Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Menua bukanlah alasan untuk berhenti berkarya; ia adalah masa di mana buah pikir, pengalaman, dan kedalaman jiwa dapat dituangkan dalam bentuk karya yang paling murni. Prinsip hidup inilah yang terpancar nyata dari sosok Mas Dwikaton Singoyudo.
Di usianya yang menginjak 83 tahun—yang baru saja dirayakannya secara khidmat bersama keluarga, rohaniawan, dan para sahabat pada Jumat Pon, 23 Oktober 2026 ini di Kota Batu—beliau justru menorehkan prestasi membanggakan tingkat nasional dengan menyabet Juara 1 Lomba Menulis Puisi dalam rangka HUT PKLU Nasional Tahun 2026.
*Perjalanan Hidup yang Kaya Warna*
Lahir di Blora pada 23 Oktober 1942, Mas Dwikaton adalah potret seorang lifelong learner (pembelajar seumur hidup). Jejak langkahnya di dunia pendidikan merentang luas melintasi berbagai disiplin ilmu yang menuntut ketelitian sekaligus kreativitas: mulai dari pelayaran (APM Surabaya), lanskap pertamanan (AKIP Jakarta), ilmu ekonomi (UBAYA), hingga teknik sipil (UNTAG Surabaya).
Kombinasi antara logika terstruktur seorang insinyur sipil/perencana lanskap—yang pernah memimpin berbagai proyek besar mulai dari Bali Beach Hotel hingga perumahan dan gudang di berbagai daerah—dengan kepekaan estetikanya membentuk karakter beliau yang unik. Di balik ketegasannya, Mas Dwikaton adalah seorang seniman tulen yang mendedikasikan hidupnya sebagai pelukis, pematung, dan vokalis.
*Menempa Kata, Merajut Makna Bersama Komunitas SatuPena*
Kemenangan Mas Dwikaton sebagai Juara 1 Lomba Menulis Puisi Nasional tahun 2026 ini bukanlah sebuah kebetulan. Keaktifannya berjejaring dan berkumpul dengan para tokoh sastra, penulis, serta budayawan di komunitas seperti SatuPena terbukti semakin mempertajam daya cipta dan kepekaan sastranya.
Karya puisinya yang memenangkan kompetisi tingkat nasional tersebut menjadi bukti hidup bahwa kedalaman pengalaman hidup selama lebih dari delapan dekade mampu menjelma menjadi bait-bait puisi yang sarat makna, menyentuh hati, dan menginspirasi banyak pihak. Keberhasilan ini turut membawa kebanggaan tersendiri bagi rekan-rekan di lingkungan PKLU GPIB, memantapkan nama Mas Dwikaton sebagai figur teladan yang tidak pernah lelah berkarya.
Menebar Kasih dan Inspirasi di Senja Usia
Dalam perayaan hari ulang tahunnya yang ke-83, di mana doa-doa dipimpin oleh para tokoh seperti Dr. Slamet Henkus, Ki Syamsu Soeid, Ki Itang Sufii, dan Ki H. MadBerlin, Mas Dwikaton menyampaikan sebuah pesan mendalam tentang pentingnya berbagi kasih sayang kepada sesama. Bagi beliau, karya seni, puisi, dan ilmu yang dimiliki adalah anugerah Tuhan yang harus disebarluaskan untuk memberkati orang lain.
Kisah hidup Mas Dwikaton Singoyudo mengajarkan kita bahwa usia senja bukanlah senjakala bagi kreativitas. Selama semangat untuk terus belajar, merangkul sesama, dan mencintai seni masih menyala di dada, batas usia hanyalah sebuah angka.
Selamat atas prestasi gemilang sebagai Juara 1 Lomba Menulis Puisi Nasional dan Selamat Ulang Tahun ke-83, Mas Dwikaton Singoyudo! Teruslah menginspirasi negeri lewat goresan pena, kanvas, dan ketulusan hati Anda.
Sisir Gemilang
Batu, 24 Oktober 2026
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR









