Doa dari rahim luka
Luka cukup lama menempa
Yang kini perkasa
Aku dan dunia bersaksi bahwa
Palestina berdaulat dan merdeka
Hingga akhir masa
Situbondo, Jatim, Oktober 2025
————–
Tentang Penulis: Anies Septivirawan
Anies Septivirawan merupakan penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis tiga buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul “Luka dan Kota Sepi Literasi”, yang kedua adalah “Menimang Rindu Senja Kala” dan buku yang ketiga berjudul “Dua Senja Menyulam Damai”
/4/
APAKAH KAU MENDENGAR TANGISAN ANAK-ANAK PALESTINA?
Puisi: Fathur Rahmi
Apakah kau mendengar,
tangisan anak-anak Palestina
yang mengalun di antara reruntuhan senja?
Apakah kau dengar jeritan perut mereka yang lapar,
yang menanti setetes air,
sepotong roti,
di bawah langit yang penuh debu dan doa?
Apakah kau melihat rumah-rumah mereka dihancurkan,
hingga mereka terpaksa bernaung
di tenda-tenda pengungsian Rafah—
tempat angin membawa kabar kehilangan setiap hari?
Apakah kau menyaksikan nyawa meregang
—puluhan, ratusan, ribuan—
berguguran tanpa tanda,
hanya karena mereka percaya
pada satu kata: iman?
Untuk apa mereka ditindas?
Untuk apa mereka diusir dari tanah kelahiran?
Apa salah mereka?
Apa dosa mereka?
Mereka bertahan demi keyakinan,
demi Al-Aqsa,
kiblat pertama umat,
tempat sujud yang kini berlumur luka.
Kawanku,
pernahkah kau dengar kabar dari Gaza—
tentang batu yang berbicara,
tentang pasir yang berbisik,
tentang pasukan putih bersayap cahaya
yang menjaga mereka dalam gelap malam?
Dan pernahkah kau cium
harum tubuh para syuhada
yang tersenyum menatap surga,
ketika dunia berpaling dari mereka?
Allah ridha kepada mereka,
dan merekapun ridha kepada Allah.
Kawanku,
pantaskah kita masih membeli baju bermerek,
memoles diri dengan tas dan sepatu mahal,
atau bersantap di restoran mewah—
sementara di sana,
anak-anak Palestina berpuasa dalam ketakutan?
Bukalah mata,
bukalah hati,
dan biarlah tanganmu menjadi jembatan peduli.
Salurkan kasih,
salurkan donasi—
sebab di ujung setiap derma
ada cahaya yang menuntun
ke arah langit yang sama:
Palestina.
Payakumbuh, Sumbar,
28 September 2025
———-
Tentang Penulis: Fathur Rahmi
Fathur Rahmi lahir di Kota Payakumbuh tahun1986. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Padang, pada tahun 2010. Semasa kuliah, ia aktif berdiskusi dan berproses bersama rekan-rekannya di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat.
Kini, di sela kesibukannya mengurus tiga buah hati tercinta, Fathur Rahmi juga aktif mengajar Bahasa Inggris di SMP IT Darussalam dan PKBM Kembang Delima. Selain menulis puisi, ia juga menekuni penulisan cerita rakyat dan fiksi mini.
/5/
KETIKA GAZA MENEGAKKAN TUBUHNYA
Puisi: Leni Marlina
Setelah semua doa terbakar,
langit kehilangan suaranya—
warna pun gugur dari matanya sendiri.
Awan menjelma abu,
dan malaikat menulis di udara
dengan tinta dari napas terakhir anak-anak.
Jam di dada bumi berhenti berdetak;
waktu tersesat di antara nisan,
memanggul sunyi seperti batu takdir
di punggung manusia yang tak lagi mengingat arah pulang.
Bulan jatuh dari singgasananya,
retaknya seperti tulang dunia,
dan darahnya mengalir menjadi sungai
di dalam mimpi orang-orang yang berdoa—
tanpa tahu kepada siapa
doa itu akhirnya bersandar.
Di antara reruntuhan,
pohon-pohon zaitun memeluk bayangannya sendiri.
Ranting-rantingnya bergetar
seperti rahim kehilangan arah kelahiran.
Daun-daunnya gugur perlahan,
menjadi surat-surat kecil
yang entah kapan sampai ke surga.
Namun Gaza—
dengan tulang retak dan napas batu—
menegakkan tubuhnya.
Ia menyusun cahaya dari serpihan kaca,
menghela napas dari abu dan bara;
dan dari celah retakan itu,
lahirlah suara sekecil denyut cahaya:
“Tidak ada kematian,
hanya pergantian napas
di dada semesta yang terus berdetak.”
Dan dunia—
yang menonton dari balik layar
dengan jari-jari dingin dan mata kosong—
tak tahu bahwa Gaza telah menjelma
bentuk baru dari doa:
doa yang berjalan tanpa tubuh,
menyusup ke dalam darah manusia,
membangunkan nurani yang tertidur
di balik kenyamanan elektronik dan statistik.
Kini hembusan angin
membawa nama-nama yang belum dikuburkan,
dan tetes hujan bercampur air mata anak-anak yang menatap langit
dengan tanya dan harap kepada Tuhan.
Dan di bawah langit yang robek itu—
Gaza berdiri,
seperti puisi yang menolak mati,
membacakan dunia
dengan darahnya sendiri.
Padang, Sumbar, 2025
——————
Tentang Penulis: Leni Marlina
Leni Marlina, lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini berdomisili di Padang, adalah penulis dan penyair yang aktif sebagai anggota SATU PENA Sumatera Barat sejak 2022 serta tergabung dengan sejumlah komunitas sastra online. Ia telah menerbitkan antologi puisi bilingual, termasuk The Beloved Teachers, L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity), dan tiga volume English Stories for Literacy.
Sejak 2006, Leni mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, menginspirasi generasi mahasiswa hampir dua dekade. Di luar akademik, ia aktif sebagai penulis lepas, editor, dan kontributor media lokal, nasional, maupun internasional, dengan puisinya dapat diakses publik melalui Suara Anak Negeri.
Meyakini menulis sebagai medium berbagi dan inspirasi, Leni mendirikan beberapa komunitas literasi digital, antara lain PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C, yang menjembatani sastra dan literasi lintas generasi.
Atas dedikasi dan kiprah literasinya, Leni dianugerahi Penulis Terbaik 2025 oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3, serta menerima ACC International Literary Prize dari Presiden ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Dengarkan !
Dibacakan Oleh Rastono Sumardi di Luwuk Kabupaten Banggai – Sulawesi Tengah
MUSIKALISASI
Baca versi bahasa Inggris : LAMENT OF THE WIND OVER GAZA: A Poetry Anthology – Editor: Leni Marlina – Suarautara.com
























