Puisi: Leni Marlina
Apakah kau mendengar,
ratap angin di atas Gaza—
suaranya seperti sengal napas bumi
yang hampir putus di rusuk langit.
Apakah kau melihat,
langit memerah seperti luka purba,
awan meneteskan darah cahaya,
dan matahari, dengan mata sembab,
menatap bumi seperti ibu kehilangan anaknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Doa-doa pun berhamburan
dari rahim reruntuhan,
mencari jalan pulang ke langit,
mengadukan nasib dan kehilangan kepada Tuhan.
Gaza bernafas lirih,
seperti jarum cahaya menjahit dada waktu;
hela napasnya menulis kembali
arti keberanian di antara abu.
Tanah pun bersuara
dengan lidah bara dan nisan,
menyebut nama anak-anak tak berdosa—
tewas begitu saja,
karena angkara berwujud genosida.
Bulan memar di pelipis malam,
meneteskan sinar seperti air mata besi.
Dan matahari—yang dahulu penghangat dunia—
kini terkurung dalam sangkar asap,
menyala samar, menatap nanar.
Di antara reruntuhan,
sebuah tubuh kecil menggenggam udara—
mencari ibunya di antara gema.
Debu di pipinya menjelma aksara kesedihan
yang tak sempat seutuhnya dibaca dunia.
Pohon-pohon zaitun menangis tanpa air mata,
rantingnya memeluk angin berlumur arang,
daun-daunnya jatuh seperti surat tak terkirim ke langit yang bijaksana.
Waktu retak seperti kaca,
detiknya jatuh ke dada bumi yang menganga.
Dan dentingnya—
seperti doa yang terhenti di tenggorokan langit.
Namun di tengah ledakan,
ada sesuatu yang tak dapat dimusnahkan—
sebuah cahaya sekecil zarah
berteriak: “Aku masih ada.”
Dan dunia pun menoleh sebentar,
lalu kembali tenggelam
dalam layar berita yang memandulkan empati.
Gaza,
engkau bukan sekadar tanah—
engkau adalah nadi bumi,
ayat yang ditulis dengan darah bintang,
saksi bahwa luka pun bisa menjadi
bahasa suci untuk memanggil Tuhan.
Padang, Sumatera Barat, 2025
Sumber : Buku The Beloved Teachers : Bilingual (Indonesian – English) Poetry Collection By Leni Marlina

Dibacakan oleh Rastono Sumardi (Bonua Sastra Banggai – Sulawesi Tengah)






















