Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Di tengah derasnya arus globalisasi, ketika budaya populer dari berbagai penjuru dunia begitu mudah memasuki ruang kehidupan masyarakat, masih ada sekelompok orang yang memilih berdiri teguh menjaga akar budayanya. Mereka tidak melakukannya dengan pidato panjang ataupun slogan yang berlebihan, melainkan melalui tindakan sederhana: mengenakan kain tradisional sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Srikandi IMAKOBA bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Kota Batu di Joglo Sambung Roso bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan. Di balik sehelai kain yang dikenakan, tersimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas bangsa yang telah diwariskan turun-temurun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berkain bukan hanya soal busana. Setiap motif batik, lurik, tenun, hingga songket menyimpan kisah tentang kehidupan, alam, doa, dan harapan masyarakat Nusantara. Ketika seseorang mengenakannya dengan bangga, sesungguhnya ia sedang membawa cerita panjang tentang peradaban Indonesia.
Pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan panggung besar. Ia justru tumbuh dari komunitas-komunitas kecil yang bergerak dengan ketulusan. Dari pertemuan sederhana, lahir kesadaran kolektif bahwa budaya adalah investasi masa depan. Bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah, meskipun memiliki kemajuan teknologi yang tinggi.
Di Kota Batu, gerakan berkain memiliki makna yang lebih luas. Kota yang dikenal sebagai kota wisata membutuhkan keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian budaya. Wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga harus memperlihatkan kekayaan tradisi yang menjadi ruh masyarakatnya.
Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Sejak dahulu, ibu adalah guru pertama yang mengenalkan anak kepada bahasa, adat, dan nilai-nilai kehidupan. Ketika para Srikandi IMAKOBA memilih ikut melestarikan budaya melalui KCBI, sesungguhnya mereka sedang menanamkan benih kecintaan kepada budaya bangsa bagi generasi berikutnya.
Kita patut mengapresiasi setiap gerakan yang menghidupkan kembali kecintaan terhadap budaya lokal. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan warisan leluhurnya, melainkan bangsa yang mampu merawat tradisi sambil terus melangkah menuju masa depan.
Mari berkain, bukan sekadar untuk tampil anggun, tetapi sebagai pernyataan bahwa kita bangga menjadi bagian dari Indonesia. Sebab budaya yang terus dikenakan akan tetap hidup, sedangkan budaya yang hanya disimpan di lemari sejarah perlahan akan dilupakan.
Batu, Juli 2026
Akaha Taufan Aminudin
Ketua SATUPENA Jawa Timur

























