Oleh: SURYADI
Menjadi seorang pejabat betapa bangganya. Sepintas demikian, tetapi tidakkah kita harus merenung lebih dalam lagi. Bukankah sebuah jabatan artinya sebuah tanggungjawab?.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sering terbersit di benak kita berpikir satu sisi bahwa ketika kita menjadi seorang pejabat berarti kita menerima fasilitas dan perlakuan istimewa. Kita sering lupa bahwa di balik semua itu ada yang lebih esensial bahwa jabatan adalah sebentuk amanah yang harus kita pertanggungjawabkan
Kita harus lebih banyak lagi belajar pada sejarah, betapa banyak kepemimpinan yang berakhir dengan tragis karena jabatan itu tidak ditempatkan pada porsinya yang pas.
Karena jabatan dan amanah itu adalah sekeping mata uang logam yang saling menyatu . Apabila salah satunya hilang atau terkelupas, maka uang logam itu tidak berlaku lagi. Demikian juga dengan jabatan, jika hilang amanahnya maka jabatan itu akan menjadi angin liar yang mendatangkan musibah.
Jabatan ataupun kekuasaan merupakan sebuah amanah yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawabannya tidak hanya kepada yang memberi jabatan, tetapi juga kepada Allah SWT.
Di samping itu, untuk memperoleh suatu jabatan harus dengan cara yang benar, serta tidak memintanya dengan penuh ambisi. Sememrntara itu orang yang diberi jabatanpun, harus memiliki kabilitas terhadap jabatan yang diamanahkan kepadanya.
Rasanya kurang pas kalau seseorang menerimah amanah jabatan tertentu lalu menyambutnya dengan suka cita dan pesta pora tiada berguna. Padahal semua amanah di pundak kita kelak di akhirat akan dimintai pertanggungjawabannya.
Menurut ajaran agama Islam, jika seseorang merasa dirinya tidak kompeten, seharusnya ia tidak menerima jabatan yang diberikan.
Kompetensi itu bukan saja perlu namun urgen, karena tanpa kompetensi yang memadai maka seseorang tidak akan maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggungjjawabnya.
Jika seseorang merasa tidak mampu memegang jabatan walaupun ditunjuk sebaiknya menolak. Karena menolak lebih baik daripada menerimanya apabila tidak didukung oleh kompetensi yang mumpuni.
Kesimpulan yang mudah diperoleh, bahwa amanah jabatan itu seyogyanya tidak boleh dibuat main-main, tidak bisa dianggap angin lalu saja atau dilupakan karena pikiran dan hati kita sudah mabuk kepayang membayangkan segala fasilitas dan perlakuan istimewa yang bakal diperoleh. Niscaya!.

























