RINDU YANG TERKEMAS PILU

Selasa, 9 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ririe Aiko

(Puisi esai ini terinspirasi dari tragedi longsor di Sumatera, ketika seorang Bapak di Sibolga menjadi sorotan publik setelah videonya viral: ia menangis pilu sambil menyusuri timbunan longsor mencari putri kecilnya yang hilang hingga hari ketiga pascabencana.)(1)

—000—

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di antara puing yang basah oleh hujan,
seorang Bapak melangkah terpatah,
“Menyusuri tanah yang runtuh, (2)
menegakkan tubuh yang gemetar.
Terjerembab oleh duka yang semakin membengkak.”

Langkahnya goyah,
namun tekadnya tak kenal kata menyerah,
menyibak bongkahan tanah,
mencari sesuatu yang tak sanggup ia namai dengan kata “jenazah”.

Air matanya terus mencair,
lamat-lamat mengalir, merindukan gadis kecilnya,
gadis mungil yang biasanya pulang sambil menggenggam bunga liar
yang dipetik di tepi ladang.

Kini bunga itu hilang,
Harapan bertemu anaknya seakan terdelusi waktu,
hanya menyisakan rindu yang terkemas pilu.

Sang Bapak bersimpuh
di antara lumpur yang membisu.
Matanya sembab, memerah,
Air mata tak lagi sanggup meluruhkan luka di dadanya.

Suara rintihnya pecah,
hatinya remuk oleh rasa bersalah.
“Mengapa? Mengapa tak bisa ku selamatkan
buah hati yang ku jaga setengah mati?”

Tiga hari tiga malam,
Sang Bapak tak mau pulang.
Tak ada ruang untuk lapar,
meski jari-jarinya sudah gemetar,
kukunya patah menekuk tanah.

Seorang pria relawan tak kuasa menatap
tubuh renta yang menolak beranjak
dari bukit nestapa yang menelan banyak nyawa.
“Tulang, yok lah kita pergi, Tulang,”
kata si pria sambil menggamit tangan si Bapak.

Si Bapak bergeming,
meratapi sisa lumpur yang menelan isi bumi.
“Sudah dua hari, Boruku… Tuhan…” (3)
Suaranya terputus di antara
tangisan yang tersedak airmata.

Kalimat itu menggantung kosong.
Tak ada yang sanggup
mengobati luka hati seorang Bapak.
Ia kehilangan separuh jiwanya.

—000—

Hari ketiga pascabencana,
Si Bapak duduk di tanah berlumur air,
menyentuh sisa-sisa tubuh,
yang menyulam kenangan,
matanya meratap duka dan harap,
Borunya bisa ditemukan,
meski hanya tersisa sebuah potongan.

Hujan turun semakin deras,
menyapu puing dan debu.
Dunia menjadi kabur,
menyisakan luka trauma
bagi para penyintas Sumatera.

Seorang relawan menunduk,
menyeka keringat dan air mata sendiri,
menggenggam tangan Si Bapak yang
Kukuh tak mau beranjak dari sana. (3)

“Sang Bapak mengangkat pandangan.
Mata yang memerah menatap langit kelabu, mengirim doa yang tak berbunyi.
Hanya getar bibir dan napas tersengal terdengar.”

“Ijinkan kutemukan, anakku, meski hanya sebuah potongan yang tersisa.”

 

Tentang Penulis

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional.

CATATAN:

(2)https://medan.kompas.com/read/2025/12/08/153809678/kota-sibolga-sumut-kembali-terendam-banjir-akibat-hujan-deras
(3)https://youtu.be/SRPF69clMCU?si=dBTOpN1sxZXXuhOk

dipublikasikan pertama oleh : hatipena.com

 

 

Berita Terkait

PWI Pusat dan Provinsi Sulteng  Nyatakan 18 Wartawan Kompeten Sekaligus UKW di Banggai Resmi Berakhir
Putusan MA Telah Inkracht Ahli Waris Salim Albakar Siapkan Laporan ke PTUN hingga Bareskrim soal Sengketa Lahan Tanjung Sari
Bupati Banggai Amirudin Resmikan Kantor Desa Singkoyo Guna Peningkatan Kualitas Layanan Publik
Pentas Silaturahmi Musik Literasi Kota Batu Wisata Sastra Budaya 
62 Personel Polresta Banggai serta Polsek Kota  Amankan Aksi Seribu Lilin Aliansi Untika Melawan
Ketoprak Madura di Tengah Badai Globalisasi
Untuk yang ke Sekian Kalinya, Hosnatun Diundang Menjadi Juri Pada “Festival Musik Tong-tong” se-Madura
Pastikan Pendidikan Anak Berkualitas Bunda PAUD Banggai Syamsuarni Amirudin Monitoring Sekolah di Batui

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:56 WITA

PWI Pusat dan Provinsi Sulteng  Nyatakan 18 Wartawan Kompeten Sekaligus UKW di Banggai Resmi Berakhir

Rabu, 9 September 2026 - 10:04 WITA

Putusan MA Telah Inkracht Ahli Waris Salim Albakar Siapkan Laporan ke PTUN hingga Bareskrim soal Sengketa Lahan Tanjung Sari

Rabu, 9 September 2026 - 08:28 WITA

Bupati Banggai Amirudin Resmikan Kantor Desa Singkoyo Guna Peningkatan Kualitas Layanan Publik

Selasa, 8 September 2026 - 05:17 WITA

Pentas Silaturahmi Musik Literasi Kota Batu Wisata Sastra Budaya 

Senin, 7 September 2026 - 21:33 WITA

62 Personel Polresta Banggai serta Polsek Kota  Amankan Aksi Seribu Lilin Aliansi Untika Melawan

Berita Terbaru