Percikan dari Bukit Mumpe

Sabtu, 18 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ketika Tekad dan Teori Menemukan Arusnya)

Oleh : Rastono Sumardi
Ketua Satupena Sulawesi Tengah

Di sudut peta Kabupaten Banggai yang sering terlewatkan, Desa Bukit Mumpe bernapas dalam ritme alam. Siang dihidupi oleh matahari, malam ditelan oleh gelap. Di sanalah Rafi, pemuda dengan tangan kapalan dan ijazah SMK Listrik yang terselip di lemari, menantang takdir desanya. Mimpinya satu: mencuri api dari sungai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara teman-temannya memamerkan motor baru hasil kerja di kota lewat status WhatsApp, Rafi justru berlumur lumpur di tepi Sungai Mumpe. Koleksinya bukan gawai terbaru, melainkan dinamo bekas, pipa PVC retak, dan sisa kabel yang ia pungut dari proyek desa yang mangkrak. Baginya, kemajuan bukan soal seberapa jauh kau pergi, tapi seberapa berani kau pulang dan membangun.

Sungai itu adalah denyut nadinya, laboratorium alamnya. Setiap sore, ia mengukur arus dengan seutas tali dan stopwatch butut, menghitung setiap jengkal jatuhan air, mencoba merangkai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang lebih sering batuk daripada berputar.

Namun, mimpi itu kini berkarat, sama seperti turbin buatannya.

Sindiran di warung kopi terasa lebih tajam dari sisa paku di papan tua. “Sudah mau musim duren lagi, Raf. Listrikmu mana? Masih pakai kunang-kunang?” Suara tawa pecah, meninggalkan Rafi yang hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku.

“Lihat si Randi,” kata bapak pemilik warung, menunjuk kalender bergambar mobil mengkilap. “Kerja di Morowali. Gajinya bisa menyalakan satu kecamatan, bukan cuma satu bohlam.”

Bahkan aparat desa hanya memberinya tepukan di bahu yang terasa hampa. “Anggaran kami untuk pupuk, Raf. Perut lebih penting dari lampu.”

Malam itu, di temani suara serangga dan gemericik sungai yang terdengar seperti ejekan, Rafi menatap tumpukan besinya. Ibunya hanya diam, tapi sorot matanya lebih berat dari semua kegagalan yang ia tanggung. Mungkin mereka benar. Mungkin ia hanya seorang pemimpi naif yang memeluk bayangan.

“Aku ini cuma lulusan SMK,” bisiknya pada gelap. “Pantasnya merakit nasib, bukan merakit mesin.”

Ia hampir menyerah. Pikiran untuk menjual semua rongsokan ini dan menyusul Randi ke Morowali terasa begitu menggoda. Namun, esoknya, takdir mengirim percikan yang tak ia duga.

Namanya Indri. Gadis asli Bukit Mumpe yang pulang membawa gelar dari Teknik Elektro UGM. Ia bukan sekadar cantik; di matanya ada binar pengetahuan yang tajam, di langkahnya ada keyakinan yang tak goyah. Ia datang ke “bengkel” Rafi di tepi sungai, bukan dengan tatapan kasihan, tapi dengan rasa penasaran.

Laptop tipis di tangannya kontras dengan kunci pas berkarat milik Rafi.
“Masih berjuang, Raf?” tanya Indri. Suaranya selembut desau angin di rumpun bambu.
Rafi hanya mendengus, tak menoleh. “Kalau aku berhenti, siapa lagi yang cukup bodoh untuk meneruskannya?”

Indri tersenyum tipis. Ia melihat skema kasar yang digambar Rafi di selembar seng. Penuh coretan, tapi logikanya ada di sana. Sebuah intuisi murni yang tak diajarkan di ruang kelas mana pun.

“Izinkan aku melihatnya,” kata Indri. “Tekadmu sudah membangun fondasinya. Mungkin hanya butuh sedikit perhitungan agar arusnya tak salah jalan.”

Sejak hari itu, tepi sungai menjadi saksi bisu perpaduan dua dunia. Intuisi Rafi bertemu dengan presisi Indri. Tangan yang terbiasa merasakan getaran mesin kini bekerja sama dengan jemari yang lincah menari di atas keyboard, memodelkan simulasi aliran air.

“Turbinmu kita ganti jadi model crossflow,” jelas Indri suatu sore, menunjuk diagram 3D di laptopnya. “Air akan memukul sudu dua kali. Efisiensinya bisa melonjak dari 30% ke 70%.”

Rafi terdiam, menatap layar canggih itu lalu beralih ke tumpukan pipanya. “Teorimu terbang di langit, Nona Insinyur. Alatku merayap di tanah.”

“Justru itu,” balas Indri, matanya menatap Rafi lekat. “Teori butuh tanganmu untuk membumi.”

Kerja keras mereka menjadi gosip terhangat di desa, mengalahkan berita kenaikan harga kopra. Tentu, tak semua orang suka. Bram, pemuda yang sejak dulu menaruh hati pada Indri, merasa dunianya direbut.

“Wah, proyek mandek bertahun-tahun,” sindirnya di warung kopi, cukup keras agar Rafi dengar. “Ternyata solusinya cuma butuh gadis kota pulang kampung.”

Rafi mengepalkan tangan, tapi sebelum ia sempat membalas, Indri yang baru datang sudah menjawab dengan tenang, “Rafi sudah menyalakan apinya lebih dulu, Bram. Aku hanya membantunya meniup agar jadi lebih besar.”
Bram terdiam. Di matanya, ada kekalahan yang lebih dari sekadar urusan proyek.

Hingga tibalah hari pembuktian. Seluruh warga berkumpul, antara skeptis dan berharap. Dengan isyarat dari Indri yang mengawasi voltmeter, Rafi memutar tuas utama. Air menderu masuk ke pipa, memutar turbin yang kini dirancang ulang. Dinamo berdengung, nadanya semakin tinggi, stabil.

Jarum di voltmeter gemetar, lalu merangkak naik.
“Stabil, Raf! Stabil!” pekik Indri, kegembiraan murni terpancar di wajahnya.

Rafi menarik saklar utama. Hening sejenak. Lalu… KLIK!

Sebuah bohlam di tiang bambu menyala. Terang, putih, dan nyata. Cahayanya menampar wajah-wajah yang ternganga. Sorak-sorai pecah membahana, memantul di antara lembah. Anak-anak berlari keluar, menari di bawah cahaya buatan yang terasa seperti keajaiban.

Di tengah riuh itu, Rafi hanya berdiri mematung. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Ini bukan lagi sekadar listrik. Ini adalah harga diri.

Indri mendekat, senyumnya secerah lampu yang baru mereka nyalakan. “Kamu berhasil.”

Rafi menatapnya, lalu ke seluruh desa yang kini berpendar. “Kita,” koreksinya pelan. “Kita berhasil.”

Beberapa bulan kemudian, senja melukis langit di atas Bukit Mumpe yang kini hidup di malam hari. Di tepi sungai yang sama, Rafi menghampiri Indri. Di tangannya, bukan bunga atau cokelat, melainkan seutas kawat tembaga kecil yang ia bentuk menjadi cincin sederhana. Sisa dari generator pertama mereka.
“Kabel ini,” Rafi memulai, suaranya sedikit bergetar, “adalah konduktor pertama yang mengalirkan mimpi kita ke seluruh desa.”

Ia berhenti sejenak, menatap mata Indri dalam-dalam. “Sekarang, aku ingin ia jadi konduktor untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengalir dari sini.” Ia menunjuk dadanya.

Indri menahan napas, pipinya bersemu merah.
“Maukah kau menjadi pusat sirkuit dalam hidupku? Menjaga arusnya tetap stabil, selamanya?”

Indri tertawa kecil, tawa yang bunyinya lebih merdu dari putaran turbin. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan jarinya, membiarkan Rafi menyematkan cincin tembaga itu. Sebuah jawaban tanpa suara yang lebih terang dari seribu lampu.

Di belakang mereka, sungai terus mengalir, memutar turbin, mengirimkan cahaya. Bukit Mumpe telah terang, lahir dari percikan dua hati yang menyatu, membuktikan bahwa cahaya terindah adalah yang kita nyalakan bersama.(*)

Luwuk, 17/10/2025

Berita Terkait

Ditemani Senja Pantai Kilo Lima, Hadianto Rasyid Berbagi Pesan Inspiratif tentang Pelayanan Publik
Dorong Pariwisata Bahari, KUPP Luwuk dan Pemkab Banggai Sosialisasikan Operasional Kapal Wisata Teluk Lalong
Saat Pimpin Rapat Persiapan GTRA 2026 Bupati Amirudin Tegaskan Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Masyarakat Banggai
53 Siswa MIN 1 Banggai Lulus 100 Persen Kemenag Suardi Khanjai Pesan Jaga Akhlak dan Adab
Hadiri Pembukaan MTQ XXXI Sulteng Wabup Furqanuddin Kawal Semangat 80 Kafilah Banggai
Dialog Budaya: Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani
Pemkab OKU Timur Gelar Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kabupaten OKU
Akselerasi Peningkatan SDM Berkualitas dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan Secara Inklusif Berbasis Potensi Unggulan

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:26 WITA

Ditemani Senja Pantai Kilo Lima, Hadianto Rasyid Berbagi Pesan Inspiratif tentang Pelayanan Publik

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:58 WITA

Dorong Pariwisata Bahari, KUPP Luwuk dan Pemkab Banggai Sosialisasikan Operasional Kapal Wisata Teluk Lalong

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:04 WITA

Saat Pimpin Rapat Persiapan GTRA 2026 Bupati Amirudin Tegaskan Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Masyarakat Banggai

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:42 WITA

53 Siswa MIN 1 Banggai Lulus 100 Persen Kemenag Suardi Khanjai Pesan Jaga Akhlak dan Adab

Senin, 8 Juni 2026 - 10:32 WITA

Hadiri Pembukaan MTQ XXXI Sulteng Wabup Furqanuddin Kawal Semangat 80 Kafilah Banggai

Berita Terbaru