Oleh: Rastono Sumardi
Pulau Sumatera sedang tidak baik-baik saja. Di penghujung November, wilayah barat Indonesia ini “tenggelam” dalam salah satu bencana hidrometeorologi terparah dalam satu dekade terakhir. Banjir bandang dan tanah longsor menghantam tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menyisakan duka mendalam dengan ratusan korban jiwa dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal.
Namun, menyebut peristiwa ini semata-mata sebagai “bencana alam” adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya. Data dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Sumatera adalah sebuah bencana ekologis; sebuah tragedi buatan manusia yang “diledakkan” oleh pemicu cuaca ekstrem.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anomali Cuaca sebagai Pemicu
Secara meteorologis, pemicu langsung bencana ini tak terbantahkan. Kehadiran Siklon Tropis Senyar di sekitar perairan Selat Malaka menciptakan pola cuaca ekstrem. Siklon ini menarik massa uap air yang masif, menyebabkan hujan dengan intensitas sangat tinggi (di atas 150 mm/hari) mengguyur wilayah pegunungan Bukit Barisan tanpa henti selama berhari-hari.
Namun, hujan deras hanyalah pemantik. Dalam kondisi lingkungan yang sehat, hutan tropis Sumatera seharusnya mampu menyerap dan menahan laju air tersebut. Mengapa kali ini pertahanan alam itu jebol begitu hebat?
Runtuhnya Benteng Alam: Analisis Kerusakan Lingkungan
Analisis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan temuan lapangan menunjuk pada satu kesimpulan mengerikan: Daya dukung lingkungan di wilayah hulu telah runtuh.
1. Tragedi di Ekosistem Batang Toru
Di Sumatera Utara, sorotan utama tertuju pada kawasan Tapanuli (Tapanuli Selatan, Tengah, dan Utara). Banjir bandang di sini membawa material lumpur pekat dan gelondongan kayu besar—tanda nyata adanya pembukaan hutan di hulu.
Alih Fungsi Lahan: Citra satelit menunjukkan deforestasi masif di Ekosistem Batang Toru. Hutan alam yang berfungsi sebagai “spons” raksasa penahan air telah berubah menjadi area pertambangan dan perkebunan monokultur.
Aktivitas Tambang: WALHI Sumut menyoroti aktivitas pertambangan (termasuk tambang emas) dan pembukaan lahan untuk infrastruktur energi di kawasan sensitif ini sebagai biang keladi rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan DAS Nabirong. Tanah yang kehilangan tutupan pohon menjadi labil dan mudah longsor saat diguyur hujan.
2. Kritisnya DAS di Sumatera Barat
Di Sumatera Barat, fenomena “galodo” (banjir bandang lahar dingin/lumpur) yang menghantam Agam dan Tanah Datar kembali terulang. Analisis menunjukkan bahwa hulu sungai di kaki Gunung Marapi dan Singgalang telah mengalami degradasi parah.
Penyempitan dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi membuat air tak lagi memiliki jalan. Ketika debit air melonjak, ia meluap dengan daya rusak tinggi, menyapu pemukiman yang ironisnya banyak dibangun di zona merah bantaran sungai.
Data Dampak: Statistik Kepedihan
Hingga 29 November 2025, data BNPB mencatat angka yang mengguncang kemanusiaan:
Korban Jiwa: Lebih dari 174 orang meninggal dunia (terbanyak di Sumut dan Sumbar), dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang tertimbun material longsor.
Pengungsi: Ribuan Kepala Keluarga (KK) di Aceh, Sumut, dan Sumbar terpaksa hidup di pengungsian darurat.
Infrastruktur: Jalan Nasional lintas provinsi putus total di beberapa titik, jembatan strategis runtuh, dan ribuan hektar sawah “puso” (gagal panen) tertimbun lumpur, mengancam ketahanan pangan lokal dalam bulan-bulan ke depan.
Refleksi: Sebuah Peringatan Keras
Bencana Sumatera November 2025 bukanlah kejadian acak. Ini adalah akumulasi dari kebijakan tata ruang yang abai terhadap kelestarian lingkungan selama bertahun-tahun. Presiden Prabowo Subianto sendiri menyebut kejadian ini sebagai “alarm keras kerusakan lingkungan”.
Jika deforestasi di hulu tidak dihentikan, jika izin tambang di kawasan rawan bencana terus diobral, dan jika restorasi DAS hanya sebatas wacana, maka banjir Sumatera 2025 hanya akan menjadi pembuka bagi bencana-bencana yang lebih besar di masa depan.
Alam telah berbicara dengan caranya yang paling keras. Pertanyaannya sekarang: Apakah kita mau mendengar?
























