MALAM YANG MELUAP DI PALELEH BARAT

Selasa, 9 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi AI By Rastono Sumardi

Gambar Ilustrasi AI By Rastono Sumardi

Oleh: Rastono Sumardi

(Puisi esai ini terinspirasi dari bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Desa Lunguto, Harmoni, dan Timbulon di Kecamatan Paleleh Barat, Kabupaten Buol, pada Senin dini hari, 8 Desember 2025, setelah hujan ekstrem mengguyur semalaman; banjir merendam rumah warga dan ruang kelas sekolah, sementara longsor menutup sebagian jalur Trans Sulawesi dan merusak rumah Zainudin.)(1)

—000—

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Minggu malam menutup desa
dengan tirai hujan yang tak sabar.
Tetesnya bukan lagi doa,
melainkan ketukan keras
di atap seng, di daun kelapa,
di dada orang-orang yang mulai resah.

Puncak hujan datang
sekitar setengah satu dini hari,
saat anak-anak dalam mimpi,
saat api dapur padam,
saat jalan kampung sepi
kecuali suara air
yang pelan-pelan jadi marah. (2)

Di Lunguto, di Harmoni,
sungai meluap seperti kenangan buruk
yang tak sempat dibendung.
Air setinggi empat puluh sentimeter
masuk ke halaman,
masuk ke ruang tamu,
masuk ke foto keluarga
yang digantung rapi
supaya lupa kalau hidup sering rapuh. (1)

Empat rumah tergenang.
Tapi air tak pernah cuma air—
ia membawa rasa cemas
yang mengapung di mata ibu-ibu,
di punggung bapak-bapak
yang mendadak menua dalam satu malam. (2)

Tiga ruang kelas SMP Negeri 2
digenangi banjir. (1)
Bangku-bangku kecil
yang seharusnya menampung cita-cita
kini menampung lumpur,
seperti pelajaran pertama
tentang betapa alam
kadang lebih dulu mengajar
sebelum guru datang.

—000—

Sementara di Timbulon,
tanah tak sanggup lagi menahan beban.
Ia runtuh di tiga titik
sepanjang Jalan Trans Sulawesi—
urat nadi yang menghubungkan
desa dengan harapan. (1)

Material longsor menutup sebagian jalan,
membuat kendaraan melambat,
seolah semua orang
dipaksa menunduk hormat
pada kekuatan yang tak bisa ditawar. (2)

Longsor ini bukan hal baru di Buol.
Hujan deras kerap memicu
banjir dan runtuhan tanah
di wilayah Paleleh dan Paleleh Barat,
menutup jalan trans
dan memaksa warga bertahan
di antara basah dan gelisah. (2)(3)

Dan di Dusun IV,
rumah Zainudin
menjadi halaman terakhir longsor.
Lumpur masuk ke lantai
setinggi dua puluh sentimeter: (1)
batas tipis
antara “rumah”
dan “kuburan kecil
bagi barang-barang harian.”

Keluarga itu mengungsi.
Pergi bukan karena ingin,
tapi karena rumah
tak lagi bisa memeluk mereka.

Malam yang seharusnya tempat berlindung
berubah jadi alasan untuk berpisah
dari ranjang sendiri.

—000—

Pagi datang
dengan kabar air yang surut,
katanya situasi aman terkendali. (1)
Tapi kita tahu:
“surut” tidak selalu berarti “selesai.”

Sisa lumpur
tinggal di sudut kelas,
di lorong rumah,
di telapak kaki warga
yang masih merasa dingin
meski matahari sudah naik.

Polisi turun meninjau
sejak pukul enam pagi, (1)
mencatat retak,
mengukur genangan,
menanyakan kabar,
membuat laporan
agar bencana punya arsip
di negeri yang sering lupa.

Aku ingin percaya
yang dicatat itu
bukan cuma angka kerusakan,
tapi juga rasa takut
yang setiap tahun pulang
ke kampung-kampung basah.

—000—

Di Paleleh Barat,
hujan telah mengingatkan kita lagi:
desa-desa kecil
berdiri di bawah langit besar
yang cuacanya semakin liar.

Ada yang bilang ini cuma musim.
Ada yang bilang ini takdir.
Tapi di balik semua kata,
ada tugas manusia
untuk bersiap
sebelum air sampai ke lutut,
sebelum tanah sampai ke ranjang.

Karena rumah bukan sekadar papan—
ia adalah tempat menyimpan nama,
tempat menaruh sekolah anak,
tempat berharap besok
tak runtuh di tengah malam.

Maka ketika alam menulis peringatannya
dengan banjir dan longsor,
kita tak boleh cuma membaca
lalu menutup berita.

Kita harus belajar
membangun yang lebih tahan:
tanggul yang benar,
drainase yang hidup,
penjagaan hutan di hulu,
alarm dini yang didengar,
dan perhatian
yang tidak datang
setelah segalanya terendam. (2)(3)

—000—

Malam itu,
Paleleh Barat basah oleh hujan
dan basah oleh cemas.

Pagi ini air memang surut,
jalan masih bisa dilalui,
warga masih selamat.

Tapi ingatan mereka
akan menyimpan suara tadi malam:
suara sungai yang meluap,
suara tanah yang jatuh,
suara orang-orang yang berlari
dengan dada kosong
mencari tempat aman.

Semoga besok
kita tidak lagi membiasakan
bencana sebagai rutinitas.
Semoga hujan tetap hujan,
bukan alasan
untuk kehilangan rumah,
atau kehilangan sekolah,
atau kehilangan rasa percaya
bahwa hidup bisa tenang
di bawah langit sendiri.

CATATAN:
(1) Suarautara.com :  Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Paleleh Barat – Suarautara.com

(2) ANTARA Sulteng, Sebanyak 65 KK terdampak banjir dan longsor di Buol – ANTARA News Sulteng
(3) BUTOLPOST : Banjir & Longsor Tutup Jalan Trans Sulawesi di Buol, 65 KK Terdampak – Butol Post  

Tentang Penulis:

Rastono Sumardi, S.Pd., M.E. adalah ASN di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, yang dikenal aktif mendorong transformasi digital pemerintahan sekaligus menghidupkan gerakan literasi dan kebudayaan. Lahir di Banyumas pada 10 Maret 1974, ia kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kabupaten Banggai. Di ranah teknologi, Rastono terlibat dalam penguatan layanan publik berbasis aplikasi, serta berbagai agenda Pemerintahan Digital dan Satu Data sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, akuntabel, dan transparan.

Di luar birokrasi, Rastono aktif sebagai penulis dan pegiat literasi digital. Ia mengemban amanah sebagai Ketua SATUPENA Sulawesi Tengah dan Ketua Bonua Sastra Banggai. Produktivitasnya terlihat dari beragam karya sastra—puisi, puisi esai, cerpen—serta artikel reflektif yang mengangkat isu sosial, pendidikan, budaya, dan lingkungan. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media dan kanal literasi, antara lain hatipena.com, suarautara.com, nusantara26.com, bonuasastra.kim.id, dan banggaikreatif.com. Melalui publikasi dan komunitas yang ia bangun, Rastono konsisten merawat ekosistem kepenulisan di Banggai sekaligus memperluas jangkauan literasi ke ruang digital. Di bidang pendidikan, ia juga berperan sebagai Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Banggai.

Berita Terkait

Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan
Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan
UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif
Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa
Hut ke 62 Sulteng Wabup Banggai Furqanuddin Berikan Komitmen Perkuat Sinergi Provinsi dan Daerah
Resmikan Desa Persiapan Mekar Mulya Bupati Amirudin Tekankan Agar Pemerataan Pelayanan
Bupati Banggai Amirudin Langsung Jemput MenDes PDT Yandri Susanto di Bandara SAA
Kapolda Sulteng Dukung Program MBG Sekaligus Resmikan Gedung SPPG Polres Banggai

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 22:55 WITA

Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan

Kamis, 16 April 2026 - 13:51 WITA

UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif

Senin, 13 April 2026 - 22:02 WITA

Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa

Senin, 13 April 2026 - 21:47 WITA

Hut ke 62 Sulteng Wabup Banggai Furqanuddin Berikan Komitmen Perkuat Sinergi Provinsi dan Daerah

Minggu, 12 April 2026 - 21:54 WITA

Resmikan Desa Persiapan Mekar Mulya Bupati Amirudin Tekankan Agar Pemerataan Pelayanan

Berita Terbaru