Oleh : Rastono Sumardi
Ufuk Merah di Atas Tunjungan: Gema Proklamasi dan Api Pertama (Agustus – September 1945)
Pada Agustus 1945, udara di Surabaya, seperti di seluruh penjuru negeri, bergetar oleh gema Proklamasi. Kemerdekaan adalah sebuah dekrit yang telah dibacakan, namun kedaulatan adalah sebuah benteng yang belum teruji. Euforia dan kecemasan adalah dua sisi mata uang yang sama di kota pelabuhan yang bergolak ini. Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi bayang-bayang kekuatan asing, baik sisa-sisa Jepang maupun ancaman kembalinya Belanda dengan membonceng Sekutu, masih menggantung laksana awan badai di cakrawala.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Api pertama yang menyulut harga diri kolektif arek-arek Suroboyo berkobar bukan dengan ledakan bom, melainkan dengan selembar kain. Pada 19 September 1945, hanya sebulan setelah proklamasi, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W. V. C. Ploegman mengibarkan bendera triwarna Merah-Putih-Biru di puncak Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit).
Tindakan ini adalah sebuah provokasi visual yang telak. Bagi rakyat Surabaya yang tengah dilanda demam kemerdekaan, bendera itu adalah simbol arogansi kolonial yang menusuk mata dan hati. Massa rakyat dan pemuda segera mengepung hotel. Residen Soedirman, perwakilan resmi pemerintah Indonesia, mencoba jalur diplomasi. Ia masuk ke hotel untuk berunding dengan Ploegman, menuntut agar bendera itu diturunkan demi menghormati kedaulatan Indonesia.
Perundingan itu gagal total. Ploegman dengan angkuh menolak mengakui kedaulatan Republik dan menolak menurunkan bendera. Ketegangan di dalam ruang perundingan meledak menjadi perkelahian fisik. Ploegman tewas, diduga dicekik oleh pengawal Residen Soedirman.
Kegagalan diplomasi di dalam hotel itu adalah pelajaran berharga pertama bagi Surabaya: kedaulatan tidak bisa diminta dengan sopan, ia harus direbut dengan paksa. Di luar, massa yang marah tak terkendali lagi. Beberapa pemuda, didorong oleh gelora patriotisme, memanjat tiang bendera. Dalam sebuah tindakan simbolis yang brilian, mereka tidak menghancurkan bendera Belanda. Mereka merobek bagian biru—warna kerajaan dan aristokrasi—dan mengereknya kembali ke puncak tiang sebagai Sang Saka Merah Putih.
Insiden Hotel Yamato adalah prolog psikologis dari Pertempuran 10 November. Ia menetapkan sebuah preseden berdarah bahwa arek-arek Suroboyo tidak akan mentoleransi satu jengkal pun penghinaan terhadap kemerdekaan mereka. Api telah tersulut.
Sementara itu, di akhir September dan Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah bendera Inggris, Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), mulai mendarat. Dalih resmi mereka adalah untuk melucuti tentara Jepang yang telah kalah perang dan mengurus tawanan perang Sekutu (RAPWI). Namun, di balik seragam Inggris, bersembunyi tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang tidak memiliki tujuan lain selain menegakkan kembali penjajahan Belanda. Rakyat Indonesia, yang awalnya mungkin bersikap netral terhadap Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II, dengan cepat menyadari pengkhianatan ini. Inggris bukan lagi pembebas; mereka adalah fasilitator kembalinya sang tiran lama.
Panggilan dari Tebuireng: Otoritas Resolusi Jihad (Oktober 1945)
Di tengah ketidakpastian politik dan ancaman militer yang kian nyata, para ulama dan kiai di Jawa Timur tidak tinggal diam. Dari bilik-bilik pesantren, mereka membaca tanda-tanda zaman dengan kacamata iman. Ancaman yang datang bukanlah sekadar perebutan kekuasaan politik; ini adalah ancaman eksistensial terhadap kemerdekaan bangsa dan kelangsungan agama.
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) dari Tebuireng, Jombang, bersama para kiai sepuh lainnya seperti KH Wahab Chasbullah, merasakan keresahan umat. Mereka memahami bahwa kemerdekaan yang baru seumur jagung ini harus dipertahankan dengan segala cara.
Pada 21-22 Oktober 1945, para konsul NU se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dari pertemuan bersejarah inilah lahir sebuah dekrit yang akan mengubah jalannya sejarah: Resolusi Jihad.
Resolusi Jihad, yang naskahnya dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat pada 26 Oktober 1945, adalah sebuah mahakarya yurisprudensi Islam (fiqh) yang diterapkan dalam konteks perang kemerdekaan. Isinya tidak main-main. Ia menegaskan:
- Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.
- Pemerintah Republik Indonesia adalah satu-satunya pemerintahan yang sah dan wajib dibela.
- Musuh (Belanda/NICA) yang datang untuk menjajah kembali adalah kaum kafir yang harus dilawan.
- Poin terpenting: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam…) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh.”.
Penetapan hukum fardhu ‘ain (kewajiban individu) adalah kunci strategis dari resolusi ini. Dalam hukum Islam, fardhu kifayah adalah kewajiban kolektif yang gugur jika sudah ada sebagian orang yang melaksanakannya (misalnya, tentara TKR). Namun, fardhu ‘ain berarti kewajiban itu mengikat setiap individu—laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak—tanpa terkecuali. Berdiam diri atau lari dari medan perang dalam radius tersebut adalah dosa besar.
Angka 94 kilometer (atau 90-96 km dalam versi lain) juga bukan angka yang acak. Itu adalah masafat al-qasr, jarak minimal yang membolehkan seorang musafir untuk men-jamak dan meng-qashar salatnya. Dengan menggunakan terminologi fiqh yang sangat dipahami oleh umat, KH Hasyim Asy’ari secara efektif menetapkan “garis depan” pertempuran. Resolusi Jihad mengubah perjuangan politik menjadi perang suci (Jihad Fisabilillah), di mana gugur berarti syahid dan mendapat ganjaran surga.
Dampaknya instan dan luar biasa. Fatwa ini menyebar melalui masjid, musala, dan dari mulut ke mulut. Pesantren-pesantren di Jombang, Mojokerto, Pasuruan, hingga Cirebon mendadak menjadi basecamp militer. Puluhan ribu santri, laskar-laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah, bergerak dalam gelombang besar membanjiri Surabaya. Mereka tidak datang dengan persenjataan modern, banyak yang hanya bersenjatakan bambu runcing, tetapi mereka membawa sesuatu yang lebih kuat: keyakinan spiritual dan kerelaan untuk mati syahid.
Bara Menjadi Api: Tewasnya Mallaby dan Ultimatum 9 November
Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 bukan sekadar seruan moral; ia adalah pemicu langsung pertempuran besar pertama di Surabaya. Pasukan Inggris dari Brigade 49, di bawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, mendarat pada 25 Oktober. Mereka segera bertindak arogan, mengabaikan kesepakatan awal dengan Gubernur Jawa Timur, R.M.T. Ario Soerjo.
Pada 27 Oktober, Inggris menyebarkan pamflet dari udara yang menuntut rakyat menyerahkan senjata. Mereka menyerbu Penjara Kalisosok dan membebaskan para tawanan Belanda. Tindakan ini dianggap sebagai pengkhianatan.
Didorong oleh api Resolusi Jihad yang baru saja dikumandangkan, arek-arek Suroboyo dan laskar santri yang telah membanjiri kota serentak bergerak. Mulai 28 Oktober, pertempuran hebat meletus selama tiga hari. Sekitar 20.000 pasukan TKR dan lebih dari 120.000 milisi rakyat bersenjata mengepung 6.000 pasukan Inggris yang terdesak hebat. Posisi Inggris sangat kritis, berada di ambang kehancuran total.
Situasi begitu genting sehingga pimpinan tertinggi Republik—Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin—terpaksa terbang ke Surabaya pada 29 Oktober untuk menengahi pertempuran. Gencatan senjata yang rapuh pun disepakati.
Namun, bara di Surabaya telanjur terlalu panas. Pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal Mallaby berkeliling kota dengan mobilnya untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata. Ketika ia melintas di dekat Jembatan Merah, di sekitar Gedung Internatio, mobilnya dihadang dan dikepung oleh milisi Indonesia yang masih bergejolak. Terjadi baku tembak yang kacau. Di tengah kekacauan itulah, Mallaby tewas.
Kematian seorang jenderal di medan laga adalah casus belli (alasan perang) yang sempurna bagi Inggris. Meskipun pemerintah Indonesia menyatakan kematian Mallaby adalah kecelakaan dalam baku tembak, pihak Inggris melihatnya sebagai pembunuhan terencana yang biadab. Martabat Imperium Inggris, pemenang Perang Dunia II, telah terinjak-injak oleh “pemberontak” pribumi.
Kemarahan Inggris meledak. Pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, segera menyiapkan pembalasan. Pada 9 November 1945, ia mengeluarkan ultimatum maut yang disebarkan melalui pamflet dari udara.
Isi ultimatum itu adalah penghinaan yang tak terperikan:
- Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri.
- Seluruh senjata yang dimiliki, termasuk senjata rampasan dari Jepang, harus diserahkan kepada Inggris.
- Para pemimpin, pemuda, dan anggota milisi Indonesia harus datang ke tempat-tempat yang telah ditentukan, paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 pagi.
- Mereka harus datang dengan mengangkat tangan di atas kepala dan bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.
Ultimatum ini membakar Surabaya. Secara politik, ini adalah penyerahan kedaulatan yang memalukan. Secara agama, Resolusi Jihad telah mengharamkan mereka untuk menyerah. Gubernur Soeryo, setelah berkonsultasi dengan para komandan TKR dan para kiai, dengan tegas menolak ultimatum tersebut melalui siaran radio. Surabaya memilih untuk melawan.
Suara Tuhan dan Suara Rakyat: Sintesis Bung Tomo dan Para Kiai
Di sinilah, pada titik kritis antara ultimatum yang menghina dan pertempuran yang tak terhindarkan, dua kekuatan besar Revolusi Indonesia—Nasionalisme dan Spiritualitas—menemukan titik sintesisnya yang paling agung.
Kekuatan pertama adalah Resolusi Jihad para ulama, yang telah menyediakan otoritas (hukum agama) dan massa (puluhan ribu laskar santri yang siap mati syahid).
Kekuatan kedua adalah gelora nasionalisme sekuler, yang membutuhkan juru bicara untuk menerjemahkan kemarahan rakyat menjadi pekik perjuangan. Sosok itu adalah Sutomo, alias Bung Tomo.
Bung Tomo adalah seorang jurnalis dan orator ulung yang memahami denyut nadi massa. Ia mendirikan Radio Pemberontakan, yang suaranya menjadi corong utama arek-arek Suroboyo. Bung Tomo bukan sekadar nasionalis biasa; ia adalah jembatan penghubung antara jalanan dan pesantren. Ia memiliki kedekatan personal dengan KH Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya, serta sering berkunjung ke Tebuireng.
Dalam sebuah pertemuan krusial menjelang pertempuran, KH Hasyim Asy’ari memberikan nasihat kunci kepada Bung Tomo, “Agungkan Allah dalam setiap pidatomu”. Nasihat ini meresap ke dalam jiwa Bung Tomo dan menjadi strategi komunikasinya yang paling efektif.
Menanggapi Ultimatum 9 November, Bung Tomo menyiarkan orasinya yang paling legendaris. Pidato itu adalah fusi sempurna antara retorika revolusioner dan spiritualitas jihad:
“Bismillahirrohmanirrohim… Merdeka!!!”
Ia membuka dengan Basmallah, sebuah sapaan yang langsung menyentuh hati puluhan ribu laskar santri yang mendengarkannya.
“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.”
Ini adalah pekik nasionalisme yang murni, menantang ultimatum musuh dengan taruhan darah.
“Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!”
Inilah terjemahan bebas dari Resolusi Jihad ke dalam bahasa rakyat. Mati adalah pilihan yang lebih terhormat daripada hidup terjajah.
“Dan kita yakin, Saudara-udara, bahwa pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh di tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.”
Ia menanamkan keyakinan teologis, menegaskan bahwa perjuangan mereka direstui oleh Tuhan. Dan ia menutupnya dengan pekik yang menyatukan segalanya:
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!”
Teriakan takbir ini bukan sekadar slogan. Itu adalah strategi sadar untuk “menarik atensi umat Islam” dan mengikat laskar santri (yang bertempur atas dasar fatwa) dengan pemuda nasionalis dan TKR (yang bertempur atas dasar ideologi).
Inilah sintesis agung itu: Resolusi Jihad adalah mesin yang menggerakkan puluhan ribu massa untuk siap mati. Pidato Bung Tomo adalah corong yang menyatukan energi spiritual itu dengan energi nasionalis, mengubahnya menjadi satu gelombang perlawanan rakyat semesta (total people’s war).
Tiga Minggu di Gerbang Neraka: Pertempuran 10 November
Tepat pukul 06.00 pagi, 10 November 1945, saat batas akhir ultimatum terlewati, langit Surabaya terbelah.
Inggris menepati ancamannya. Gempuran masif dilancarkan dari tiga arah: artileri darat, tembakan meriam dari kapal-kapal perang di pelabuhan, dan bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur. Jenderal Mansergh mengerahkan kekuatan penuh, yakin bahwa perlawanan “para ekstremis” ini akan dipatahkan dalam tiga hari.
Inggris salah besar. Pertempuran yang mereka hadapi adalah pertempuran yang asimetris, bukan hanya dalam persenjataan, tetapi juga dalam keyakinan.
Perbandingan Kekuatan di Medan Surabaya (Estimasi)
| Pihak | Kekuatan | Persenjataan |
| Sekutu (Inggris) | 20.000 – 30.000 pasukan infanteri (Divisi Infanteri India ke-5 & 23) | Persenjataan modern: Tank Sherman, Artileri berat, Kapal Perang (Cruiser & Destroyer), Pesawat tempur Mosquito |
| Indonesia | 20.000 pasukan TKR + 100.000 hingga 140.000 relawan (Laskar Santri Hizbullah/Sabilillah, BPRI, Pemuda) | Senjata ringan rampasan Jepang, senapan mesin, mortir, dan tekad syahid dengan bambu runcing |
Secara material, Indonesia seharusnya luluh lantak dalam hitungan jam. Namun, pertempuran brutal itu berlangsung tidak tiga hari, melainkan tiga minggu penuh.
Surabaya seketika berubah menjadi “neraka”. Ini adalah perang kota (urban warfare) pertama dan terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional. Inggris tidak melawan tentara reguler yang terorganisir; mereka melawan seluruh rakyat. Mereka melawan puluhan ribu santri yang meyakini fatwa fardhu ‘ain dan secara harfiah mencari kematian sebagai syuhada.
Setiap gang, setiap rumah, dan setiap jengkal tanah dipertahankan hingga tetes darah penghabisan. Kegigihan yang didasari keyakinan spiritual inilah yang tidak pernah diperhitungkan oleh para jenderal Inggris. Perlawanan rakyat yang fanatik dan tidak takut mati ini mengejutkan Sekutu dan seluruh dunia.
Warisan Abadi: Kekalahan Taktis, Kemenangan Strategis
Setelah tiga minggu pertempuran brutal, kota Surabaya akhirnya jatuh ke tangan Inggris. Secara taktis, ini adalah sebuah kekalahan.
Harga yang dibayar untuk perlawanan ini luar biasa mahal. Diperkirakan 6.300 hingga 20.000 pejuang dan rakyat sipil Indonesia gugur. Lebih dari 150.000 orang terpaksa mengungsi meninggalkan kota mereka yang telah menjadi puing. Di pihak Inggris, mereka menderita kerugian besar yang tak terduga, dengan sekitar 1.600 hingga 2.000 tentara tewas, terluka, atau hilang.
Namun, di balik kehancuran taktis itu, Indonesia meraih sebuah kemenangan strategis yang tak ternilai harganya.
Pertama, Kemenangan Strategis Internal. Pertempuran Surabaya adalah “baptisan api” bagi bangsa yang baru lahir. Perlawanan heroik arek-arek Suroboyo membangkitkan gelombang “semangat nasionalisme”, “meningkatkan kepercayaan diri”, dan “memperkuat solidaritas” di seluruh nusantara. Berita perlawanan ini menyebar dan memicu perlawanan serupa di berbagai daerah. 10 November 1945 membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang direbut dengan darah dan pengorbanan kolektif.
Kedua, Kemenangan Strategis Diplomatik. Ini adalah kemenangan yang paling fundamental. Sebelum 10 November, dunia internasional dan PBB masih memandang Republik Indonesia sebagai “ciptaan Jepang” atau sekadar gerombolan “ekstremis”. Belanda terus melobi bahwa mereka datang untuk memulihkan ketertiban.
Pertempuran Surabaya menghancurkan narasi tersebut. Dunia melihat bahwa sebuah kekuatan militer modern, pemenang Perang Dunia II, harus bertempur habis-habisan selama tiga minggu dan kehilangan ribuan tentara hanya untuk merebut satu kota. Dunia melihat bahwa bangsa ini rela “hancur lebur” demi kemerdekaan. Peristiwa ini mengguncang opini internasional dan menunjukkan legitimasi perjuangan Indonesia. Pertempuran ini memperkuat posisi tawar para diplomat Indonesia di forum-forum internasional, seperti PBB, dalam perjuangan panjang meraih pengakuan kedaulatan.
Untuk mengenang pengorbanan tanpa pamrih yang mengubah jalannya sejarah itu, Presiden Soekarno, melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, menetapkan tanggal 10 November secara resmi sebagai Hari Pahlawan. Kota Surabaya selamanya dikenang dengan julukan agung: “Kota Pahlawan”.
Hari Pahlawan, oleh karena itu, bukanlah sekadar peringatan atas sebuah pertempuran. Ia adalah monumen abadi bagi sebuah sintesis agung. Ia adalah bukti bahwa Republik Indonesia ditempa oleh dua pilar yang tak terpisahkan: Nasionalisme yang berkobar dalam pekik “Merdeka atau Mati!” dan Spiritualitas yang mengakar dalam takbir “Allahu Akbar!”. Ia adalah titik temu antara semangat arek Suroboyo di jalanan dan keyakinan santri Tebuireng di bilik pesantren; antara retorika api Bung Tomo dan fatwa suci KH Hasyim Asy’ari.
Daftar Pustaka
- com. (2025). Resolusi Jihad, Penggerak Santri dan Rakyat di Pertempuran 10 November 1945. Diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5805787/resolusi-jihad-penggerak-santri-dan-rakyat-di-pertempuran-10-november-1945
- com. (2025). Sejarah Hari Pahlawan: Mengapa Tepat 10 November Diperingati. Diakses dari https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8201904/sejarah-hari-pahlawan-mengapa-tepat-10-november-diperingati
- net. (2025). Elegi 10 November dan Resolusi Jihad yang Terlupakan. Diakses dari https://jejakislam.net/elegi-10-november-dan-resolusi-jihad-yang-terdilupakan/
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Resolusi Jihad, dari 10 November 1945 hingga 22 Oktober 2015. Diakses dari https://kemenag.go.id/opini/resolusi-jihad-dari-10-november-1945-hingga-22-oktober-2015-gbXIR
- com. (2023). 7 Dampak Pertempuran Surabaya dari Sisi Negatif dan Positif. Diakses dari https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/7-dampak-pertempuran-surabaya-dari-sisi-negatif-dan-positif-21XdpYkmL8S
- com. (2025). Kronologi Pertempuran Surabaya 1945: Cikal Bakal Hari Pahlawan. Diakses dari https://www.metrotvnews.com/read/bw6Cgmq0-kronologi-pertempuran-surabaya-1945-cikal-bakal-hari-pahlawan
- online. (2025). Teks Resolusi Jihad. Diakses dari https://tebuireng.online/teks-resolusi-jihad/
- co. (2025). Pertempuran 10 November dan Kisah Kedekatan Bung Tomo dengan KH Hasyim Asy’ari. Diakses dari https://www.tempo.co/hukum/pertempuran-10-november-dan-kisah-kedekatan-bung-tomo-dengan-kh-hasyim-asy-ari-258985
- id. (2025). Pesan Pidato Bung Tomo 10 November 1945: Teks dan Isi Orasi. Diakses dari https://tirto.id/pesan-pidato-bung-tomo-10-november-1945-teks-dan-isi-orasi-gylP
- (2025). Insiden Hotel Yamato. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Insiden_Hotel_Yamato
























