Suarautara.com, Situbondo – Dulu, namanya sering disebut di tempat yang salah.
Malam-malam dihabiskan di ruang karaoke, ditemani gemerlap lampu dan gelas yang tak pernah kosong. Uang dicari, uang dihabiskan. Hidup rasanya ramai di luar, tapi kosong di dalam.
Tapi hidayah datang tanpa mengetuk pintu.
Totok Haryono memilih berhenti. Meninggalkan semua yang dulu jadi kebanggaan semu. Ia memilih jalan yang sunyi: jalan tobat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan itu nyata. Hari ini, beliau sudah jauh berbeda. Kesibukan beliau kini berkutat di dunia yang halal dan penuh keringat: *menggeluti usaha ekspedisi pasir dan tambang*. Dari yang dulu menghabiskan uang untuk hal sia-sia, sekarang beliau bekerja keras menafkahi keluarga dengan cara yang diridhai Allah.
Langkah hijrahnya pun dibuktikan dengan nyata.
Tahun ini, langkah kaki beliau menginjak Tanah Suci. Menunaikan ibadah Umroh bersama biro travel JM Hafas Situbondo yang profesional dan berpengalaman.
Yang membuat perjalanan ini semakin istimewa, beliau berangkat bersama para ulama dan tokoh.
Ada Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah KH. Azzaim Ibrahimy dan Nyai Hj. Ning Sari, Wakil Bupati Situbondo Hj. Ulfiyah, ketua APDESI H. Juharto, dan jamaah lainnya. Berada di tengah orang-orang sholeh, semakin menguatkan niat hijrah beliau.
Menangis di depan Ka’bah, memohon ampun dan memulai lembaran baru.
Hari ini Totok bukan lagi orang yang dulu. Ia bukti bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali. Bahwa masa lalu bukan vonis. Selama hati masih mau sujud, Allah masih buka pintu seluas-luasnya.
Kisah beliau jadi cermin untuk kita semua. Bahwa seberapa jauh pun kita pernah melangkah ke arah yang salah, satu keputusan untuk kembali kepada Allah bisa mengubah segalanya. Dari gelap, menuju cahaya.

























