Pada awalnya kesenian Saronen dijadikan sebagai media menyampaikan dakwah . Metode ini diterapkan untuk lebih memudahkan masyarakat masuk agama Islam.
Dahulu kala dilaksanakan oleh cicit Sunan Kudus bernama kiyai Khotib untuk menyebarkan agama Islam.
Sementara itu, kesenian Saronen “Sumber Bunga” yanh berpangkalan di Desa Batu Ampar Kecamatan Cermee Kabupaten Bondowoso Jawa Timur berupaya melestarikan warisan kultur.
Sedangkan keberadaannya dikaitkan untuk mengiringi goyangan kuda kencak yang ditunggangi penganten ataupun acara ritual yang berkaitan dengan prosesi kehidupan manusia.
Menurut pimpinan kesenian Saronen Sumber Bunga, Edi Susiono bahwa sanggar keseniannya berdiri sejak tahun 2017 dan beranggotakan 20 orang.
Dikatakan pula, bahwa peralatannya terdiri dari saronen, kendang, gong, kenong, dan kerca-kerca (sepasang simbal kecil) dibeli sendiri melalui uang kas yang ada.
Selanjutnya ia juga mengatakan bahwa kesenian Saronen biasanya diundang satu paket dengan kuda kencak dan 4 orang penari yang terdiri laki-laki dan perempuan bertujuan untuk menghidupkan suasana.
Kesenian Saronen Sumber Bunga menurut Edi sering diundang ke Situbondo,Jember, dan Banyuwangi untuk memeriahkan perkawinan, sunatan, dan karnaval. “Alhamdulillah kesenian Saronen Sumber Bunga sudah dikenal orang banyak berkat penampilannya yang unik”,cetus Edy.
Selanjutnya ia juga menuturkan, bahwa apa yang dilakukan Sumber Bunga selama ini merupakan suatu upaya untuk ikut berperan aktif melestarikan warisan kultur.
Sementara itu, di tempat terpisah Kepala Desa Batu Ampar, Hariantodi menuturkan bahwa kesenian Saronen Sumber Bunga seringkali identik dan tidak dapat dipisahkan dengan upacara ritual penting yang dilakukan oleh masyarakat luas. Sehingga menurutnya, seringkali aspek kesenian Saronen menjadi salah satu daya tarik utama.
Melalui Media ini Edy berharap Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Instansi terkait berkenan memberikan bantuan peralatan gamelan dan pembinaan. “Sehingga nilai kesenian Saronen tidak pupus tetap terjaga kelestariannya”, damba Edy.
Reporter: SURYADI












