Jakarta, SUaraUtara.com – Sepak bola Indonesia kembali memasuki babak baru. Kompetisi kasta tertinggi Tanah Air yang sebelumnya dikenal dengan nama Liga 1 Indonesia, kini resmi berganti menjadi BRI Super League 2025/26.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga simbol awal era baru dengan ambisi besar untuk menghadirkan liga yang lebih profesional, modern, dan sarat gengsi.
Super League musim ini dimulai pada 8 Agustus 2025 dan akan berakhir pada 23 Mei 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 18 klub siap bersaing, terdiri atas 15 tim dari musim lalu dan tiga tim promosi dari Liga 2.
Kompetisi juga akan menyisakan jeda pada 1–19 Desember 2025 karena adanya Sea Games di Thailand.
Persib Bandung: Juara Bertahan yang Ditantang
Sorotan terbesar jelas tertuju pada Persib Bandung, sang juara bertahan dua musim beruntun.
Dengan koleksi sembilan gelar sepanjang sejarah kompetisi profesional, Maung Bandung menjadi tim paling sukses di Indonesia saat ini.
Tantangan besar menanti Persib. Ambisi bobotoh untuk menyaksikan tim kesayangan mencatat sejarah hattrick juara membuat tekanan semakin tinggi.
Rival-rival seperti Persija Jakarta, Arema FC, Borneo FC, hingga Persebaya Surabaya tentu tak tinggal diam.
Drama Awal Musim
Sejak pekan pertama, tensi persaingan langsung terasa.
Persija Jakarta membuka musim dengan kemenangan gemilang, menekuk Persita Tangerang 4-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Atmosfer pertandingan tersebut luar biasa, ribuan Jakmania memenuhi tribun untuk menyaksikan kebangkitan tim kesayangan.
Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Dalberto, striker anyar Macan Kemayoran.
Dengan torehan enam gol dalam beberapa laga awal, ia kokoh di puncak daftar pencetak gol sementara.
Ketajamannya bahkan membuat lini belakang lawan kalang kabut.
Tak hanya Persija, Persebaya Surabaya juga mencatat laga paling dramatis sejauh ini.
Bajul Ijo melibas Bali United dengan skor 5-2, menjadikannya pertandingan dengan jumlah gol terbanyak di awal musim.
Stadion Penuh dan Sepi Penonton
Super League 2025/26 juga menyuguhkan data menarik soal jumlah penonton.
Pertandingan Persija vs Persita mencatat rekor tertinggi dengan 29.456 penonton yang hadir di stadion.
Sorak-sorai di Gelora Bung Karno menjadi bukti nyata betapa tingginya animo masyarakat terhadap sepak bola nasional.
Namun, di sisi lain, ada juga pertandingan yang hanya disaksikan segelintir orang. Laga PSBS Biak kontra Persik Kediri tercatat hanya dihadiri 94 penonton.
Kontras ini menjadi pekerjaan rumah bagi operator liga, terutama soal akses dan promosi di wilayah-wilayah tertentu.
Secara keseluruhan, hingga akhir Agustus, total jumlah penonton mencapai 197.608 orang.
Angka yang cukup positif, mengingat kompetisi baru memasuki awal musim.
Klasemen Sementara: Persija di Puncak
Hingga pekan keempat, Persija Jakarta memimpin klasemen dengan raihan 10 poin.
Tepat di bawahnya ada Borneo FC Samarinda dengan 9 poin, disusul Arema FC dan PSIM Yogyakarta yang sama-sama mengoleksi 8 poin.
Persib Bandung sendiri masih berada di posisi lima besar dengan 6 poin.
Meski tertinggal, jalan menuju tahta juara masih panjang, dan pengalaman mereka sebagai tim besar membuat peluang mempertahankan gelar tetap terbuka.
Super League, Nama Baru dengan Harapan Baru
Sejak 2008, kompetisi sepak bola Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan nama.
Dimulai dari Indonesia Super League (ISL), kemudian menjadi Liga 1 Indonesia pada 2017, dan kini berevolusi lagi menjadi Super League.
Rebranding ini diharapkan tidak hanya sekadar pergantian nama.
Dengan nama baru, liga ingin tampil lebih profesional, menarik sponsor, serta meningkatkan gengsi di level Asia.
Publik pun berharap perubahan ini mampu menghadirkan kompetisi yang lebih transparan, berkualitas, dan bebas dari masalah non-teknis yang selama ini kerap menghantui.
Pertarungan Klasik yang Dinanti
Selain perebutan gelar, laga-laga penuh gengsi tetap jadi magnet utama.
Duel klasik seperti Persib vs Persija, Arema vs Persebaya, hingga PSM Makassar vs Bali United selalu menghadirkan tensi tinggi.
Pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang harga diri, gengsi daerah, dan kebanggaan suporter.
Kehadiran tiga tim promosi pun menambah warna.
Mereka datang dengan motivasi besar untuk membuktikan diri, sekaligus berpotensi menghadirkan kejutan tak terduga.
Super League 2025/26 baru berjalan, namun sudah menghadirkan banyak cerita: mulai dari Dalberto yang tampil ganas, stadion penuh sesak di Jakarta, hingga laga yang hanya ditonton puluhan orang.
Semua itu mempertegas betapa dinamisnya sepak bola Indonesia.
Kini, pertanyaan besar muncul: apakah Persib Bandung mampu mempertahankan gelar dan mencetak sejarah hattrick juara, atau justru Persija dengan semangat baru akan merebut tahta? Jawaban itu hanya bisa ditentukan di atas lapangan, sepanjang perjalanan panjang musim ini.
Satu hal yang pasti, Super League telah membuka era baru dalam sejarah sepak bola Indonesia penuh drama, penuh gairah, dan siap mencetak kisah baru yang akan dikenang.
























