AIR MATA DI PUNGGUNG ANDALAS

Sabtu, 29 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Sebuah Puisi Esai)

Karya: Rastono Sumardi

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1.  Langit yang Tak Mau Diam

 

Di penghujung November,

langit Sumatera tak lagi biru.

Ia kelabu, tebal, dan marah.

Sudah tiga hari hujan tak henti memukul atap seng rumah Pak Harun,

Seolah mengetuk pintu takdir yang tak ingin dibukanya.

 

Di selat Malaka, angin berputar bernama Senyar,

Di Laut Sulu, badai menari bernama Koto.

Dua raksasa itu meniupkan awan hitam,

Membuat pulau emas ini basah hingga ke tulang sumsumnya.

 

Pak Harun menatap bukit di belakang rumahnya di Tapanuli.

Dulu bukit itu hijau memeluk,

Kini tanahnya gembur, cokelat, dan rapuh.

“Tanah ini lelah,” bisiknya lirih.

Lalu terdengarlah gemuruh itu.

Bukan suara petir, tapi suara bumi yang runtuh.

 

2. Jerit dari Tiga Penjuru

Berita datang silih berganti lewat radio tua yang sinyalnya timbul tenggelam.

Di Sumatera Utara, duka itu paling pekat.

Seratus enam belas nyawa melayang ditelan lumpur.

 

Di Sibolga, di Deli Serdang, tangis ibu-ibu pecah membelah gerimis.

Pak Harun mendengar kabar tetangganya,

Empat puluh dua orang masih dicari, entah tertimbun di mana.

Hanya helikopter yang bisa menembus kabut,

Mencoba menjemput mereka yang terputus jalan daratnya.

 

Kita bergeser ke Aceh, Serambi Mekkah yang sedang diuji ganda.

Belum kering air mata karena banjir, bumi berguncang hebat.

Gempa enam koma tiga skala richter meretakkan dinding harapan.

 

Di sana, tiga puluh lima jasad telah dimakamkan, Sementara tiang-tiang komunikasi roboh, membuat tujuh ratusan menara bisu,

Tak ada sinyal untuk mengirim kabar rindu atau minta tolong.

 

Lalu di Ranah Minang, Sumatera Barat.

Tanah Datar dan Agam kembali menangis.

Dua puluh tiga orang pulang ke Rahmatullah,

Diseret arus sungai yang meluap karena drainase tersumbat serakah manusia.

 

3. Nasehat Tanah yang Luka

 

Seorang relawan muda menyeka keringat bercampur lumpur di wajahnya.

Ia melihat ribuan tenda pengungsi berjajar.

Dua belas ribu lima ratus kepala keluarga kini tak beratap.

 

Ia mencatat dalam buku kecilnya, bukan hanya angka, tapi sebuah tanya: “Mengapa kita baru sadar saat tanah ini marah?”

Bencana ini bukan sekadar takdir Tuhan semata,

Tapi juga cermin dari ulah kita.

Lihatlah lereng-lereng curam yang digunduli,

Pohon-pohon raksasa diganti beton yang tak bisa minum air.

Tanah lapukan yang tebal itu tak lagi punya akar pengikat.

 

Kita membangun rumah di bibir jurang tanpa penguat,

Kita menyumbat aliran air dengan sampah dan ego.

Wahai anak cucu Adam di tanah Andalas,

Dengarlah nasehat dari lumpur yang kini menimbun jalanan.

 

Alam bukan warisan yang bisa kita habiskan,

Ia adalah titipan yang harus kita jaga.

Saat hutan hilang, air tak lagi punya rumah,

Maka ia akan masuk ke rumah-rumah kita,

Mengambil paksa apa yang seharusnya jadi miliknya.

 

4. Doa dalam Pemulihan

Kini, seragam oranye, loreng, dan cokelat bersatu di lumpur.

Membuka jalan, menyingkirkan batang pohon tumbang.

Di balik duka yang menyelimuti 174 makam baru,

Masih ada harapan yang menyala.

 

Mari kita bangun kembali,

bukan hanya tembok rumah,

Tapi juga kesadaran baru.

Bahwa hidup selaras dengan alam adalah satu-satunya jalan selamat.

Agar kelak, hujan di bulan November Tak lagi membawa air mata,

Tapi membawa berkah bagi bumi yang kita cinta.

 

Catatan Kaki (Fakta dan Data):

  1. Siklon Tropis Senyar & Koto: Bencana hidrometeorologi di Sumatera pada akhir November 2025 dipicu oleh Hujan Ekstrem (21-23 November) dan keberadaan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka serta Siklon Tropis Koto di Laut Sulu yang memicu pertumbuhan awan hujan lebat.
  2. Korban Jiwa Sumatera Utara: Data BNPB per 28 November 2025 mencatat dampak terparah terjadi di Sumatera Utara dengan 116 orang meninggal dunia dan 42 orang masih dinyatakan hilang.
  3. Kendala Evakuasi: Tim gabungan (BNPB, TNI, Polri, Basarnas) menghadapi kendala akses darat yang terputus total akibat longsor, sehingga evakuasi dan distribusi logistik ke daerah terisolir terpaksa menggunakan helikopter.
  4. Duka Berganda di Aceh: Selain banjir dan longsor, Provinsi Aceh juga diguncang gempa bumi bermagnitudo 6,3 pada 27 November 2025, menambah kerusakan bangunan dan situasi krisis di wilayah tersebut.
  5. Gangguan Komunikasi: Bencana menyebabkan 799 site komunikasi lumpuh total di wilayah Aceh, menghambat koordinasi dan komunikasi warga. Korban jiwa di Aceh tercatat 35 orang meninggal dan 25 hilang.
  6. Penyebab Lingkungan & Korban Sumbar: Di Sumatera Barat, tercatat 23 orang meninggal. Analisis menunjukkan faktor lingkungan seperti penggundulan hutan, alih fungsi lahan, dan drainase buruk memperparah dampak hujan ekstrem.
  7. Total Pengungsi: Total warga yang harus mengungsi di ketiga provinsi mencapai 12.546 Kepala Keluarga (KK), dengan rincian Aceh (4.846 KK), Sumbar (3.900 KK), dan Sumut (3.840 KK).
  8. Faktor Geologis: Faktor geologis seperti tanah lapukan yang tebal dan gembur serta pembangunan pemukiman di lereng curam tanpa penguatan memadai menjadi pemicu utama tanah longsor.
  9. Operasi Tanggap Darurat: Pemerintah melalui BNPB, TNI, Polri, dan Basarnas melakukan operasi terpusat meliputi pencarian, evakuasi, pembukaan akses jalan, dan dukungan logistik.
  10. Total Korban Meninggal: Akumulasi total korban meninggal dunia di tiga provinsi (Sumut, Aceh, Sumbar) per data 28 November 2025 adalah 174 orang.

 

Berita Terkait

Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan
Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan
UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif
Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa
Hut ke 62 Sulteng Wabup Banggai Furqanuddin Berikan Komitmen Perkuat Sinergi Provinsi dan Daerah
Resmikan Desa Persiapan Mekar Mulya Bupati Amirudin Tekankan Agar Pemerataan Pelayanan
Bupati Banggai Amirudin Langsung Jemput MenDes PDT Yandri Susanto di Bandara SAA
Kapolda Sulteng Dukung Program MBG Sekaligus Resmikan Gedung SPPG Polres Banggai

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 22:55 WITA

Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan

Kamis, 16 April 2026 - 13:51 WITA

UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif

Senin, 13 April 2026 - 22:02 WITA

Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa

Senin, 13 April 2026 - 21:47 WITA

Hut ke 62 Sulteng Wabup Banggai Furqanuddin Berikan Komitmen Perkuat Sinergi Provinsi dan Daerah

Minggu, 12 April 2026 - 21:54 WITA

Resmikan Desa Persiapan Mekar Mulya Bupati Amirudin Tekankan Agar Pemerataan Pelayanan

Berita Terbaru