Oleh Akaha Taufan Aminudin
Di tengah riuhnya dunia sastra yang sering terjebak antara “terlalu puitis” atau “terlalu ilmiah”, hadir sebuah perbincangan menarik dalam program NGOBRAS yang tayang di kanal Dhamma Televisi.
Tema yang diangkat tidak main-main: genre puisi baru yang dinamakan puisi esai. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan perdebatan panjang tentang batas-batas sastra itu sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Puisi esai bukan sekadar puisi panjang dengan catatan kaki. Ia adalah pertemuan dua dunia: keindahan bahasa yang menggetarkan rasa dan kedalaman gagasan yang menggugah nalar.
Jika puisi selama ini identik dengan metafora dan perasaan, sementara esai dikenal dengan argumentasi dan fakta, maka puisi esai mencoba menjembatani keduanya. Ia tidak hanya ingin dibaca, tetapi juga dipikirkan.
Dalam diskusi tersebut, puisi esai diposisikan sebagai bentuk yang lebih kontekstual—membicarakan realitas sosial, politik, kemanusiaan, bahkan sejarah, dengan pendekatan yang tetap puitis namun bertanggung jawab secara intelektual. Ada keberanian untuk menyebut peristiwa, tokoh, dan data. Ada juga kesadaran bahwa keindahan bahasa tak harus kehilangan pijakan pada kenyataan.
Yang menarik, genre ini lahir bukan semata-mata sebagai eksperimen estetik, tetapi sebagai respons terhadap kebutuhan zaman. Di era ketika publik haus narasi yang mencerahkan sekaligus menyentuh, puisi esai menawarkan alternatif. Ia bisa menjadi ruang refleksi yang tidak menggurui, namun tetap tajam.
Tentu saja, setiap “genre baru” selalu mengundang pro dan kontra. Ada yang menganggapnya pembaruan segar, ada pula yang memandangnya sebagai perluasan dari tradisi lama yang sebenarnya sudah ada.
Namun justru di situlah dinamika sastra bekerja. Sastra tidak pernah statis; ia tumbuh dari perdebatan, dari tafsir, dari keberanian memberi nama pada sesuatu yang sebelumnya tak terdefinisi.
Puisi esai juga mengingatkan kita bahwa sastra bukan hanya soal keindahan bunyi, tetapi juga keberanian bersuara. Ia dapat menjadi medium empati terhadap mereka yang terpinggirkan, ruang kritik terhadap ketidakadilan, sekaligus jembatan dialog antar gagasan.
Pada akhirnya, entah kita sepakat menyebutnya genre baru atau tidak, diskusi tentang puisi esai membuka ruang penting: bahwa sastra Indonesia terus bergerak. Dan selama masih ada ruang ngobrol seperti ini—yang serius tapi tetap hangat—kita tahu bahwa sastra belum kehilangan denyutnya.
Berikut ini video YouTube :
NGOBRAS ‑ GENRE PUISI BARU YANG DINAMAKAN PUISI ESAI�
https://youtu.be/5sUGfcwnWPc?si=FbpmTIK5RQWNGOBRAS – GENRE PUISI BARU YANG DINAMAKAN PUISI ESAI
Bersama Ki Syamsu Soeid Ketua Humas SATUPENA JAWA TIMUR
Ini adalah video yang berasal dari kanal Dhamma Televisi dan membahas tentang sebuah genre puisi baru yang dinamakan puisi esai (puisi yang dipadukan dengan esai).
Jumat 13 Februari 2026
Akaha Taufan Aminudin
Komunitas Puisi Esai Jawa Timur (KPJ)
SATUPENA JAWA TIMUR

























