Kabupaten Tojo Una-Una: Membangun Ekowisata di Tengah Ekspansi Sawit, Soal Keseimbangan Bukan Penolakan

Senin, 2 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Thomas Despin ()Ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) Tojo Una-Una

Belakangan ini, wacana investasi sawit skala besar di Kabupaten Tojo Una-Una kembali menjadi perbincangan hangat. Ribuan lapangan kerja, perputaran ekonomi baru, serta potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tentu menjadi daya tarik yang tidak mudah diabaikan.

Dan jujur saja, logika itu bisa dipahami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Daerah ini masih bertumbuh. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD memang belum sebesar harapan. Dari sudut pandang pemerintah daerah, investasi besar yang dampaknya cepat terlihat tentu terasa lebih konkret dan terukur.

Namun di saat yang sama, kita hidup di kawasan yang memiliki sesuatu yang sangat langka: ekosistem laut Teluk Tomini dan gugusan Kepulauan Togean, termasuk di dalamnya Taman Nasional Kepulauan Togean.

Dan ini bukan sekadar destinasi wisata.

Ini adalah satu sistem yang saling terhubung: hutan di daratan, daerah aliran sungai, mangrove di pesisir, terumbu karang, hingga pulau-pulau kecil di lepas pantai. Semuanya membentuk satu kesatuan ekologis.

Kita bahkan sudah melihat bukti nyatanya.

Setiap kali terjadi banjir di daratan, kiriman sampah plastik dan limbah ikut terbawa arus hingga ke pulau-pulau. Itu adalah pengingat sederhana bahwa darat dan laut di Teluk Tomini tidak bisa dipisahkan. Apa yang terjadi di hulu, pada akhirnya bermuara di hilir.

Karena itu, ketika muncul rencana pembukaan lahan dalam skala besar, pertanyaannya bukan soal setuju atau menolak. Pertanyaannya adalah: bagaimana pengelolaannya?

Apakah daerah aliran sungai tetap dijaga?

Apakah kawasan mangrove tetap dilindungi?

Apakah AMDAL dijalankan sebagai instrumen pengendali yang serius, bukan sekadar dokumen administratif?

Kepulauan Togean juga bukan hanya soal wisatawan.

Laut adalah ruang hidup ribuan nelayan tradisional. Jika kualitas perairan berubah akibat sedimentasi, limbah, atau tekanan berlebihan, yang pertama merasakan dampaknya bukan turis, melainkan masyarakat pesisir.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur: perkebunan adalah sektor ekonomi yang nyata dan produktif. Sawit bisa memberikan manfaat signifikan jika dikelola dengan disiplin dan tata kelola yang kuat. Namun karakter sektornya berbeda dengan ekosistem laut.

Ekosistem laut yang sehat adalah aset regeneratif. Jika dijaga, ia memperbarui dirinya sendiri. Ikan berkembang biak, terumbu karang pulih, mangrove menahan abrasi dan menyaring sedimen. Ia dapat menyediakan pangan dan penghidupan lintas generasi.

Sementara perkebunan bergantung pada siklus tanam ulang, intervensi manusia, serta dinamika harga komoditas global. Ia bisa berkelanjutan, tetapi memerlukan kontrol, pengawasan, dan kebijakan ruang yang konsisten.

Keduanya bisa berjalan.

Namun hanya jika kita sadar bahwa satu adalah aset ekologis jangka panjang yang sangat sensitif, sementara yang lain adalah aset ekonomi produktif yang membutuhkan regulasi ketat agar tidak merusak fondasi ekologis tersebut.

Tojo Una-Una pasti akan berkembang. Itu tidak terhindarkan, dan memang seharusnya demikian.

Pertanyaannya adalah: apakah perkembangan itu akan terarah dan seimbang?

Apakah tata ruang disusun berbasis data dan kajian ilmiah?

Apakah kawasan lindung benar-benar dijaga?

Apakah identitas Kepulauan Togean sebagai kawasan laut unik tetap menjadi prioritas jangka panjang?

Ini bukan tentang menolak perubahan.

Ini tentang memastikan perubahan tidak secara perlahan menggerus sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dalam horizon waktu puluhan hingga ratusan tahun ke depan.

Karena pada akhirnya, kekuatan Tojo Una-Una bukan semata pada luas lahannya atau besarnya nilai investasi.

Tetapi pada kualitas alamnya.

Pada lautnya.

Pada keseimbangan antara darat dan pesisir.

Jika keseimbangan itu mampu dijaga, kita tidak perlu memilih antara sawit dan pariwisata.

Kita bisa membangun keduanya—dengan disiplin tata ruang, pengawasan lingkungan yang kuat, transparansi data, dan visi pembangunan jangka panjang yang benar-benar berpihak pada generasi berikutnya.

Ekspansi Sawit: Tentang Keseimbangan, Bukan Penolakan

Belakangan ini kita mendengar rencana investasi sawit skala besar di Tojo Una-Una.

Ribuan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi, dan tambahan pemasukan daerah tentu menjadi daya tarik yang sulit diabaikan.

Dan jujur saja, saya bisa memahami logika itu.

Daerah kita masih bertumbuh.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD memang belum besar.

Dari sudut pandang pemerintah daerah, investasi berskala besar yang cepat terlihat dampaknya tentu terasa lebih konkret.

Namun di saat yang sama, kita juga hidup di wilayah yang memiliki sesuatu yang tidak banyak dimiliki daerah lain: ekosistem laut Teluk Tomini dan Kepulauan Togean, termasuk kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean.

Dan ini bukan hanya sekadar destinasi wisata.

Ini adalah satu kesatuan sistem: hutan di darat, sungai, mangrove, pesisir, terumbu karang, hingga pulau-pulau kecil dan besar di lepas pantai.

Semuanya terhubung.

Kita bahkan sudah merasakannya.

Setiap kali terjadi banjir di daratan, sering sampah plastik dan kiriman limbah terbawa arus hingga ke pulau-pulau.

Itu bukti sederhana bahwa darat dan laut di Teluk Tomini adalah satu sistem. Apa yang terjadi di hulu, pada akhirnya sampai ke hilir.

Karena itu, ketika ada rencana pembukaan lahan dalam skala besar, pertanyaannya bukan soal setuju atau tidak setuju.

Pertanyaannya adalah: bagaimana pengelolaannya?

Apakah daerah aliran sungai tetap dijaga?

Apakah mangrove tetap dilindungi?

Apakah AMDAL benar-benar dijalankan sebagai alat pengendali, bukan hanya sekadar administrasi?

Kepulauan Togean juga bukan hanya soal wisatawan.

Laut adalah ruang hidup bagi ribuan nelayan tradisional.

Jika kualitas perairan berubah, entah karena sedimentasi, limbah, atau tekanan berlebihan, yang pertama merasakan dampaknya bukan turis, tetapi nelayan.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa perkebunan adalah sektor ekonomi yang nyata dan produktif.

Sawit bisa memberikan manfaat ekonomi jika dikelola dengan baik dan disiplin. Namun sifatnya berbeda dengan ekosistem laut.

Ekosistem laut yang sehat adalah aset regeneratif.

Jika dijaga, ia memperbaharui dirinya sendiri. Ikan berkembang biak, terumbu karang pulih, mangrove menahan abrasi dan menyaring sedimen.

Ia bisa menyediakan pangan dan penghidupan selama ratusan tahun.

Sementara sektor perkebunan bergantung pada siklus tanam ulang, intervensi manusia, dan stabilitas harga komoditas global. Ia bisa berkelanjutan, tetapi membutuhkan kontrol dan pengelolaan yang terus-menerus.

Keduanya bisa berjalan.

Namun hanya jika kita sadar bahwa yang satu bersifat regeneratif jangka panjang, dan yang lain bersifat produktif jangka menengah yang perlu dijaga agar tidak merusak aset yang lebih permanen.

Tojo Una-Una pasti akan berkembang. Itu tidak bisa dihindari, dan memang seharusnya begitu.

Pertanyaannya adalah: apakah perkembangan itu akan terarah dan seimbang?

Apakah kita mampu menata ruang dengan cerdas, sehingga pertanian bisa berkembang tanpa menggerus kualitas laut?

Apakah kita bisa menjaga agar identitas Kepulauan Togean sebagai kawasan laut yang unik tetap terpelihara, sambil tetap membuka peluang ekonomi di darat?

Ini bukan tentang terima atau menolak perubahan.

Ini tentang memastikan bahwa perubahan tidak secara perlahan menggerus sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dalam jangka panjang.

Karena pada akhirnya, kekuatan Tojo Una-Una bukan hanya pada luas lahannya atau jumlah investasinya.

Tetapi pada kualitas alamnya.

Pada lautnya.

Pada keseimbangan antara darat dan pesisir.

Dan pada kemampuan kita menjaga semua itu untuk generasi berikutnya.

Jika kita bisa menjaga keseimbangan tersebut, kita tidak perlu memilih antara sawit dan pariwisata.

Kita bisa membangun keduanya: dengan disiplin, dengan data, dan dengan visi jangka panjang.**

Berita Terkait

Praktisi Hukum Ishak P. Adam Ingatkan Konten Kreator Touna Hindari Hujatan Negatif ke Pemimpin Daerah
Diduga Curangi Konsumen, Pihak Berwenang Didesak Sidak Alfamidi Uentanaga Bawah
Kepala SPPG Tombo 1 Bantah Tudingan Menu Makan Bergizi Gratis Mentah di SMAN 1 Ampana Kota
Hadapi Kritik dan Hujatan Media Sosial, Bupati Tojo Una-Una Tegaskan Komitmen Layani Rakyat
Pemprov Sulteng dan Pemda Buol Serahkan 4 Ekor Sapi Kurban ke Masjid Agung At-Tafakur
Posbakumadin Apresiasi Pelayanan Humanis Sat Tahti Polres Tojo Una-Una
Takbir Menggema, Polres Tojo Una-Una Tebar Kebersamaan Lewat Kurban Idul Adha
Pemkab Tojo Una-Una Raih WTP ke-14 Kali Berturut-turut dari BPK RI

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 16:00 WITA

Praktisi Hukum Ishak P. Adam Ingatkan Konten Kreator Touna Hindari Hujatan Negatif ke Pemimpin Daerah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:02 WITA

Diduga Curangi Konsumen, Pihak Berwenang Didesak Sidak Alfamidi Uentanaga Bawah

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:01 WITA

Kepala SPPG Tombo 1 Bantah Tudingan Menu Makan Bergizi Gratis Mentah di SMAN 1 Ampana Kota

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:00 WITA

Hadapi Kritik dan Hujatan Media Sosial, Bupati Tojo Una-Una Tegaskan Komitmen Layani Rakyat

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:20 WITA

Pemprov Sulteng dan Pemda Buol Serahkan 4 Ekor Sapi Kurban ke Masjid Agung At-Tafakur

Berita Terbaru