Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Keberhasilan sebuah film Indonesia menembus festival film internasional merupakan kebanggaan nasional. Namun, kebanggaan itu akan terasa lebih bermakna apabila diikuti dengan dukungan nyata dari masyarakat. Salah satu bentuk dukungan paling sederhana adalah menonton karya tersebut di bioskop.
Film Empat Musim Pertiwi: Dia Akan Pulang karya sutradara Kamila Andini, yang dijadwalkan tayang pada 8 Oktober 2026, menjadi contoh bagaimana sinema Indonesia terus menunjukkan kualitasnya. Terpilih sebagai Official Selection Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 membuktikan bahwa perfilman Indonesia mampu berbicara di tingkat dunia melalui cerita yang kuat, visual yang indah, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prestasi seperti ini tidak datang secara kebetulan. Di balik sebuah film terdapat kerja keras penulis skenario, sutradara, aktor, sinematografer, penata artistik, penata musik, hingga ratusan kru yang bekerja dengan dedikasi tinggi. Mereka bukan hanya menghasilkan hiburan, tetapi juga menghadirkan karya budaya yang memperkaya identitas bangsa.
Karena itu, masyarakat perlu melihat film Indonesia bukan semata sebagai tontonan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan. Ketika kita membeli tiket dan menonton film karya anak bangsa, sesungguhnya kita sedang memberi ruang agar industri kreatif terus berkembang dan melahirkan karya-karya berkualitas.
Kehadiran Bambang Sugianto, aktor dan penyair Kota Malang, sebagai pembuka adegan film dalam salah satu rangkaian acara film ini menunjukkan bahwa sastra, teater, dan film dapat saling menguatkan. Kolaborasi lintas bidang seni seperti ini memperkaya pengalaman penonton dan mempertegas bahwa kebudayaan tumbuh melalui kerja bersama.
Di tengah derasnya arus film dari berbagai negara, Indonesia membutuhkan penonton yang tidak hanya kritis, tetapi juga apresiatif. Dukungan terhadap film nasional bukan berarti menutup diri dari karya luar, melainkan memberikan kesempatan yang adil bagi sineas Indonesia untuk berkembang di negeri sendiri.
Akhirnya, keberhasilan sebuah film bukan hanya diukur dari penghargaan internasional, tetapi juga dari kemampuannya menyentuh hati masyarakat Indonesia. Mari jadikan 8 Oktober 2026 sebagai momentum untuk memenuhi bioskop, mengapresiasi karya anak bangsa, dan menunjukkan bahwa kita tidak hanya bangga ketika film Indonesia mendapat pengakuan dunia, tetapi juga hadir memberikan dukungan di tanah air.
Menonton film Indonesia adalah bentuk apresiasi terhadap seni, budaya, dan kreativitas bangsa. Dari layar lebar, kita belajar mengenali diri sendiri, memahami sesama, dan mencintai Indonesia dengan cara yang berbeda.
Kota Batu, 5 Juli 2026
Akaha Taufan Aminudin
*Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara HP3N SATUPENA JAWA TIMUR*

























