Tarian Hosnatun yang Tak Pernah Berhenti di Tengah Gempuran Badai Tehnologi

Minggu, 12 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Anies Septivirawan |Penulis
‎
‎Alkisah pada tengah malam,  suara tangis  sang bayi laki – laki memecah  hening dan sepi. Bayi laki – laki itu adalah Hosnatun.  Ia lahir di balik tobong seusai sang ibu menyajikan tari topeng di pelataran balai pemerintah desa.
‎
‎Tangisan bayi itu seperti meratapi nasib dirinya kelak pada puluhan tahun yang akan datang. Tangisan itu pula seperti meratapi nasib tari topeng tradisi para leluhurnya.
‎
‎Dan saat ini bukanlah mimpi yang dialami Hosnatun. Ia tidak sedang bermimpi melanjutkan tangisan tentang nasib tradisi tari topeng warisan dari leluhurnya yang tergerus oleh arus kesenian modern.
‎
‎Namun Hosnatun mampu menghapus tangisan itu. Karena ia anggap tari topeng adalah kekasihnya yang ia cintai dan sayangi.  Lembar usang yang bercerita tangis itu pun berganti bahagia.
‎
‎Ia bahagia menerima takdirnya sebagai guru dan penari topeng yang dicintai dan disegani para anak didiknya di kota kecil ujung timur pulau Jawa.
‎
‎Ketika senja mulai menyapa sang guru tari topeng itu, ritme gerak tubuh baginya adalah nafas. Nafas itu mesti terus berhembus kendati para pemangku negeri tidak perduli.  Tidak pernah perduli memberikan ruang bagi nafas yang bagi Hosnatun itu adalah tari topeng.
‎
‎Namun Hosnatun tidaklah bermental pengemis. Ia semakin kencang melangkah,  menggenggam tari topeng, merangkul anak – anak didiknya. Ia harus bertahan dan menggenggam erat tradisi warisan sang leluhur di tangan kanannya.
‎
‎Sementara itu, di genggaman tangan kirinya, ada badai dan tsunami kesenian modern pun menari-nari, meledek dari balik layar gadget yang siap menggempur hatinya.
‎
‎Hosnatun bersama anak – anak zaman yang lain semakin intens bergerak dalam tarian seleksi semesta. Semesta pun takdzim, Hosnatun berteriak kepada angin yang datang dari seluruh penjuru,
‎
‎”Aku tidak akan berhenti menari bersama  anak – anakku di tengah badai,  bersama ilalang – ilalang, bersama mereka yang tidak pernah takut  memasuki malam….!!!!”

 

Situbondo, ujung 2025.
‎
‎

Berita Terkait

Batas Wilayah Soho Jadi Perhatian Pemuda ASOKA Thamin Nasir Minta Pemda Telusuri Jejak Sejarah Kampung Asam
Dinsos Banggai Bergerak Cepat Hariadi Bola Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Lamala
Kesenian Saronen “Sumber Bunga” Berupaya Melestarikan Warisan Kultur
Keindahan Kota Batu dalam Harmoni Lagu “Kutho Batu, Kutho Roso Deso”
Dampak Kekeringan Dandim 1308/LB Cepi Kartiwa Buat Pembangunan Sumur Bor Untuk  Masyarakat di Desa Kayoa
Kasat Intelkam Usman Tutup Domino Kapolresta Banggai 2026 Pasangan Bangkep Kaban BNN  Baharudin Amka Sanusi Raih Juara I
Kapolsek Lamala Wayan Sukarman Hadiri Ritual Adat Perkuat Sinergi Polri Bersama Masyarakat dan Doa Keselamatan Bersama
Menyalakan Pelita di Senja Usia: Perjalanan Gemilang Mas Dwikaton Singoyudo, Seniman Multitalenta yang Meraih Juara 1 Nasional Menulis Puisi

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:23 WITA

Batas Wilayah Soho Jadi Perhatian Pemuda ASOKA Thamin Nasir Minta Pemda Telusuri Jejak Sejarah Kampung Asam

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:22 WITA

Kesenian Saronen “Sumber Bunga” Berupaya Melestarikan Warisan Kultur

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:32 WITA

Keindahan Kota Batu dalam Harmoni Lagu “Kutho Batu, Kutho Roso Deso”

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:18 WITA

Dampak Kekeringan Dandim 1308/LB Cepi Kartiwa Buat Pembangunan Sumur Bor Untuk  Masyarakat di Desa Kayoa

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:36 WITA

Kasat Intelkam Usman Tutup Domino Kapolresta Banggai 2026 Pasangan Bangkep Kaban BNN  Baharudin Amka Sanusi Raih Juara I

Berita Terbaru