ISRA MI’RAJ
Cerpen Oka Swastika Mahendra
Kabut tipis turun perlahan di lereng Gunung Lawu. Rumah bambu Amat Suraji berdiri miring, bertahan dari dingin dan angin yang tak pernah benar-benar pergi. Malam itu berbeda. Di surau kecil tak jauh dari rumah, lampu sentir menyala lebih terang dari biasanya. Esok adalah peringatan _*Isra Mi’raj.*_
Amat Suraji duduk bersila di beranda, memandangi ladang singkong yang gelap. Tangannya kasar, bekas cangkul dan dingin. Hidup tak pernah mudah baginya. Namun, setiap kali tanggal 27 Rajab mendekat, ada getar halus di dadanya—seperti panggilan untuk kembali mengingat sesuatu yang agung.
Saminem, istrinya, keluar membawa secangkir kopi pahit. Wajahnya lelah, tapi matanya hangat. _“Besok ke surau, Mat. Gemi sudah latihan membaca doa,”_ katanya pelan. Amat mengangguk. Dalam kemiskinan, ia tak punya banyak yang bisa diwariskan selain iman.
Gemi, anak perempuan mereka yang masih SD, duduk di dalam rumah sambil mengeja tulisan Arab di buku lusuh. _*Ia membayangkan Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq, melesat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Baginya, kisah itu seperti dongeng bercahaya—jauh dari gunung, tapi terasa dekat di hati.*_
Taryono, anak sulung yang sudah SMA, membantu neneknya, Kamini, menyiapkan kayu bakar. Di sekolah, ia sering mendengar ejekan karena sepatunya usang. Namun malam itu, ia teringat cerita Mi’raj: Nabi naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha. _“Kalau Nabi saja diuji sebelum dimuliakan,”_ pikirnya, “aku pun harus kuat.”
Kamini, ibu mertua Amat Suraji, duduk dekat tungku. Rambutnya memutih, suaranya lirih. Ia sering bercerita bahwa salat lima waktu adalah hadiah langsung dari Allah. _“Itulah yang menahan kita tetap berdiri,”_ katanya, _“seperti rumah ini menahan angin dingin Gunung Lawu.”_
Keesokan malam, keluarga itu berjalan bersama ke surau. _*Warga berkumpul, pengajian dimulai. Ustaz bercerita tentang Isra yang menembus jarak, dan Mi’raj yang menembus batas. Tentang salat yang menjadi tiang kehidupan.*_ Amat Suraji menunduk, air matanya jatuh. Ia merasa kecil, tapi tak sendirian.
Saat takbir salat berkumandang, Gemi berdiri rapat di samping ibunya. Taryono meluruskan niat. Kamini mengangkat tangan dengan gemetar. Di tengah kemiskinan dan dingin gunung, mereka menemukan kekayaan yang tak terlihat: _*keyakinan.*_
Malam itu, di lereng Gunung Lawu, perjalanan Isra Mi’raj tak hanya menjadi kisah langit. Ia turun, menetap, dan hidup di rumah bambu keluarga Amat Suraji—menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka esok hari.
Musim berganti. Lawu tetap tegak, tetapi kehidupan keluarga Amat Suraji perlahan bergerak. Sejak malam Isra Mi’raj itu, Taryono berubah lebih tekun. Ia bangun sebelum subuh, salat tepat waktu, lalu berlari menyusuri jalan setapak lereng gunung. Nafasnya terengah, kakinya perih, namun di kepalanya selalu terngiang kisah Nabi yang menembus langit—perjalanan yang menuntut kekuatan lahir dan batin.
_“Aku ingin masuk TNI AD, Pak,”_ ucap Taryono suatu pagi.
Amat Suraji terdiam lama. Ia tahu mimpi itu mahal. Tapi ia juga tahu, iman adalah bekal yang tak bisa diukur dengan uang. _“Kalau niatmu lurus, jalani. Salatmu jangan bolong,”_ jawabnya.
Saminem menahan cemas, Kamini terus berdoa. Taryono berangkat ke kota kabupaten dengan bekal seadanya. Tes demi tes ia jalani: fisik, mental, kesehatan. Banyak yang gugur. _*Saat kakinya gemetar di lintasan lari terakhir, ia teringat Sidratul Muntaha—puncak perjalanan yang tak mudah dicapai. Ia bertahan.*_
Hari pengumuman tiba. Namanya dipanggil. Taryono diterima sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Tangis Saminem pecah, Amat Suraji bersujud syukur di tanah. Kamini berbisik lirih, _“Salatmu yang mengangkatmu, Le.”_
Sementara itu, Gemi tumbuh dengan caranya sendiri. Buku-buku menjadi pelariannya. Ia pandai berhitung, teliti, dan sabar. Guru SMP-nya mendorongnya terus sekolah. Beasiswa datang dan pergi, tapi Gemi tak pernah berhenti. Ia belajar akuntansi di perguruan tinggi dengan biaya pas-pasan, sambil mengajar les kecil-kecilan.
Di Jakarta, gedung-gedung menjulang seperti gunung baru. Gemi gemetar saat wawancara kerja di Bank Gudang Dwit. Ia teringat surau kecil di Lawu, doa ibunya, dan malam Isra Mi’raj yang dulu membuatnya jatuh cinta pada keteraturan—seperti salat lima waktu yang tepat dan terhitung. Ketika diterima sebagai akuntan junior, ia menelpon rumah dengan suara bergetar. _“Mak, aku kerja.”_
Tahun-tahun berlalu. Taryono pulang sesekali dengan seragam hijau, tubuh tegap, wajah matang. Gemi datang membawa cerita kota, menyisihkan gaji untuk orang tua. Rumah bambu diperbaiki sedikit demi sedikit. Amat Suraji tetap ke ladang, Saminem tetap memasak dengan sabar, Kamini tetap menjadi penjaga doa.
Pada suatu peringatan Isra Mi’raj, keluarga itu berkumpul kembali di surau. Taryono dan Gemi berdiri berdampingan. Mereka tahu, perjalanan hidup mereka berbeda arah, namun berangkat dari titik yang sama: iman yang diajarkan di lereng Gunung Lawu.
Di bawah langit yang sama, mereka memahami satu hal—seperti Isra dan Mi’raj, hidup pun adalah perjalanan. Ada jarak yang harus ditempuh, ada ketinggian yang harus dicapai. Dan salat, seperti malam itu, tetap menjadi jembatan yang menghubungkan bumi dan harapan.
Surakarta 16 Januari 2025
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT






















