MENEMBUS MIMPI KE NEGERI BELANDA, KOTA LEIDEN JADI KENANGAN
Oleh : Dr. Tonang Mallongi,. S.Pd.MA
[Kadis Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Buol]
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
……..Leiden sebuah nama kota yang menyiratkan aura magis setiap kali aku mendengarnya. Sampai akhirnya aku benar-benar menginjakkan kakiku di kota ini. Suasanannya, sungguh telah menambat hatiku. Leiden, di kota ini kutemukan ruhnya negeri Belanda, yang membedakan dari kota-kota lain di Eropa, A Random Thought
Negeri Belanda (the Netherland), itulah sekelumit nama Negara yang cukup terkenal ketika menengok sejarah masa lalu yang penuh dengan masa kolonial bagi Bangsa Indonesia. Belanda adalah sebuah negara yang sebagain besar terletak di Benua Eropa. Belanda merupakan bagian dari kerajaan Belanda, sebuah negara monarki konstitusional yang mencakup seluruh bagian Belanda Eropa serta Belanda Karibia. Belanda terdiri dari 12 belas propinsi di Eropa barat dan tiga pulau di teritori Karibia. Belanda Eropa berbatasan denga laut utara di utara dan barat, Belgia diselatan, dan Jerman di timur serta berbagi perbatasan maritime dengan Jerman, Belgia dan Britania raya. Belanda menganut system pemerintahan demokrasi parlementer yang disusun sebagai negara kesatuan. Ibu kota dan kota terbesarnya adalah Amsterdam, sedangkan pusat pemerintahan dan kedudukan monarkinya berada di Den Haag.

Belanda adalah Negara dari segala impian. Siapa yang tidak kenal dengan negeri belanda dari mulai kincir anginnya yang indah sebagai symbol dari negara tersebut ditambah lagi dengan indahnya bunga tulip di taman Keukenhoffnya yang memiliki warna indah sebagai karpet dari Negara belanda yang banyak di kagumi oleh warganya sendiri dan para wisatawan yang berkunjung ke negeri belanda.
Sepanjang sejarah sejak zaman dahulu sudah banyak cerita negeri belanda menyimpan banyak ilmu pengetahuan yang mampu mengubah dunia. Di mulai dari pesohor Indonesia, para founding father bangsa Indonesia yang rela pergi hingga keseberang samudera untuk mendapatkan ilmu di negeri belanda. Daya tarik untuk menimba ilmu di negeri belanda pun menjadi salah satu minat bagi pemuda-pemudi sampai kapan pun. Dengan segala cara mereka gunakan agar dapat belajar di negeri kincir angin, mulai dari berprestasi di SMA agar mendapatkan beasiswa S1 ke negeri belanda hingga berprestasi dalam IPK agar dapat melanjutkan S2 ke negeri Belanda. Siapa yang sangka setelah banyak orang yang pergi meninggalkan ibu pertiwi, mereka pulang dengan gelar tertentu dan memajukan negeri kita dengan segala macam ilmu sesuai bidangnya masing-masing.
Di belanda banyak ilmu arsitektur, ekonomi, hukum dan sejarah yang patut diancungi jempol, ada juga ilmu yang terkait dengan rekayasa teknologi yang sangat luas. Sepertinya juga berbagai macam bidang ilmu di negeri belanda di jamin mutu dan kualitasnya, makanya negeri belanda menjadi daya tarik sendiri bagi orang yang ingin menambah kualitas diri dan meraih impian untuk menjadi orang yang berpengruh melanjutkan studi negeri kincir angin itu. Sekilas bisa dibayangkan bahwa pernyataan orang-orang banyak jika ilmu arsitektur di belanda bagus, buktinya ada beberapa bangunan sejak zaman belanda di Indonesia masih kokoh berdiri hingga sekarang dengan desain klasiknya, sebutlah mesium fatahillah, gereja katedral dan beberapa banggunan lainnya yang ada di seantero negeriku Indonesia. Dokumen-doumen sejarah pun banyak tersimpan di negeri belanda. Sebuah perpustakaan yang cukup terkenal KITLV namanya, perpustakaan yang dulunya adalah milik kerajaan belanda yang pengelolaannya di berikan ke universitas Leiden sampai sekarang pun masih mengoleksi dan menerbitkan buku-buku khazanah keilmuan khususnya kajian asia tenggara dan middle east. Kebenaran pernyataan orang lain pun tentang ekonomi belandapun tidak dapat diragukan lagi sampai pernah dikabarkan jika kondisi perekonomian belanda dalam keadaan tidak baik, namun tidak membutuhkan waktu lama bagi Negara tersebut untuk memulihkan perekonomiannya. Salah satu yang mendukung perekonomian belanda cepat pulih kembali adalah industry yang mendukung Negara itu. Industry di belanda yang kian maju karena warganya yang kreatif dalam mengelola perindustriannya mulai dari industry pertanian hingga 4 % pendapatan pengeksporan belanda diperoleh dari pertanian, dari bahan makanan sampai ke hasil pertanian lainnya.
Leiden adalah sebuah gemeente Belanda yang terletak di propinsi Zuid Holland yang merupakan salah satu kota terpenting di Zuid Holland maupun di Belanda secara umum. Meskipun kota ini tidak terlalu besar, dikota ini ada Universitas Leiden yang ternama dan universitas tertua di negeri Belanda yang didirikan pada tahun 1575 dan telah menghasilkan tiga belas pemenang Noble Prize. Universitas leiden juga memiliki relasi yang sangat dekat dengan histori Indonesia. Perpustakaan leiden memiliki koleksi manuskrip tentang Indonesia yang terlengkap di seluruh dunia.
Jujur, menuntut ilmu di luar negeri apalagi eropa adalah impianku sodari dulu. Dulu saya menyangka hal itu hanyalah sebatas angan belaka, terlalu muluk, Allah berkata lain, sampai sekarang tidak menyangka kalau saya benar-benar telah mewujudkan mimpi itu. Tanggal 6 september 2001 seorang anak manusia dari kampung di sebuah desa kecil dulu Torsey Namanya yang kini menjadi Desa Domag Mekar di Buol Sulawesi tengah yang bernama Tonang Mallongi pergi meninggalkan Indonesia menuju sebuah negeri baru, negeri impian untuk menuntut ilmu, di Universitas Leiden negeri belanda.
Leiden, saya pertama kali mendengar dan membaca di literature sejarah perjuangan bangsa ketika hamper semua founding father kita sekolah di leiden university di negeri Belanda. Setiap membaca biografi mereka seakan nama leiden university menjadikan mereka bisa menjadi tokoh panutan dinegeri ini, entahlah. Hatiku pula selalu merasakan aura magis setiap kali mendengar nama kota ini, pada akhirnya seperti mimpi saya bisa menginjakkan kaki di kota ini.
Menurut cerita dari teman-teman terdahulu, ketika akan berada di Negara yang baru pasti akan merasakan 4 fase yang harus dijalani oleh setiap orang yang akan pergi ke neri baru. Fase pertama, Honeymoon’s phase, dimana semuanya akan terasa baru dan menyenangkan, fase kedua, I hate this country..! phase dimana banyak kesulitan yang akan kita hadapi, culture shock, pelajaran yang semakin susah, urusan birokrasi yang berbelit-belit (belanda amat terkenal dengan urusannya yang sangat belibet) segala macam hal rumit itu yang tidak pernah di temui di Indonesia. Fase ke tiga, Acceptance phase, fase dimana kita akan mulai menerima segala macam perbedaan dan mulai beradaptasi dengan semua hal yang baru, menjalani semua kesulitan dengan tabah. Fase ke empat, I love this country Phase, biasanya fase ini akan datang ketika kita sudah berhasil melalui semua kesulitasan yang ada. Kita menyelesaikan pendidikan, dan tinggal beberapa hari lagi pulang kembali ke tanah air.
Tentu saja hal ini juga terjadi bagi saya, jujur saja inilah kali pertamanya saya pergi keluar negeri. Awalnya, sebagai salah satu dosen yang baru terangkat yang mengharuskan pemenuhian kualifikasi bahwa dosen itu harus memiliki kualifikasi minimal magister, maka menjadikan keharusanlah untukku harus lanjut ke tingkat master. Semangat untuk melanjutkan studi tidak tanggung-tanggung dengan bermimpi untuk bisa keluar negeri. Persyaratan utamanya adalah harus memiliki sertifikat Test of English As a Foreign Language (TOEFL) atau International Engish Language Testing System (IELTS) disamping persyaratan umum dan khusus lainnya.
Usaha untuk mendapatkan sertifikat TOEFL pun diikuti dengan mengikuti program 4 bulan mondok di lembaga bahasa AUSAID Manado dan mengikuti TOEFL preparation sampai mendaptkan sertifikat TOEFL serta memperoleh nilai skor 5.50. skor melebihi standar minimal untuk persyaratan studi keluar negeri. Seteleh persyaratan utama terpenuhi lalu di persiapkanlah segala dokumen terkait dengan persyaratan studi keluar negeri. Tak tanggung-tanggung dikirimlah dokumen persyaratan ke tiga lembaga pemberi beasiswa ke luar negeri masing-masing AusAID untuk studi Ke Australia, Fullbright ke Amerika Serikat dan INIS ke negeri Belanda.
Tepatnya di bulan juni tahun 2001, pihak Indonesian-Netherlands Coorperation in Islamic Studies (INIS) mengirimkan surat dan menyatakan lulus dalam seleksi ke negeri belanda bersama 10 orang lainnya dari seluruh Indonesia. Ucapan syukur dan terharu berkecamuk di dalam dada, seakan tak percaya menerima surat kelulusan itu. Dalam waktu singkat, haruslah mempersiapkan semua dokumen ke imigrasian dan dokumen akademik lainnya. Tahapan selanjutnya adalah mengikuti pelatihan bahasa belanda sebagai bekal untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat negeri belanda. Pelatihan inipun cukup singkat hanya sekira satu bulan untuk dapat mengetahui dasar-dasar bahasa belanda yang selebihnya dapat di tingkatkan langsung saat berinteraksi dengan masyarakat negeri belanda. Sementara dalam proses belajar mengajar semua perkuliahan dalam bentuk perkuliahan di kelas dan seminar-seminar dan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya.
Tepatnya, tanggal 9 september 2001, 10 orang anak muda Indonesia berangkat ke negeri Belanda yang nama negaranya sudah terkenal namun wujudnya belum di ketahui seperti apa negeri belanda itu. Terbang dengan pesawat milik kerajaan belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM Royal Dutch Airlines) Perusahaan dirgantara milik Kerajaan Belanda. KLM adalah maskapai penerbangan nasional Belanda yang didirikan pada tahun 1919 dan merupakan maskapai tertua yang masih beroperasi hingga saat ini dengan nama yang sama.
Sekitar pukul 17.00 WIB kami bersepuluh pun sudah dikumpul untuk bersiap berangkat ke terminal F bandara international Soekarno Hata yang melayani route penerbangan internasional. Saya dan teman-teman sekitar pukul 18.30 WIB berjalan menuju ke counter check in KLM yang kebetulan tergabung dengan maskapai milik prancis Air France namanya. Antrian check in sudah lumayan ramai sehingga harus mempersiapkan tiket dan passport masing-masing. Untuk kelas ekonomi dapat jatah bagasi 30 kg dan 7 kg untuk kabin. Selesai urusan check-in, kami langsung ke imigrasi dan lanjut ke ruang tunggu keberangkatan. Sebelum ke gate saya pun mencari toilet berhubung flight ke Schippol Amsterdam di jadwalkan 14 jam via singapura. Boarding pesawat KLM itu pukul 19.00 WIB dan sekitar 1 jam kemudian pesawat mendarat di Changi international airport di singapura dan penumpang yang tujuan akhirnya singapura di minta turun sementara penumpang yang lanjut ke Amsterdam di minta tetap berada di dalam pesawat.
Ini merupakan pengalaman pertama kalinya saya naik pesawat tipe AirBas berbadan lebar dengan kapasitas penumpang lebih dari 450 orang. Begitu masuk pesawat langsung mendapat senyum khas dari pramugari dan di arahkan untuk duduk di kursi sesuai nomr kursi yang tertera di boarding pass. Seatmate saya merupakan teman dari kota Bengkulu yang sodari awal sepakat duduk berdampingan. setelah pasang safety belt saya pun mulai memainkan IFE-nya (Layar untuk nonton film dan bermain game) dengan berbagai macam pilihan film dan permainan yang disuguhkan. Di kursi sudah ada selimut dan bantal. sementara Seat pitch KLM cukup lumayan lega dengan Konfigurasi kelas ekonomi dengan 3-4-3. Diberikan juga welcome drink dengan pilihan juice atau air mineral dan juga diberikan tissue hangat. Tidak lama setelah itu, pramugari mengeluarkan cart yang isinya daftar makan malam, saya pun lupa apa pilihan makan malam saat itu, tetapi saya dan dua orang yang duduk bersebalahan memesan menu yang sama nasi goreng dengan sate. Appetizenya salad, main course nasi goreng sate, dessert kue coklat dengan fla vanilla di atasnya, selain itu ada crackers, roti, dan air minireal botol, untuk minum malam itu saya minta juice orange. Semua makanan itu di habiskan, dengan hitungan 13 jam penerbangan cukuplah untuk mengisi perut selama di udara dan nanti akan diberikan sarapan pagi 2 jam sebelum landing.
Tepatnya dua jam sebelum landing, pramugari kembali mengeluarkan cart untuk membagikan sarapan. Sarapan tidak ada pilihannya, waktu itu menunya omlete. Di daftar menu terdapat meal yang terdiri dari omlete, sosis ayam, baked sliced potato dan grilled tomato, dessert berupa potongan buah (Semangka, nanas dan papaya) roti serta vla yang rasanya manis dan asin dan minumya coffee and milk.
Pesawat touchdown/landing jam 06.00 waktu setempat di Bandara International Schipol Amsterdam dan nempel Garbarata di gate bandara Schipol Amsterdam Belanda pada jam 16.20 telat sedikit dari jadwal. Imigrasi tidak begitu ramai dan saya dan teman-teman lainnya tidak di tanyakan macam-macam selain menginap dimana, kapan pulangnya. 20 menit kemudian bawaan travel bag yang ada dibagasi pun datang. Setelah datang bagasi dan semua teman berkumpul menunggu jemputan dari kordinator program INIS di negeri belanda, saya pun coba jalan keluar gedung meliat suasana baru, musim gugur yang indah dan sekaligus aneh, pohon-pohon pada gugur daunya seolah mati. Berapa selang waktu kemudian datanglah coordinator program INIS di negeri belanda Dick van Der Meij namanya, kami pun bersalaman dan berjabat tangan dan masing-masing saling memperkenalkan diri.
Tentu saja pula saya tertakjub-takjub ketika sampai di Schippol International Airport, bandara international negeri belanda yang terletak di Amsterdam. Bandaranya benar-benar besar,bersih dan modern. Alhamdulillah, Allah memudahkan kedatangan kami yang terdiri dari 10 orang anak Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di Leiden University dan kami pun langsung membeli tiket kereta tujuan Liden Centraal dan langsung ke plat/asrama international yang telah disiapkan oleh program INIS di Belanda di stationsplein nonensteg 2312 AR Leiden.
Universitas Leiden (bahasa Belanda : Universiteit Leiden; Nama Bahasa Latin Academia Lugduno- Batava) didirikan pada tahun 1575 oleh pangeran William van Orange, turunan pendiri kerajaan Belanda Orange Nassau saat negeri Oranye itu masih di kuasai Spanyol yang terletak di kota tua Leiden. Leiden sendiri, kota uzur dengan usia 746 tahun berpenduduk 119 ribu jiwa yang terletak di antara kota Amsterdam, Den Haag dan Rotterdam, kota ini dibelah oleh sungai Rijn (Rhine) yang berhulu di swiss melewati Jerman dan bermuara di negeri kincir angin Belanda. Di ruas kota leiden bagian atas, sungai ini bercabang dua yang di kenal dengan Oud Rijn dan Neeuwe Rijn yang kemudian menyatu di pusat kota. Sungai utama dan dua cabangnya bertautan dengan sungai-sungai kecil yang berupa kanal. Pada musim panas, kanal-kanal itu dipergunakan sebagai wisata air, sedangkan di musim dingin ketika salju turun menjadi arena ice skating yang menantang.
Daya tarik kota leiden, bukan hanya pada kondisinya yang bersih, rapi, ramah dan aman tetapi juga kaya dengan bangunan-bangunan kuno yang masih dilestarikan. Di kampus yang menyimpan ribuan kajian tentang Indonesia ini, terdapat pemandangan yang elok yang membuat nyaman siapapun memandang. Di depan kampus Fakultas hukum terdapat kanal-kanal dengan taman yang indan di seberangnya. Jalanan disekitarnya di alas dengan bata merah merona denga took-toko tua yang selalu ramai di lintasi orang berlalu lalang dengan sepeda onthelnya.
Universiteit Leiden merupakan universitas tertua di Belanda dan terbaik di Negara ini (2013). Pada tingkat international, universitas leiden merupakan perguruan tinggi terbaik dalam bidang ilmu social dan humaniora yang menduduki peringkat ke 60-an universitas terbaik di dunia. Universitas leiden dengan beberapa perpustakaanya, khususunya perpustakaan KITLV, menyimpan banyak sumber-sumber primer berupa dokumen, arsip colonial, buku dan foto terkait islam dan budaya di Indonesia. Tak ragu lagi, universitas leiden merupakan salah satu pusat kajian orientalisme tertua di di eropa sejak masa jaya kolonialisme Eropa. Orientalsime pada awalnya berpusat pada kajian ilsam, semula sebagai “Arab Studies” kemudian masa lebih belakangan menjadi “Islamic Studies” yang mencakup kajian Islam Indonesia.
Fase satu ini diawal kedatangan ini saya rasakan sampai dengan hari pertama kuliah. (saya memulai kuliah tanggal 9 september 2001). Semuanya terasa baik-baik saja dan saya pun merasa antusias sampai akhirnya saya merasakan betapa beratnya kuliah di negeri Belanda pada minggu pertama. Knowledge gaps yang teramat besar benar-benar sangat berpengaruh dan proses belajar. Jujur, pelajaran benar-benar berbeda dengan apa yang selama ini didapatkan di Indonesia. Materi dan bahan-bahan perkuliahan benar-benar disiapkan dan hanya tergantung dari diri kita masing-masing untuk memanfaatkan sumber belajar yang semuanya tersedia diperpustakaan universitas.
Selain itu, pengalaman culture shock juga menimpa setiap anak Indonesia yang sementara belajar di negeri belanda tidak terkecuali saya. Melihat teman-teman yang lain yang berasal dari beberapa Negara yang tergabung dalam kelas perkuliahan sepertinya dengan mudah menangkap pelajaran benar-benar membuat saya sedikit depresi. Melihat mereka dengan antusias bertanya, membuat saya minder. Bahkan saya sendiri tidak tahu harus bertanya apa. Budaya pendidikan di eropa benar-benar berbeda dengan di Indonesia. Di belanda mereka terbiasa untuk tidak malu bertanya. Para pengajarnya dengan senang hati di kritik, senang melayani pertanyaan bahkan mereka selalu berkata “there is no dumb question but no questioning is a DUMB!!!. Dan mereka mampu berkonsentrasi penuh walaupun harus duduk mendengar perkuliahan 9 jam. Luar biasa semangat mereka untuk menuntut ilmu. Saya merasa menjadi orang terbodoh di saat itu, rasanya sekeras apapun berusaha untuk belajar, tidak akan mampu mengejar ketertinggalan. Saya malu, saya merasa depresi. Mulai timbul perasaan menyesal ‘andaikan dulu saya tidak mengikuti seleksi ini, andaikan saya tidak mengisi formulir dan tidak mengikuti test wawancara, pasti saat itu saya masih berada di Buol atau di Gorontalo, menempuh kehidupan seharusnya, menjalani kehidupan sebagai dosen muda, setidaknya tidak akan seberat yang di rasakan.
Belum lagi disaat masuk di awal bulan November, harus menjalani ibadah puasa pertama di belanda di musim dingin, selain berat karena musim dingin yang sering mudah lapar dan juga makanannya tidak seperti di Indonesia disediakan manisan dan berbagai macam takjil yang siap di pilih dan juga suasana ramadhan yang tidak terasa sama sekali, ditambah lagi urusan imigrasi dan izin tinggal sementara belum selesai di kantor Gemeente/walikota leiden.
Seiring waktu, proses perkuliahan berjalan dengan baik dan mampu menyesuaikan dengan atmosfir akademik sehingga proses perkuliahan dengan tuntas diselesaikan semua mata kuliah yang telah diprogramkan. Selain ilmu akademis yang saya dapatkan ternyata adapula dinegara barat yang katanya budaya individualisnya sangat kental, justru saya banyak belajar soal bagaimana berinterkasi dengan orang lain. Di negara individualis ini malah saya jauh merasa di hargai di banding di negaraku Indonesia yang katanya lebih komunal dan menjunjung tinggi nilai-nilai tenggang rasa/Akhlak.
Sebagai contoh, orang Belanda amat sangat menjunjung tinggi privatisasi setiap orang. Jika kita keliatan galau, mereka hanya menanyakan apa khabar tanpa ada pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut (baca:susupo)/ingin tahu penyebab dibalik kegalauan kita. Tapi kalua kita memutuskan untuk bercerita tentang kegalauan itu, mereka akan jadi pendengar yang baik dan akan membantu kita sebisanya. Mereka bukannya tidak peduli dan acuh melainkan tindak ingin ikut campur jika tidak dikehendaki.
Kemudian di belanda yang katanya jauh dari agama, dimana Red Light District dan ganja adalah komoditas pariwisata, justru saya merasa lebih bebas beragama di banding di Indonesia dimana semua orang sekan merasa wajib menggurui orang yang di nilai keimanannya di bawah mereka. Semisal, pertanyaan mengenai “agama kamu apa?’ tidak akan kita temukan dikehidupan sehari-hari. Bagi orang Belanda (orang Eropa), pencantuman kolom agama di KTP pun sangat aneh. Buat mereka agama saya biarlah menjadi agama saya, begitupun agama kamu. Kenapa negara harus atur dan harus tau?. Sound familiar? Iya mereka betul-betul menerapkan ‘Lakum dinukum wa liyadiin’
Kemudian mereka akhirnya tau agama saya ketika mereka ajak saya untuk makan siang (lunch) waktu saya sedang berpuasa. Barulah kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk cerita soal agama saya, termasuk dimana saya wajib shalat lima kali sehari dan saya ceritakan kapan waktu setiap shalat. Hal mengagumkan adalah ketika ada acara keluar kota, dan disetiap waktu masuk shalat mereka teman-teman bule inilah yang mengingatkan untuk shalat tapat waktu. Padahal nyaris semua teman saya itu atheis, yang jika di indoensia pasti sudah negative bangat imagenya. Coba bandingnkan dengan Indonesia, dimana budaya “hanya mengingatkan-nya” terkadang melampau batasdan melanggar konsep ‘lakum diinukum wa liya diin’ itu sendiri yang pada akhirnya memicu pertengkaran dan jauh dari kata damai. Bukan hanya antar aama, bahkan orang dengan agama yang sama. Beda pilihan politik pun bias dikafirkan di Indonesia. Apakah kita masih merasa busaya kita yang ini lebih baik?
Poin yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa kita sudah di dokrin sejak kecil, dengan contoh film dan berbagai konten media, bahwa dunia barat memiliki budaya yang buruk dan negative dibandingkan budaya ketimuran kita. Semua orang yang mau pindah atau belajar ke negara barat pasti di ingatkan untuk berhati-hati. Padahal yang benar adalah dunai barat memiliki budaya yang berbeda dengan kita dan berbeda bukan berarti buruk/jelek. Kita mestinya harus banyak belajar dari mereka, belajar tentang menghargai waktu, menghargai lingkungan menghargai ilmu pengetahuan dan yang tidak kalah pentingnya menghargai hak privatisasi setiap orang.
Rasanya dua tahun di leiden merasa memiliki beberapa ilmu akademis yang bisa di bawa pulang untuk membangun Buol dan Indonesia tercinta, namun ilmu akademis yang saya bawa tetaplah sedikit dibandingkan ilmu soal kehidupan dan cara menghargai antar manusia yang didapatkan selama di leiden Belanda, yang jika aspek positifnya bisa di adaptasikan, dan tularkan setidaknya dilingkungan sekitar, dengan ini bisa mendekatkan kita ke perdamaian dan kerukunan yang seharusnya adalah inti dari budaya kita orang Buol dan orang Indonesia.
Ternyata belajar di negeri impian tidak seindah yang di impikan!. Mulai terasa homesick yang teramat sangat, hamper setiap malam merindu, orang-orang terkasih. Setiap di kelas tidak bisa berkonsentrasi karena sudah down duluan, mulai berpikiran. I hate this country, apalagi teringat ketika sementara mengendarai sepeda onthel tiba-tiba di sambar angin dan dijatuhi butiran-butiran salju yang membuat harus berhati-hati mengayun sepedanya, karena jika tidak pasti akan mengalami kecelakaan ban sepedanya tergelincir (ini pun terjadi kepadaku sehingga meninggalkan luka di kaki sebagai tanda tergelincir dijalanan yang penuh salju). Disaat ini terasa belum bisa terlepas dari fase kedua, walaupun dukungan dari teman-teman, guru dan keluarga berdatangan yang walaupun dukungan itu hanya melalui telpon jarak jauh yang juga tidak dapat memenuhi rasa kangen yang dikarenakan mahalnya biaya telekomunikasi ke tanah air Indonesia. Disadari pulah keberadaaanku di negeri belanda bukan hanya berpengaruh pada diri sendiri. Berhasil atau tidaknya disini dinegeri belanda mempengaruhi nama baikku, nama baik institusiku IAIN Sultan Amai Gorontalo dan bahkan nama baik negaraku tercinta, Indonesia, beban yang terasa amat sangat berat.
Akupun terdiam dan berpikir, mungkinkah aku salah satu orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri di Eropa dan GRATIS pula, walaupun aku sadari juga banyak orang yang lebih layak mendapatkan kesempatan itu dibandingkan aku. Semuanya pasti ada maksudnya. Betapa pun sulitnya rintangan yang di hadapai aku harus yakin, semua rencana Allah selalu indah, tidak ada namanya kebetulan di dunia ini, semuanya sudah di takdirkan oleh Allah SWT. Teringat kata seorang teman kepadaku, apa yang di hadapai itu setimpal dengan apa yang engkau dapatkan, tidak ada yang gratis di dunia ini, termasuk beasiswa itu, aku harus bekerja keras sebagai bayaran atas beasiswa studi luar negeri dari pemerintah belanda untuk anak Indonesia. Siapa yang bilang kuliah di luar negeri itu gampang? Tentu saja jawabanya TIDAK. Tapi ketika aku merenung untuk belajar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan selama 4 tahun 6 bulan aku pun harus bekerja keras, sabar dan ikhlas untuk bisa bertahan. Mendapatkan beasiswa belajar keluar negeri itu pun di dapat bukan karena bermalas-malasan. Tapi upah dari kerja keras selama 4 tahun lebih di STKIP Gorontalo, jujur saja ketika masuk di STKIP Gorontalo terinspirasi oleh salah satu dosenku yang alumni Amerika serikat Mr. Pallar namanya dengan pesannya, jangan mau menjadi mahasiswa biasa, tapi jadilah mahasiswa yang luar biasa, ketika di kampus jangan hanya belajar saja, tapi juga harus ikut organisasi, selain itu mulailah belajar untuk menulis karya ilmiah dan ikut kompetisi.
Aku pun benar-benar camkan ucapan itu ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Akupun menyadari, aku bukanlah anak orang kaya yang bisa mengandalkan orang tua untuk bisa mendapatkan segalanya. Aku harus bekerja keras demi mewujudkan impianku, menjadi dosen dengan gelar doctor dan bisa jadi professor. Dengan itu Allah memberikan jalan lain yang luar biasa, menuntut ilmu di luar negeri, di Eropa negeri belanda sebagai momentum yang sangat menentukan untuk bekal hidup dimasa akan datang.
Menghadapai kesulitan itu, akupun teringat akan semangat yang diberikan oleh kakak kelas yang luar biasa, mas ikhwan dan mas Kholis dengan semboyan jangan pernah lelah berkarya, kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan, tidak mungkin kita akan mendapatkan nilai A tapi belajar kita malas-malasan. Tetapi ketika kita sudah berusaha keras, dan hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan, yakinlah tidak ada yang sia-sia di dunia ini, Allah maha tahu segalanya. Terimakasih teman-temanku atas inspirasi dan semangatnya.
Alhamdulillah, perjuangan menempuh pendidikan S2 (program Magister di Universitas Leiden negeri Belanda di dapatkan melalui ujian sidang magister tepat tanggal 25 pebruari tahun 2023 dengan predikat sangat memuaskan (cumlaude), sehingga mendapatkan gelar Master of Art (MA). Perasaan senang bercampur terharu bisa menyelesaikan pendidikan di universitas leiden negeri belanda dengan harapan akan segera balik ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia.
Jadwal kepulangan ke Indonesia diatur oleh penanggung jawab program INIS dengan maskapai pesawat Garuda Indonesia route Schipol Amsterdam – Jakarta via Singapura. Hal yang sangat instimewa ketika jadwal kepulangan ke Indonesia itu bertepatan dengan hari ulang tahunku bertepatan dengan tanggal 4 maret. Hari ulang tahun yang sangat istimewa yang dirayakan di angkasa diatas pesawat dengan ketinggian 36 ribu kaki di atas permukaan laut. Tak terasa penerbangan selama 14 jam akhirnya si burung besi milik maskapai Garuda Indonesia landing di bandara international Seokarno Hatta pada pukul 16.00 WIB dengan mulus. Suasana Indonesia sudah terlihat ketika keluar dari pintu kedatangan, seakan kerinduan selama dua tahun terbayarkan sudah, I love Indonesia.






















