BUOL (suarautara.com) – Menanggapi persoalan pemberlakuan retribusi parkir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mokoyurli yang saat ini menjadi bahan perbincangan warga Buol di media sosial, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Buol menyikapi hal tersebut dengan catatan kritisnya.
Kepada media ini, Jum’at (6/7), ketua HMI Cabang Buol, Rahmat Pontoh sangat menyayangkan jika penerapan restribusi parkir tersebut akan membebankan pasien terutama keluarga saat mejenguk apalagi harus menginap.
Rahmat juga menyampaikan bahwa pemberlakuan retrbusi parkir di RSUD Mokoyurli secara mendadak meski hal ini baru pada batasan tahap sosialisasi atau uji coba dan gratis belum membayar tiket parkir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
” kami sangat menyayangkan jika pihak manajemen tidak melakukan sosialisasi yang melibatkan masyarakat dan pihak -pihak terkait, sehingga hal ini tidak menjadi bola liar di tengah masyarakat, terlebih ini fasilitas pemerintah yang dihuni oleh masyarakat menengah kebawah dan penuh dengan beban, seharusnya dilakukan sosialisasi terlebih dahulu ataupun menghimpun tanggapan masyarakat terkait harga dan pungutan yang mau di terapkan, minimal memasang spanduk dan baliho depan pagar RSUD,” ungkap Rahmat.
Ia menambahkan, saat ini banyak masyarakat mengeluhkan persoalan ini dan termasuk kami selaku lembaga sangat menyayangkan kebijakan RSUD Buol yang tidak melihat kondisi ekonomi masyarakat saat ini di kabupaten Buol.
Disisi lain menurut Rahmat, tidak ada pembagian wilayah parkir bagi para pengunjung dan masyarakat yang hanya berkunjung dan Inap kendaraan. ” Semua di pukul rata. Tentu ini juga menjadi problem. Karena kasihan masyarakat yang sakit bertambah bebanya,” jelasnya.
Plh Dirut RSUD Buol Sahroni saat dikonfirmasi mengenai persoalan ini menjelaskan kepada awak media bahwa saat ini selama satu bulan ke depan pihaknya belum memungut retribusi parkir, tetapi baru uji coba.
” kita belum pungut biaya, biasakan dulu masyarakat, saya liat sudah banyak komplein, Tolitoli saja sudah lama berlakukan parkir, begitu juga rumah sakit lainnya di luar Buol. Kalau kita tidak memaksimalkan sumber-sumber pendapatan Rumah Sakit, bagaimana ita mau maju, di satu sisi masyarakat menuntut fasilitas rumah sakit yang memadai, nah kita mengelola pendapatan sendiri kalau tidak ada sumber gimana mau perbaikan sarana prasarana.. semoga masyarakat lebih bijak dl menaggapi dan lebih melihat ke daerah-daerah lain diluar Buol, kata Sahroni kepada media ini, Jum’at (7/7) melalui pesan wastapp.
Sahroni yang juga selaku Kabag TUP RSUD Mokoyurli Buol menambahkan, untuk biaya inap atau struk hilang itu nanti di atur selanjutnya lewat SK. hanya karena portalnya by sistem, makanya sudah di cantumkan memang, hanya saja belum diberlakukan pungutannya,” pungkasnya. (ucan)
.
























