Oleh : Rastono Sumardi
Di ujung desa yang lupa dijamah waktu,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
seorang guru renta menuliskan ilmu di udara,
huruf-huruf melayang bagai asap dupa,
hilang sebelum sempat dihirup anak-anak bangsa.
Ia mengajar dengan cahaya matanya,
sebab kapur telah habis dimakan angin,
sebab bukunya hanyalah lembar-lembar doa,
yang dilipat rapi dalam genggaman sunyi.
Gajinya setipis embun di ujung daun,
jatuh sebelum sempat membasahi tanah,
tapi hatinya tetap mengakar,
setia mengajar meski perutnya berbincang dengan lapar.
Di dinding sekolah yang nyaris roboh,
ia menggantung harapan dengan paku-paku sabar,
meski malam menggigitnya dengan gigil,
meski janji hanya sebaris bayang di kaca buram.
Anak-anak pergi,
menjadi tuan, menjadi raja, tapi ia tetap di sini,
menjadi sebatang lilin yang melawan malam,
membakar diri agar dunia tetap terang.
Oh, guru honorer,
engkau bukan sekadar nama di selembar kertas,
engkau adalah puisi yang ditulis Tuhan,
dengan tinta air mata dan kesetiaan tanpa batas.
Luwuk, 02/02/2025






















