Oleh: Anies Septivirawan|Penulis
Kegemaran menulis bagiku adalah karunia yang jatuh dari langit, kata orang alim adalah karunia dari tuhan yang diberikan kepada orang – orang yang dikehendaki – Nya termasuk kepadaku.
Karena pemberian itu dari tuhan, maka aku harus berterimakasih, bersyukur kepada sang pemberi, tuhan semesta alam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku harus menjaga dan merawat karunia itu. Bahkan aku harus mencintai karunia itu.
Karunia itu kujaga marwah dan kemuliaannya, karena aku mencintai kegemaran menulis sampai saat ini. Mungkin kalau tuhan meridhoi sampai menjelang ajalku, aku tetap menulis apa saja.
Karena karunia itu bagiku adalah harta karun non benda yang sengaja diruntuhkan dari langit dengan catatan skenario buku besar-Nya.
Kini harta karun non benda itu bukan hanya harus kujaga dan kugosok-gosok di gelapnya malam. Namun sudah kutiupkan roh agar bisa berdialog denganku, dengan seluruh makhluk ciptaan tuhan.
Dan ketika kutiupkan roh kepada kegemaranku itu, ia menjelma bakat. Bakat yang ada padaku saat ini telah menjadi teman dekat yang sangat mengerti serta bisa membedakan hitam dan putih, baik dan jahat, salah dan benar.
Bakat itu adalah bakat menulis. Menulis ayat-ayat kebaikan, dan kebermanfaatan bagi seluruh isi semesta alam. Di dalam kebaikan itu ada kelembutan. Di dalam kelembutan itu ada larik-larik puisi, ada mantra, ada doa. Doaku, doamu, doa kalian, doa mereka, juga doa kita.
Doaku yang kerap diijabah oleh tuhan, ketika aku selalu meminta, merengek pada tuhan agar aku selalu sehat jasmani dan rohani, agar aku diberi kelancaran rejeki, agar aku tidak mengalami stagnasi menulis. Terima kasih, ya tuhan: aku selalu lancar menuangkan ide untuk menulis apa saja.
Di balik tabir hikmah kelancaran menulis itu, aku mendapatkan bonus dari-Mu, ya tuhan. Aku sudah merampungkan 3 antologi puisi sejak tahun 2022 sampai saat ini.
Meskipun ketiga buku antologi puisi yang aku tulis itu belum bisa mensejahterakanku, keluargaku, dan belum mampu meningkatkan status sosialku secara materi, namun jiwa, batin dan ragaku menjadi sehat, terhindar dari aura negatif. Terhindar dari segala macam jenis penyakit.
Lalu, benarkah aku menjadi sehat jiwa raga karena rajin menulis? Entahlah. Hanya Allah, tuhanku yang tahu segalanya.
Kini, ketiga antologi puisi itu menyisakan sepotong kepuasan batin buatku. Kepuasan batin itu berbisik di telinga malam sunyi kepadaku: “Kamu juga bisa menulis, kendati tidak sehebat para penulis hebat dan menyandang nama besar,”
Ketiga buku antologi puisi itu adalah rumah besar nan sejuk bagi kata-kata dan kegelisahan panjang melelahkan batin.
Syahdan kepuasan batin, ada juga kepuasan materi hinggap di hatiku. Kedua buku antologiku dibeli perpustakaan Kabupaten Situbondo meskipun dalam jumlah kecil.
Yang pertama pada tahun 2023, Dinas kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Situbondo membeli antologi berjudul “Menimang Rindu Senja Kala” dan yang kedua pada pertengahan Desember 2025, yakni antologi berjudul “Dua Senja Menyulam Damai”.
Terima kasih, atas karunia -Mu, tuhan, terima kasih penerbit “Suhamedia “dan perpustakaan. Aku pun dapat royalty meski kecil dari hasil penjualan kedua buku itu.






















