Oleh: Akaha Taufan Aminudin
————————————————
Malam Anugerah Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu pada 26 Juni 2026 tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan bagi para pegiat lingkungan. Di halaman Rumah Dinas Wali Kota Batu, malam itu juga hadir sebuah peristiwa seni yang menggugah kesadaran: Performance Art “Kapak Patah” karya Ki Syamsu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ki Syamsu, yang dikenal sebagai Humas SATUPENA Jawa Timur, kembali menghadirkan karya performansinya yang ke-20 sejak memulai perjalanan seni pertunjukan pada tahun 2015. Ia tidak sekadar tampil sebagai seniman, melainkan sebagai penyampai pesan, pengingat, sekaligus saksi atas semakin rapuhnya hubungan manusia dengan alam.
Judul “Kapak Patah” menyimpan simbol yang kuat. Kapak adalah alat yang sejak lama digunakan manusia untuk menebang pohon, membuka hutan, dan menguasai alam. Namun, ketika kapak itu patah, tersimpan sebuah makna mendalam: sudah saatnya keserakahan manusia dihentikan. Alam tidak boleh terus-menerus diperlakukan sebagai objek eksploitasi.
Dalam pertunjukan tersebut, Ki Syamsu menyampaikan pesan tentang dampak perusakan lingkungan, tentang hutan yang kehilangan pepohonan, tentang sungai yang kehilangan kejernihan, dan tentang bumi yang semakin menua akibat ulah manusia sendiri. Seni pertunjukan itu menjadi semacam jeritan sunyi dari alam yang meminta manusia untuk kembali belajar menghormati kehidupan.
Kehadiran Wali Kota Batu beserta Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu, Wakil Wali Kota Batu beserta istri, serta para undangan yang memenuhi halaman rumah dinas, menjadi saksi bahwa seni masih memiliki kekuatan untuk menyentuh kesadaran publik. Performance art tidak memerlukan pidato panjang atau data statistik yang rumit. Ia berbicara melalui simbol, gerak tubuh, keheningan, dan emosi.
Ki Syamsu mengingatkan bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar urusan pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab seluruh manusia. Kerusakan alam pada akhirnya akan kembali kepada manusia sendiri dalam bentuk banjir, longsor, kekeringan, dan krisis kehidupan.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan, “Kapak Patah” hadir sebagai peringatan agar manusia tidak kehilangan kebijaksanaan. Sebab, ketika pohon terakhir ditebang dan mata air terakhir mengering, manusia akan menyadari bahwa uang dan teknologi tidak dapat menggantikan alam yang telah rusak.
Melalui karya ini, Ki Syamsu menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah suara nurani, alat perlawanan, dan ruang perenungan. Performance art “Kapak Patah” menjadi pesan yang sangat relevan bagi Kota Batu, kota yang dianugerahi keindahan alam dan kesejukan pegunungan, agar terus menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Kapak boleh patah, tetapi kesadaran untuk mencintai alam tidak boleh pernah patah. Dari panggung sederhana di halaman rumah dinas Wali Kota Batu, seni telah kembali mengingatkan kita bahwa bumi ini bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan bagi anak cucu yang akan datang.
Kota Batu 26 Juni 2026
Akaha Taufan Aminudin
*Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara HP3N SATUPENA JAWA TIMUR*
https://www.facebook.com/share/p/1E4TGT1GQP/

























