Oleh Rastono Sumardi
Dengarlah kisah hujan murka
Air bah datang membawa duka
Sumatra menangis dalam senyap
Ribuan nama hilang lenyap
Angka dibaca tanpa suara
Delapan ratus jiwa sirna
Negeri terdiam memeluk luka
Langit runtuh bersama doa
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hutan tergadai, gunung meratap
Tanah pun runtuh menagih sebab
Namun di balik berita pilu
Ada tangis paling sendu
Bu… dengarlah langkahku pulang
Dalam lumpur dan reruntuhan
Jika suaramu tak lagi datang
Cintamu tetap kutemukan
Air bah boleh merenggut segalanya
Namun tak mampu merampas iman
Ibu pulang dalam keheningan
Tenang di pangkuan Tuhan
Seorang anak bernama Erik
Meniti duka dengan lirih
Mencari ibu di antara puing
Dengan doa yang tak kering
Kabar tiba bagai petir senja
Rumah itu telah sirna
Namun langkah takkan menyerah
Antara harap dan pasrah
Hari pertama dunia menjauh
Hari kedua harapan runtuh
Hari ketiga hujan kembali
Hati anak tetap berdiri
Bu… aku menggali namamu
Dengan tangan yang berdarah
Jika maut harus menjemputku
Biarlah aku lebih dahulu
Air bah boleh merenggut nyawa
Namun tak kuasa mencuri iman
Ibu pulang dalam keheningan
Dalam pelukan Yang Maha Rahman
Tanah terbuka menguak kenang
Ibu di dapur, subuh menjelang
Doa-doa yang tak pernah usang
Kini terbaring dalam terang
Kain putih basah berlumpur
Mukena suci jadi saksi jujur
Tempat sujudmu yang terakhir
Kini memanggil namaku lirih
Bu… aku datang meski terlambat
Air mataku jadi sujud
Cintamu tak pernah tersesat
Menuntunku menuju langit
Air bah boleh merenggut nyawa
Namun tak mampu menundukkan iman
Ibuku pulang dalam doa
Tenang… di rumah keabadian
Ini bukan kisah legenda
Bukan dongeng istana kuasa
Ini cinta anak biasa
Yang menang atas air dan duka
Di Palembayan sujud terpatri
Bukan batu, bukan prasasti
Melainkan cinta sejati
Yang hidup meski mati.












