SUARAUTARA.COM, Buol – Pemerintah Pusat melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah menyiapkan dana sebesar Rp7,6 triliun yang akan digunakan untuk membiayai penyediaan minyak goreng kemasan bagi masyarakat sebesar 250 juta liter per bulan atau 1,5 miliar liter selama enam bulan.
Semenjak terbit kebijakan minyak goreng murah pada 19 Januari 2022 kemarin, harga minyak goreng turun dari Rp20.000 per liter menjadi Rp14.000 per liter.
Meski begitu, berdasarkan pantauan suarautara.com, dibeberapa pasar tradisional seperti pasar Paleleh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga hari ini Jum’at 18 Januari 2022 stok ketersediaan minyak goreng murah sulit didapatkan dipasaran apalagi di kios dan Toko kelontongan.
Per hari ini, dari 3 toko sembako dan pasar yang dipantau, minyak goreng murah ini pun masih sulit ditemui. Bahkan, di beberapa toko dan minimarket stok minyak goreng murah ini ludes hanya dalam waktu satu hari.
Salah satu pemilik toko minimarket di pertokoan Paleleh yang meminta namanya tak dipublis mengungkapkan kekosongan stok minyak goreng ini langsung terjadi seminggu setelah keputusan penurunan harga diberlakukan. “Minyak itu dari awalnya emang ada stoknya. Pas begitu program pemerintah mulai pas tanggal 19 itu selang seminggu stok langsung habis,” ujarnya saat ditemui, Jum’at, 26 Januari 2022.
Hingga hari ini, ia mengaku belum mendapat kiriman stok minyak goreng dari gudang pusat. Maka dari itu, rak bagian tempat display minyak goreng dibiarkan kosong akibat kosongnya stok minyak goreng. “Memang belum ada pengiriman lagi dari DC-nya, padahal kita juga pas kemarin ada minyak goreng murah sudah membatasi kepada konsumen maksimal pembelian 1 pouch kemasan 2 liter,” lanjutnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Diskumperindag Kabupaten Buol, Djufrin Dj. Manto, SE mengatakan, kejadian ini diakibatkan sebagian masyarakat yang melakukan panic buying.
“Sebetulnya kami sudah mengimbau kepada masyarakat dan membatasi penjualannya yaitu maksimal satu orang dua liter, hanya mungkin ada kekhawatiran dari warga Buol itu, mumpung minyak murah beli banyak atau nyetok banyak. Jadi ada semacam panic buying di masyarakat,” ujar Manto saat dihubungi, Jum’at (18/02/2022).
Maka, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Sebab, program minyak goreng murah ini akan berlangsung selama 6 bulan ke depan. “Jadi kami mengimbau beli seusai kebutuhan saja, karena ini programnya bakal berjalan berjalan selama 6 bulan,” lanjutnya.
“Jadi Pemerintah Pusat itu sudah menggelontorkan anggaran sebesar Rp7,6 triliun melalui Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit yang nantinya digunakan untuk membiayai minyak goreng yang harganya Rp14.000. Jadi disubsidi ke pabrikan-pabrikan sehingga pabrik tidak akan rugi karena sudah di subsidi oleh pemerintah,” pungkasnya.
Editor : Ruslan Panigoro






















