
Catatan Redaksi :
SUARAUTARA.COM, Buol – Srikandi Batalipu memasuki tahun kedua menjadi anggota DPRD Buol. Ia salah satu politikus muda yang dimiliki Partai Golkar Kabupaten Buol yang memenangi pertarungan di “Dapil panas” meliputi Kecamatan Biau, Karamat dan Lakea pada Pemilihan Legislatif 2019 bersama Bacaleg muda lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat itu usianya masih tergolong muda menjadi anggota dewan sekaligus menjabat Ketua DPRD. Pada usia semuda itu, Srikandi Batalipu memutuskan terjun ke politik elektoral dengan alasan masih sedikit anak muda yang mau berpolitik.
“Politik itu untuk kepentingan banyak orang, untuk masyarakat. Kalau anak muda anti-politik, bagaimana dia membawa perubahan untuk masyarakat?,” alasan Srikandi Batalipu ketika bersua dengan media ini, Sabtu (27/5/2023), usai pelantikan DPD Knpi Kabupaten Buol, beberapa waktu lalu.
Pada Pileg 2019 tersebut, Srikandi Batalipu dipaksa harus bersaing ketat dengan beberapa rival politiknya di satu dapil dan berhasil terpilih sebagai wakil rakyat perempuan termuda di DPRD Kabupaten Buol.
Di daerah pemilihan 1 ini pada Pileg DPRD Buol 2024 mendatang, Srikandi Batalipu akan bersaing dengan Ketua DPD Partai Nasdem, Ryan Nathaniel Kwendy, dan beberapa tokoh muda Buol berpengaruh untuk meraih suara kaum milenial.
Tak ketinggalan ada beberapa pimpinan partai dan Bacaleg potensial dinilai memiliki pemilih militan serta bacaleg dari Tokoh Masyarakat dan pengusaha.
“Anak muda itu punya gagasan baru, semangatnya baru. Itu tawaran untuk pemilih Milenial,” Ryan Nathaniel Kwendy yang saat ini dinilai bakal merebut jatah kursi di dapil 1 itu.
Selain Ryan, ada nama Moh Ishak Latama dan beberapa bacaleg muda lainnya dari PKB. Dirinya juga dapat mengklaim dukungan suara Milenial pada Pileg 2024 mendatang karena dibarengi dengan aktivitasnya sebagai pendamping desa Profesiaonal.
Sedikitnya ada 20 bahkan lebih Bacaleg muda di tiga dapil yang maju nanti, salah satu dari 20 calon legislatif yang berusia 30 an tahun dalam Pileg 2014, seperi Abdiwijaya Koni (PKB), Sudirman (PKB), Jufri Ali (PDI-P), Rudi Loi (PKB), Edy Idris (Golkar), Rusdianto Timumun (PKB), Pudiyardi Mokodompit (PDI-P), Rizal Lareko (PPP), Moh Ikbal Ibrahim, (Nasdem) dan lainnya.
Jumlah caleg muda pada gelanggang politik pemilihan lima tahun lalu sekitar hanya sekitare 6,5 persen dari total caleg dari 3 dapil dan semua parpol yang mendaftar. Situasi itu berbeda pada 2024 mendatang. Berdasarkan data yang diolah tim redaksi suarautara.com, ada puluhan caleg muda berusia di bawah 40 tahun, atau meningkat lebih dari 50 persen dari Pileg 2019.
Partai Nasdem, dan PKB terlihat menjadi partai yang paling banyak mengakomodasi anak muda dalam politik elektoral. Sebagai partai besar, nyatanya Nasdem dan PKB tak hanya mengumbar klaim sebagai “partai anak muda”. Mereka mempraktikannya. Tawaran Nasdem yang mengusung jargon sebagai ‘Restorasi Perubahan’ itu yang membuat banyak anak muda turut bergabung, salah satunya politisi muda seperti Ryan Nathaniel Kwendy, Moh Ikbal Ibrahim, Erpin Samad. “Nasdem Buol menawarkan kebaruan bernama politik anak muda. Tak heran jika saya pun kepincut,” ucap Mantan ketua LMND Moh Ikbal Ibrahim, S.Pd. juga sebagai wakil ketua DPD Nasdem Buol.
Sementara itu, Ithak Latama Bacaleg PKB mengatakan sebenarnya tidak ada prioritas untuk anak muda menjadi caleg PKB.
“Proses [rekrutmen caleg] terbuka. Semua bisa melihat karena kami siarkan secara langsung. Mereka mendaftar online, dan memang banyak anak muda yang tertarik bergabung,” katanya.
Partai yang juga mengklaim sebagai ‘partai anak muda’ adalah Partai Golkar. Mereka merekrut banyak anak muda sebagai caleg dengan alasan potensi suara Milenial pada Pemilu 2019.
Wakil Ketua DPD II Golkar Buol, Idris Hamsa Awat mengklaim banyak caleg muda di partainya karena memperhitungkan suara kaum muda dalam politik. “Anak muda itu harapan untuk membawa perubahan. Itu sesuai visi Partai Golkar.”
Soal caleg muda, ada dua partai yang berupaya memasarkan diri sebagai ‘partai anak muda’ mulai Pileg 2023, yakni Nasdem, PKS dan PKB. Tigaa partai ini sama-sama dipimpin oleh ketua berusia muda, yakni Ryan Nathaniel Kwendy, Satriyadi Lasama dan Ahmad Koloi.
Upaya Menjaring Pemilih Milenial Berebut merek ‘partai anak muda’ tak lepas dari upaya menjaring suara pemilih Milenial.
Menurut survei internal suarautara.com, ada sekitar 30 persen sampai 35 persen pemilih dalam Pemilu 2024 yang didominasi oleh Generasi Milenial.
Dari data perkembangan daftar pemilih di Kabupaten Buol, dimulai dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) terakhir pada Pilgub Tahun 2020 sejumlah 100.700 pemilih, kemudian Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) Bulan Desember Tahun 2021 berjumlah 100.856 pemilih, selanjutnya DPB bulan April Tahun 2022 berjumlah 100.881 pemilih sedangkan pada DPB 2023 tidak terlalu mengalami perubahan dratis.
Sehingga jumlahnya sekitar 10 ribu lebih dari 100.881 pemilih, untuk bacaleg Muda.
Berikut 20 Tokoh Muda yang bakal meraih dukungan pemilih Milenial.
- Srikandi Batalipu (Golkar)
- Ryan Nathaniel Kwendy (Nasdem)
- Moh Ishak Latama (PKB)
- Jufri Ali (PDI-P)
- Abdi Wiajaya Koni (PKB)
- Edy Hamsa Awat (Golkar)
- Rudianto (PKS)
- Rusdianto Timumun (PKB)
- Jamaludin Butudoka (PKB)
- Rudi Loi (PKB)
- Pudiyardi Mokodompit (PDI-P)
- Erpin Samad (Nasdem)
- Ikbal Ibrahim (Nasdem)
- Sudirman (PKB)
- Moh Rijal Jakaria (Demokrat)
- Rizal Lareko (PPP)
- Robiyansah (PKS)
- Satriady lasama (PKS)
- Lukman IZ (Golkar)
- Ardiansyah (PBB)
Data Bacaleg lain belum ada.
Red






















