Suarautara.com,situbondo – Sejak pukul 08.00 WIB, gerbang UPT BLK Situbondo sudah dipenuhi ratusan anak muda berjejer, map cokelat di tangan kanan, keringat di pelipis.
Mereka adalah anak-anak muda berusia produktif yang datang membawa satu harapan yang sama yakni, melamar pekerjaan lalu bekerja dan hidup layak.
Tapi di balik antrean para pelamar kerja itu, tersimpan kenyataan pahit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Job Fair yang digelar UPT BLK Situbondo, Rabu (5/8/2026) memang ramai. perusahaan membuka lowongan untuk berbagai posisi. Setidaknya menurut data panitia ada sekitar 34 perusahaan yang membuka lowongan bagi pelamar kerja.
Ketika Ijazah Kalah oleh Sertifikat
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto, ST., MM, saat diwawancarai awak media mengatakan, untuk peluang-peluang kerja tersedia cukup memadai namun para pelamar harus mempunyai kompetensi atau skill untuk perusahaan diminati.
“Kita harus mengawal dengan baik dan serius bagi para pencari kerja, jika tidak ada kompetensi atau skill kasian perusahaan yang memberikan lowongan kerja, jadi para pelamar kerja harus dipaksa mempunyai kompetensi,” ujar Sigit Priyanto.
Di sisi lain, Kepala UPT BLK Situbondo, Bahtiar Santoso, S.Sos., M.M. tidak menampik. Ia menyebut ini sebagai jurang kompetensi.
“Hari ini kami menyediakan puluhan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan baik lokal maupun luar kota, para pelamar kerja diharapkan menyesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan,” tandasnya.
Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Situbondo berada di angka 3,02 persen.
Pengamat ketenagakerjaan [Nama Pengamat] menilai, Job Fair tanpa “link and match” hanyalah seremoni.
“Selama SMK dan BLK tidak dipaksa nyambung dengan kebutuhan industri, maka 3 tahun lagi kita akan menulis berita yang sama: Job Fair ramai, lowongan sepi peminat,” katanya.
Salah satu pelamar kerja yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, ia datang untuk mencari kerja karena sudah lama terkena PHK massal saat bekerja di sektor perhotelan luar kota, namun ia ingin mengadukan nasibnya di bidang industri ritel modern (sektor perdagangan eceran).
Terpantau dilapangan para pelamar kerja juga lebih berminat untuk mendaftar di lowongan perusahaan seperti, Pegadaian, KDS, JNE dan juga M Mart dibandingkan dari perusahaan-perusahaan lainnya yang tersedia.

























