Kalau Bukan Kita, Siapa? Dari Kongres Kebudayaan Nusantara Menyusuri Jejak Maestro Topeng Malangan

Senin, 10 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Akaha Taufan Aminudin

Kebudayaan tidak cukup hanya dibicarakan di ruang kongres. Kebudayaan harus ditemui, disapa, dirawat, dan diwariskan.

Itulah kesan yang terasa setelah mengikuti Kongres Kebudayaan Nusantara di Pendopo Kabupaten Malang. Perjalanan budaya kemudian dilanjutkan dengan menyambangi jejak almarhum Mbah Karimun, maestro tari dan topeng Malangan dari Pakisaji, Kabupaten Malang.

Perjalanan semacam ini menjadi penting karena kebudayaan bukan sekadar benda yang dipajang di museum. Di balik sebuah topeng terdapat tangan pembuatnya, di balik sebuah tari terdapat tubuh penarinya, dan di balik sebuah tradisi terdapat perjalanan panjang masyarakat yang menjaganya.

Mbah Karimun dan Topeng yang Tak Boleh Kehilangan Jiwa

Nama Mbah Karimun telah menjadi bagian penting dalam perjalanan seni Topeng Malangan. Di kawasan Pakisaji, jejak kepiawaiannya sebagai pembuat sekaligus penari topeng terus dikenang.

Di Sanggar Panji Asmoro Bangun, warisan seni topeng menjadi bagian dari kehidupan budaya yang terus dihidupkan. Topeng tidak berhenti sebagai karya rupa, tetapi menjadi bagian dari pertunjukan yang mengandung karakter, cerita, gerak, musik, dan filosofi.

Bagi mereka yang pernah mempelajari sendratari Topeng Bapang, termasuk pengalaman ketika menempuh pendidikan di IKIP Malang, perjumpaan dengan tradisi Topeng Malangan bukan sekadar pelajaran akademik. Ia menjadi pengalaman batin yang mempertemukan teori dengan kehidupan budaya yang sesungguhnya.

Karena itu, berkunjung ke jejak Mbah Karimun bukan sekadar wisata budaya.

Ia adalah ziarah kebudayaan.

Ziarah untuk mengingat bahwa pernah ada seorang maestro yang mengabdikan hidupnya kepada seni tradisi.

Pak Sholeh dan Generasi yang Melanjutkan

Selain Mbah Karimun, apresiasi juga patut diberikan kepada Bapak Sholeh Adipramono, pelatih tari sekaligus akademisi tari yang terus merawat tradisi melalui Sanggar Mangun Dharma, Tumpang, Malang.

Di tangan para pelaku seni seperti inilah tradisi memiliki kesempatan untuk terus hidup.

Sebab tantangan kebudayaan hari ini bukan hanya bagaimana menciptakan karya baru, tetapi juga bagaimana memastikan karya lama tidak kehilangan penerus.

Seorang maestro boleh berpulang.

Tetapi ilmu, gerak, nilai, dan semangatnya harus terus berjalan.

Dari Kediri hingga Trenggalek

Perjalanan kebudayaan tidak mengenal batas administratif.

Ada Cak Juwain dari Kediri SATUPENA Jawa Timur yang terus eksis membina macapat dan penyair nasional. Ada pula St. Sri Emyani dari Trenggalek SATUPENA Jawa Timur, penyair nasional yang terus berkarya dan mendapatkan apresiasi dari Badan Bahasa dan Sastra Pusat pada 2026.

Dari Kediri, Malang, Trenggalek, Blitar dan berbagai daerah lainnya, tampak sebuah jaringan kebudayaan yang sesungguhnya sangat kaya.

Ada penyair.

Ada pengrawit.

Ada penari.

Ada pelatih.

Ada akademisi.

Ada komunitas.

Ada para pegiat literasi.

Mereka mungkin bekerja di ruang yang berbeda, tetapi memiliki kegelisahan yang sama:

bagaimana kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman?

“Kalau Bukan Kita, Siapa?”

Pertanyaan yang sederhana justru menjadi sangat penting:

“Kalau bukan kita, siapa?”

Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk mengapresiasi seniman.

Ia adalah panggilan tanggung jawab.

Kalau bukan kita yang mendokumentasikan sejarah maestro, siapa?

Kalau bukan kita yang mengajak generasi muda mengenal Topeng Malangan, siapa?

Kalau bukan kita yang membaca puisi, menulis buku, menghidupkan macapat, menari, dan menjaga tradisi, siapa?

Dan kalau bukan kita yang memberi penghargaan kepada para pelaku budaya yang masih berjuang hari ini, siapa?

Kebudayaan tidak akan hidup hanya karena pemerintah membuat program.

Kebudayaan akan hidup ketika masyarakat merasa memiliki.

Kongres Boleh Berakhir, Gerakan Jangan Berhenti

Kongres Kebudayaan Nusantara akhirnya selesai.

Rombongan pulang.

Ada yang menuju Garum, Blitar, kemudian Wates, Kediri.

Tetapi perjalanan kebudayaan sebenarnya belum selesai.

Justru setelah kongres, pertanyaan yang lebih penting dimulai:

Apa yang kita lakukan setelah pulang?

Jawabannya mungkin sederhana.

Mengunjungi sanggar.

Mendokumentasikan maestro.

Menulis biografi seniman.

Menerbitkan buku.

Mengadakan pertunjukan.

Mengajari anak-anak.

Membaca puisi.

Menembang macapat.

Dan yang paling penting:

menghargai mereka yang selama ini diam-diam menjaga kebudayaan.

Sebab kebudayaan tidak hanya membutuhkan panggung.

Ia membutuhkan orang-orang yang setia merawatnya.

Mbah Karimun telah meninggalkan jejak.

Pak Sholeh terus melanjutkan.

Cak Juwain terus membina.

St. Sri Emyani terus berkarya.

Dan masih banyak nama lain yang mungkin belum kita kenal.

Maka tugas kita adalah menemukan, mencatat, mengapresiasi, dan meneruskan.

Sebab suatu hari nanti, ketika generasi berikutnya bertanya:

“Siapa yang menjaga kebudayaan Jawa Timur?”

Kita ingin dapat menjawab:

“Kami. Bersama-sama. Karena kalau bukan kita, siapa?”

Kota Batu, 9 Agustus 2026
Akaha Taufan Aminudin
*HP3N Kota Batu SATUPENA JAWA TIMUR*

Berita Terkait

Gelar Aksi di Tugu Adipura SMI Untika Luwuk Desak Pemerintah Tuntaskan Karhutla dan Penuhi Hak Dasar Rakyat
Gelar Kerja Bakti di Bantaran Sungai Soho Lurah Ajak Warga Hidupkan Gotong Royong di Kota Tua Luwuk
Aswas Kejati Sulteng Musafir Kunker Kejari Banggai Peningkatan Status Kelembagaan ke Tipe A Dalam Kajian
Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Gelar Turnamen Domino Berhadiah Rp 50 Juta 232 Tim Siap Bertanding
Guru Tidak Ditugaskan untuk Menyeragamkan Murid
Mengukir Sejarah dari Kota Wisata: KYM Kota Batu dan SATUPENA Gelar ‘Nubar’ Puisi Bersama Mendikdasmen RI
Bereskan Kabel Semrawut Wabup Furqanuddin Beri Waktu Kadishub dan Satpol PP Tertibkan Provider Nakal
Ratusan Mahasiswa Unismuh Luwuk Ikuti Pertamina Goes to Campus 2026 Peluang Magang hingga Riset Dibuka

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:24 WITA

Gelar Aksi di Tugu Adipura SMI Untika Luwuk Desak Pemerintah Tuntaskan Karhutla dan Penuhi Hak Dasar Rakyat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 23:29 WITA

Gelar Kerja Bakti di Bantaran Sungai Soho Lurah Ajak Warga Hidupkan Gotong Royong di Kota Tua Luwuk

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:40 WITA

Aswas Kejati Sulteng Musafir Kunker Kejari Banggai Peningkatan Status Kelembagaan ke Tipe A Dalam Kajian

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:00 WITA

Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Gelar Turnamen Domino Berhadiah Rp 50 Juta 232 Tim Siap Bertanding

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:18 WITA

Guru Tidak Ditugaskan untuk Menyeragamkan Murid

Berita Terbaru

OPINI

Ketika Diskusi Akan Merekatkan Tali Kerjasama

Jumat, 23 Okt 2026 - 09:52 WITA

Topik Utama

The Ultimate Guide to Online Casino 10 Euro

Jumat, 23 Okt 2026 - 09:30 WITA

Topik Utama

The Ultimate Guide to European Roulette Online

Jumat, 23 Okt 2026 - 08:58 WITA